Suara.com - Jika di Indonesia punya Jenderal Hoegeng sebagai sosok polisi jujur, maka di Thailand ada Mayor Jenderal Paween Pongsirin. Kalaupun tak dibilang jujur, atribut Paween sebagai sosok polisi berdedikasi bisa tergambar dari jalan hidupnya sampai saat ini.
Lantas siapakah Paween Pongsirin?
Menyitat media lokal Thailand, Thairath, Paween Pongsirin adalah polisi berpangkat Mayor Jenderal. Rekam jejaknya sebagai penyidik amat disegani. Ia bahkan dikenal sebagai polisi yang kerap membongkar kasus-kasus mafia di negaranya, khususnya Thailand bagian selatan.
Sejumlah kasus besar pernah Paween pecahkan, seperti pembunuhan lima anggota keluarga di Provinsi Songkla pada 1997. Lalu ada kasus pembunuhan perempuan Swedia di Phuket tahun 2008 dan kasus mafia taksi di Phuket tahun 2013.
Hingga pada 2015, Paween berhadapan dengan sebuah kasus besar yang bakal mengubah jalan hidupnya, yang bisa jadi tak pernah terpikirkannya. Kasus tersebut adalah kasus pedagangan pengungsi muslim Rohingya.
Penemuan 30 Kuburan Massal
Berawal pada Mei 2015, publik Thailand digegerkan dengan penemuan 30 kuburan massal di sepanjang perbatasan Thailand dengan Malaysia. Lokasinya berada di Thailand Selatan.
Makam-makam tersebut ditemukan berada di lokasi kamp-kamp di mana para korban, khususnya dari kelompok minoritas Muslim Rohingya Myanmar dan Bangladesh ditahan dalam kondisi amat mengerikan.
Banyak dari mereka ditahan dan menunggu kedatangan kerabatnya dengan membawa tebusan supaya bebas dari penyekapan.
Baca Juga: Soal Pemindahan Pengungsi Rohingya dari Bireuen, UNHCR Tunggu Keputusan Akhir
Dengan reputasinya yang mentereng mengungkap kasus mafia, Jenderal Polisi Paween Pongsirin akhirnya ditunjuk untuk memimpin penyelidikan atas temuan di perbatasan Thailand-Malaysia itu.
Dilansir dari AFP pada 2015 lalu, Sudah sejak lama Thailand dikenal sebagai pusat kegiatan utama perdagangan manusia dan penyelundupan manusia. Bahkan kelompok-kelompok hak asasi manusia kerap menuding para pejabat setempat telah tutup mata terhadap industri ilegal bernilai jutaan dolar AS itu, bahkan ada yang diduga kuat terlibat di dalamnya.
Masih menurut laporan AFP, para pejabat Thailand dituding mendalangi rute penyelundupan melalui bagian selatan menuju Malaysia.
Tangkap Jenderal Militer Thailand Dan 100 Lebih Tersangka
Kembali ke cerita Paween Pongsirin, setelah resmi ditunjuk memimpin penyelidikan, ia langsung bekerja menelusuri segala petunjuk untuk membongkar kasus besar yang dihadapinya itu.
Selama kurang lebih lima bulan melakukan penyelidikan, Paween bekerja tanpa pandang bulu. Tak hanya warga sipil yang ditangkap dan jadi tersangka, sejumlah aparat polisi hingga tentara ikut disikat karena diduga kuat terlibat dalam kasus perdagangan manusia itu.
Satu tokoh utama dalam kasusnya adalah Letnan Jenderal Manas Kongpan. Menurut laporan BBC pada 2017, ia menjadi perwira paling tinggi yang diadili bersama sekitar 100 lebih terdakwa lainnya, termasuk beberapa aparat polisi di Ibu Kota Bangkok.
Dakwaan yang dihadapi para terdakwa itu cukup pelik. Mulai dari penculikan, pembunuhan hingga pemerkosaan.
Belakangan diketahui, Letnan Jenderal Manas Kongpan meninggal dunia di penjara pada 2 Juni 2021. Meski disebut karena serangan jantung, meninggalnya sang jenderal terdakwa kasus perdagangan manusia ini memantik kecurigaan.
Kabur Dan Minta Suaka Ke Australia
Meski berhasil membongkar kasus mafia perdagangan manusia di negaranya, tantangan yang dihadapi Jenderal Paween justru makin besar. Diduga banyak petinggi, pejabat di negerinya yang tak suka akan sepak terjangnya.
Merasa tak ada yang melindungi, Paween memilih 'kabur' ke Australia melarikan diri dari negerinya sendiri. Menurut laporan AFP 2015 lalu, Paween mengaku khawatir atas keselamatan nyawanya karena ada pejabat-pejabat senior terlibat dalam kasus perdagangan manusia yang ia usut.
“Saya meminta suaka karena tinggal di Thailand untuk saat ini sangat berbahaya. Saya mengkhawatirkan keselamatan diri karena kasus perdagangan manusia ini. Selama saya bekerja, saya mendapat ancaman dan semakin hari semakin buruk,” ujar Paween kepada AFP, Kamis (10/12/2015), setelah tiba di Melbourne, pada awal pekan ini dengan menggunaan visa wisatawan.
Dia menambahkan bahwa dirinya lebih memilih untuk mengundurkan diri dari kepolisian ketimbang menerima jabatan baru karena diduga telah menerima ancaman kematian atas nyawanya.
“Tak ada yang bisa melindungi saya sekarang. Tak ada simpati ataupun belas kasihan dari para bos saya kepada saya,” tambah Paween.
Kasus Paween Mencuat Lagi Di 2022
Setelah enam tahun berlalu, tepatnya pada Februari 2022, kasus Paween dan perdagangan manusia kembali mencuat di Thailand. Publik Negeri Gajah Putih itu kembali ramai akan kasus yang sempat bikin geger 2015 lalu.
Adalah Rangsiman Rome, salah satu anggota parlemen di Thailand yang mengangkat kasus Paween Pongsirin dalam sebuah debat di parlemen.
Menyadur laman Bangkok Post, Rangsiman Rome menyoroti kasus perdagangan manusia yang dulu diusut oleh Jenderal Paween hingga ia memilih kabur ke Australia.
Dalam debat tersebut, Rangsiman mengklaim bahwa Paween berada di bawah tekanan dari pejabat polisi dan militer Thailand, karena penyelidikannya membawanya ke Letnan Jenderal Manas Kongpan, seorang penasihat militer berpangkat tinggi untuk pemerintah.
Letnan Jenderal Manas dijatuhi hukuman penjara 27 tahun, kemudian ditingkatkan menjadi 82 tahun, karena perannya dalam perdagangan migran Rohingya. Dia dinyatakan meninggal karena serangan jantung di Rumah Sakit Pemasyarakatan Medis pada Juni tahun lalu saat menjalani hukuman penjara.
Dalam debat itu, Rangsiman dengan menggebu-gebu mempertanyakan langsung kepada Perdana Menteri Prayut Chan-o-cha.
Meski tak spesifik memberikan tanggapan soal kasus Paween, Prayut yang seorang jenderal bersikeras bahwa pemerintah Thailand tetap berkomitmen pada janjinya untuk mengatasi perdagangan manusia, penangkapan ikan ilegal dan korupsi.
Jadi Tukang Pasang Jok
Dalam sebuah tayangan channel YouTube yang membahas kasus perdagangan manusia di Thailand. Jenderal Paween disebut kini tinggal di Australia.
Sosok Paween yang disebut sebagai jenderal berhati baja beberapa kali diwawancari media internasional maupun lokal di Australia.
Ia juga disebut tak lagi berprofesi sebagai polisi. Di negeri Kanguru, Paween yang sebelumnya seorang jenderal polisi, kini bekerja sebagai tukang pasang jok mobil.
Tag
Berita Terkait
-
Pengungsi Rohingya di Aceh Tinggal 155 Orang
-
Soal Pemindahan Pengungsi Rohingya dari Bireuen, UNHCR Tunggu Keputusan Akhir
-
Ratusan Pengungsi Rohingya di Aceh Bakal Dipindah ke Pekanbaru
-
Resmi, Pemerintah Amerika Nyatakan Myanmar Lakukan Genosida Terhadap Minoritas Rohingya
-
Terdampar di Pesisir, Seratusan Imigran Rohingya Masih Menghuni Tenda Darurat di Aceh
Terpopuler
- Teman Sentil Taqy Malik Ambil Untung Besar dari Wakaf Alquran di Tanah Suci: Jangan Serakah!
- Biar Terlihat Muda Pakai Lipstik Warna Apa? Ini 5 Pilihan Shade yang Cocok
- Link Download 40 Poster Ramadhan 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Edit
- 7 HP Flagship Terkencang Versi AnTuTu Februari 2026, Jagoannya Gamer dan Multitasker
- Kenapa Pajak Kendaraan Jateng Naik, tapi Jogja Tidak? Ini Penjelasannya
Pilihan
-
Jangan ke Petak Sembilan Dulu, 7 Spot Perayaan Imlek di Jakarta Lebih Meriah & Anti Mainstream
-
Opsen Pajak Bikin Resah, Beban Baru Pemilik Motor dan Mobil di Jateng
-
Here We Go! Putra Saparua Susul Tijjani Reijnders Main di Premier League
-
Kabar Baik dari Elkan Baggott untuk Timnas Indonesia
-
Jaminan Kesehatan Dicabut, Ribuan Warga Miskin Magelang Tercekik Cemas: Bagaimana Jika Saya Sakit?
Terkini
-
Meutia Hatta Soroti Bocah Bunuh Diri di NTT, Minta Istri Pejabat Ikut Ingatkan Pemerintah
-
Nilai Kondisi Pola Asuh Anak Sedang Rapuh, Menteri PPPA Sebut Kekuatan Keluarga Jadi Pondasi Negara
-
Mengintip Suasana Ramadan Komunitas Islam Syiah di Pejaten
-
Jokowi Mau UU KPK Dikembalikan ke Versi Lama, Boyamin MAKI: Jangan Cari Muka!
-
Viral Bus Transjakarta Berasap hingga Keluar Cairan Hijau di Halte Pancoran, 59 Armada Diperiksa
-
Masjid Jogokariyan Siapkan 3.800 Porsi Buka Puasa, Jadi Ajang Lomba Kebaikan Ibu-ibu Saat Ramadan
-
Tembok Pagar Setinggi 5 Meter Roboh Timpa Pelataran SMPN 182 Jaksel, Diduga Akibat Tanah Labil
-
Hujan Deras Dini Hari Picu Banjir di Rowosari dan Meteseh: 110 KK Terdampak
-
Senayan Respons Pernyataan Jokowi Soal Revisi UU KPK Adalah Inisiatif DPR: Tidak Tepat!
-
Kapolres Bima Terjerat Narkoba, Ketua Komisi III DPR Dukung Penuh Polri: Tunjukkan Ketegasan!