Suara.com - Sekretaris Kepala Hong Kong John Lee mengumumkan niatnya untuk mencalonkan diri sebagai kepala eksekutif Hong Kong. Para pengamat menilai jika Lee terpilih akan semakin membuat Beijing leluasa "mencengkeram" Hong Kong.
Sekretaris kepala untuk pemerintahan Hong Kong John Lee telah mengumumkan niatnya untuk mencalonkan diri sebagai pejabat tertinggi di wilayah semiotonom tersebut.
Lee pada hari Rabu (06/04) telah mengundurkan diri dari jabatannya dalam pemerintahan saat ini.
Pengunduran diri Lee muncul hanya dua hari setelah Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam mengumumkan bahwa dirinya mengundurkan diri pada Juni 2022 mendatang, mengakhiri masa jabatan lima tahun.
Lam mengatakan enggan mencalonkan diri untuk masa jabatan kedua. John Lee, orang nomor 2 di Hong Kong, dikenal sebagai loyalis tindakan keras yang didukung Beijing terhadap aktivis pro-demokrasi di Hong Kong.
"Jika pengunduran diri saya disetujui oleh Pemerintah Rakyat Pusat, saya akan merencanakan untuk mencalonkan diri dalam pemilihan kepala eksekutif mendatang," kata Lee dalam konferensi persnya.
"Telah berada di pemerintahan selama lebih dari 40 tahun, untuk melayani rakyat Hong Kong adalah suatu kebanggaan,” lanjutnya.
Lee diyakini menjadi satu-satunya kandidat untuk kepala eksekutif yang didukung oleh Beijing dan difavoritkan menjadi suksesor Lam.
Cina semakin memainkan peran di Hong Kong?
Baca Juga: Hong Kong Kecam Laporan Inggris dan AS soal Hukum Keamanan Nasional
Jika pria berusia 64 tahun ini nantinya terpilh menjadi kepala eksekutif, hal ini dinilai akan menjadi sinyal bahwa Beijing akan semakin mempererat "cengkeramannya" terhadap Hong Kong.
Aktivis Hong Kong yang sekarang tinggal di Inggris, Nathan Law, menjelaskan bahwa Lee lebih agresif dan keras terhadap mereka yang pro-demokrasi dibandingkan Lam.
"Ini adalah proses 'seleksi', bukan proses 'pemilihan'," kata Law kepada kantor berita AFP.
"Beijing yang menentukan siapa yang menjadi pemimpin selanjutnya Hong Kong, bukan rakyat Hong Kong."
Pengamat politik dari Universitas Hong Kong, Ivan Choy, mengatakan pemerintahan di bawah Lee nantinya akan mencerminkan keinginan Beijing untuk mencari "kesetiaan, kedisiplinan, dan keamanan nasional."
"Jika (Lee) menjadi pemimpin eksekutif berikutnya, itu berarti masalah keamanan nasional akan menimbulkan kekhawatiran lain dalam lima tahun Hong Kong ke depan," ujar Choy.
Lee dinilai akan memiliki pengalaman pembuatan kebijakan yang jauh lebih sedikit karena telah menghabiskan sebagian besar karier pegawai negerinya di kepolisian dan mengawasi masalah keamanan.
Choy mengatakan, mengingat kurangnya pengalaman tersebut, Beijing dapat memainkan peran yang lebih penting dalam urusan lokal dan domestik Hong Kong.
Periode pencalonan kepala eksekutif Hong Kong akan dimulai pada tanggal 10 April dan akan berlangsung sampai 16 April mendatang.
Pemilihan dijadwalkan pada tanggal 8 Mei oleh sebuah komite yang terdiri dari sekitar 1.500 orang, yang sebagian besar pro-Beijing.
Kandidat lain yang diprediksi oleh media lokal sebagai calon pesaing Lee adalah Menteri Keuangan Hong Kong Paul Chan.
Meskipun hingga kini Chan belum menyatakan niat untuk maju dalam pencalonan. rap/ha (AP, AFP, dpa)
Berita Terkait
-
Kebakaran Desa Adat Sade, Gubernur NTB Ungkap Dugaan Awal: Masalah Listrik
-
BNPB Minta Malaysia dan Singapura Tak Saling Salahkan soal Asap Karhutla
-
Megawati Sentil Pragmatisme Politik: Jangan Jadikan Uang dan Kekuasaan sebagai Tujuan
-
Viral Debt Collector Cek Nomor Mesin Kendaraan, Anggota DPR: Ya Sudah Lha
-
Ratu Tisha: Sepak Bola dan Pendidikan Dapat Berjalan Beriringan
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Desil Mendadak Melonjak, Warga Jogja Terancam Kehilangan Bansos
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Dear Mom, Kabut Asap Makin Pekat, Ini Tanda Anak Mulai Terdampak
-
Kabut Asap Palembang Makin Pekat, Kapan Sekolah Mulai Belajar dari Rumah?
-
Ekonom Ungkap Efek Domino Karhutla: Dari Biaya Berobat hingga Pendapatan Warga Tertekan
-
Sumsel Dikepung 1.742 Hotspot, Seberapa Aman Warga dari Kabut Asap?
-
Viral Debt Collector Cek Nomor Mesin Kendaraan, Anggota DPR: Ya Sudah Lha
-
Lahan Perkebunan Indofood di Muba Terbakar, Mengapa Sumber Api Diminta Diusut?
-
Tak Perlu Transit, Citilink Kini Terbang Langsung Palembang-Yogyakarta Setiap Hari
-
Megawati Sentil Pragmatisme Politik: Jangan Jadikan Uang dan Kekuasaan sebagai Tujuan
-
Rekening Aktivis Pati Dibekukan, Koalisi Sipil: Jangan Jadikan Bank Alat Membungkam Kritik
-
Kebakaran Desa Adat Sade, Gubernur NTB Ungkap Dugaan Awal: Masalah Listrik