Suara.com - Masa tunggu untuk mendapatkan mobil baru di Australia sekarang melebihi 12 bulan, akibat masalah pasokan global yang ditimbulkan invasi Rusia ke Ukraina yang turut menaikan harga mobil bekas dan baru.
Direktur Eksekutif Asosiasi Dealer Otomotif Australia James Voortman mengatakan masa tunggu untuk mendapatkan beberapa merek dan model mobil yang populer sekarang sekitar 12 bulan atau lebih.
"Ini situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya," kata Voortman.
Manajer umum dealer Toyota di Phillip, Canberra, Amir Hayati mengatakan sebelum masa pandemi, masa tunggu untuk mendapatkan sebuah mobil baru adalah sekitar empat bulan.
"Namun sekarang sudah berubah menjadi lebih panjang lagi yaitu 12 bulan," katanya.
Alasan utama masa tunggu yang lama bagi produksi mobil baru adalah langkanya ketersediaan semi konduktor.
Mobil modern sekarang ini memerlukan ratusan komponen tersebut yang bekerja seperti komputer kecil yang menghubungkan berbagai bagian dari mobil sehingga bisa berfungsi dengan baik.
"Ini masalah yang dihadapi oleh semua pasar dan semua merek mobil di dunia," kata Voortman.
Bulan Februari lalu Toyota mengumumkan akan mengurangi produksi mobil sebanyak 150 ribu kendaraan.
Baca Juga: Berikut Daftar Warna Paling Banyak Dicari Saat Membeli Mobil Baru
General Motors, Ford, Kia dan Opel adalah merek-merek mobil lain yang sudah mengumumkan juga pengurangan produksi karena kurangnya produksi semi konduktor tersebut.
Perusahaan pembuat mobil asal Prancis Peugeot sudah mengubah speedometer mobil buatan mereka kembali menggunakan model lama, dari pada menggunakan unit digital karena tidak tersedianya semi konduktor.
"Berbagai perusahaan pembuat mobil harus menghentikan produksi mereka, atau paling tidak menurunkan kapasitas karena mereka tidak bisa mendapatkan bahan dasar yang mereka perlukan," kata ekonom kepala KPMG Sarah Hunter.
Sarah Hunter mengatakan persoalan dimulai ketika berbagai perusahaan mobil ini mengurangi permintaan pasokan semi konduktor di awal pandemi karena memperkirakan permintaan pembelian mobil akan menurun.
"Perusahaan pembuat chip komputer ini kemudian mengalihkan produksi mereka untuk membuat chip yang digunakan di bidang elektronik, di mana permintaan barang-barang elektronik ini sangat tinggi," katanya.
"Dan sekarang perusahaan pembuat mobil harus antre dengan permintaan mereka. Namun sampai sekarang produksinya belum memenuhi semua permintaan."
Tag
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- 5 Pilihan Sepatu Running Lokal Rp100 Ribuan, Murah tapi Kualitas Bukan Kaleng-Kaleng
- Promo Alfamart Hari Ini 2 Mei 2026, Menang Banyak Diskon hingga 60 Persen Kebutuhan Harian
- 5 Cushion Waterproof dan Tahan Lama, Makeup Awet Seharian di Cuaca Panas
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Mencerahkan Wajah, Cukup 3 Langkah Praktis Murah Meriah!
Pilihan
-
Kapal Perang AS Dihantam 2 Rudal karena Coba Masuk Selat Hormuz, Klaim Iran
-
Teror di London: Penembakan Brutal dari Dalam Mobil, 4 Orang Jadi Korban
-
RESMI! Klub Milik Prabowo Subianto Promosi ke Super League
-
Dibayar Rp50 Ribu Sebulan, Guru Ngaji di Kampung Tak Terjamah Sistem Pendidikan
-
10 Spot Wisata Paling Hits di Solo 2026: Paduan Sempurna Budaya, Estetika, dan Gaya Hidup Modern!
Terkini
-
DKBN Batal Dibentuk, Pemerintah Bentuk Satgas PHK Dipimpin Menteri Senior
-
Viral Buruh Teriak Tidak Soal Makan Bergizi Gratis, Ini Penjelasan Lengkap KSPSI
-
Jakarta Darurat Sampah: Pemprov DKI Percepat Pembangunan PSEL untuk Kurangi Beban Bantargebang
-
Jakarta Selatan Mulai Tergenang Banjir, Layanan Transjakarta Pangkas Rute
-
Siap Lawan Sikap Rasis, Habib Rizieq Ingatkan Prabowo Yaman Bukan Musuh
-
Kapal Perang AS Dihantam 2 Rudal karena Coba Masuk Selat Hormuz, Klaim Iran
-
Pembacokan Mengerikan di Cengkareng, Karyawan Pabrik Roti Tewas Bersimbah Darah
-
Kisah Cindy Wanner, Kematian Paling Misterius di California Hingga 30 Tahun Tak Terpecahkan
-
Habib Rizieq Sorot Pernyataan Prabowo soal Yaman, Sebut Terpengaruh 'Jenderal Baliho'
-
Merz Sebut Kebijakan Donald Trump 'Pukulan Telak', Jerman Tetap Upayakan Damai Dagang