Suara.com - Euforia kemenangan Emmanuel Macron atas tokoh ekstrem-kanan, Marine Le Pen, dalam pilpres Prancis berganti menjadi kekhawatiran perihal menguatnya oposisi politik dan keresahan sosial yang menanti di masa jabatan kedua.
Ketika ribuan pendukungnya menyemuti Menara Eifel untuk merayakan hasil putaran kedua pemilu kepresidenan Prancis, Minggu (23/4), Emmanuel Macron harus mengakui betapa banyak warga yang memberikan suara bukan karena mendukung kebijakan politiknya, melainkan demi menghadang kandidat Fron Nasional, Marine Le Pen.
Sebab itu pula dia berjanji bahwa "era selanjutnya tidak akan sama dengan mandat yang telah lewat, kita akan menemukan cara untuk bekerja sama, demi lima tahun mendatang yang lebih baik,” pekiknya dalam orasi kemenangan, sembari didampingi Ibu Negara, Brigitte Macron.
Kemenangannya akan sia-sia jika Macron gagal menggalang suara mayoritas dalam pemilu legislatif pada bulan Juni mendatang, yang biasanya minim partisipasi.
Tapi kali ini, Marine Le Pen berjanji akan mengonsolidasikan suara pemilih kanan Prancis untuk kembali mencoblos.
Analis meyakini, jika pun mampu menghimpun koalisi mayoritas, Macron masih harus menghadapi kerasnya penolakan warga terhadap rencana reformasinya, terutama niatnya menaikkan usia pensiun dari 62 menjadi 65 tahun. "Bebek lumpuh” Reformasi sistem jaminan hari tua merupakan isu panas di Prancis.
Perolehan suara yang lebih kecil bagi Macron semakin membatasi kemampuannya untuk meloloskan legislasi terkait.
"Dia terpilih karena tidak ada alternatif lain,” kata Christopher Dembik, ekonom di Saxo Bank kepada Reuters.
"Dia berpotensi jadi bebek lumpuh dan berhadapan dengan ketidakpuasan sosial yang tinggi jika dia nekat mereformasi sektor sensitif seperti jaminan pensiun,” imbuhnya.
Baca Juga: 5 Fakta Kemenangan Emmanuel Macron Melawan Le Pen yang Anti-Hijab di Pilpres Prancis
Isu lain yang bisa menjadi rintangan bagi Macron adalah lonjakan harga bahan bakar. Dia berusaha meminimalisir ketidakpuasan warga dengan memberlakukan batas atas harga minyak dan menggelontorkan subsidi bahan bakar sampai setidaknya setelah pemilu. Subsidi minyak tidak akan berlangsung lama lantaran biaya yang tinggi.
Selain harga bahan bakar, pemilih Prancis juga mengaku kewalahan akibat langkanya minyak nabati dan gandum yang selama ini diimpor dari Ukraina. Pada 2018 silam, lonjakan harga minyak memicu kerusuhan sosial paling parah di Prancis sejak 1968.
Saat itu, pemberontakan "jaket kuning” yang digalang mahasiswa melumpuhkan ibu kota dan jalan-jalan penghubung di penjuru negeri. Macron harus menjalani titian sempit jika ingin mencegah terulangnya kerusuhan sosial serupa tahun 1998. Fraksi-fraksi di parlemen sudah mengindikasikan, presiden tidak lagi bisa "memerintah dari atas,” seperti "direktur sebuah perusahaan,” kata Patrick Vignal, kader Partai En Marche pimpinan Macron.
Namun sejauh ini, upayanya meyakinkan konstituen perihal reformasi sosial masih menemui jalan buntu.
"Dia adalah presiden paling parah dalam sejarah Republik Kelima,” kata seorang pemilih seperti dilansir Reuters. rzn/pkp (rtr,afp)
Berita Terkait
-
Viral Keributan di KRL Jakarta - Bogor, Diduga Pelecehan: Ternyata Salah Paham karena Sesak
-
Rey Mbayang Idap Autoimun Psoriasis, Alami Kerontokan Rambut Parah
-
Jangan Panik, Ini Cara Bijak Kelola Benjolan di Tubuh dengan Pendekatan Alami yang Holistik
-
Wacana War Tiket Haji Dinilai Abaikan Jemaah Antrean Lama, Amphuri Beri Kritik
-
Batch I Magang Nasional Berakhir, Kemnaker Genjot Sertifikasi dan Penempatan Kerja
Terpopuler
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- 5 HP Infinix Rp3 Jutaan Spek Dewa untuk Gaming Lancar
- Tak Terima Dideportasi, WNA Cina di Sumsel Bongkar Dugaan Kejanggalan Proses Imigrasi
- 5 Pilihan Jam Tangan Casio Anti Air Mulai Rp100 Ribuan, Stylish dan Awet
- 5 Rekomendasi HP All Rounder 2026, Spek Canggih, Harga Mulai 2 Jutaan
Pilihan
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
-
Garap Kasus Haji, KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Hari Ini
Terkini
-
Studi: Konflik Nuklir Regional Bisa Picu Krisis Iklim Global Bertahun-tahun, Kenapa?
-
Mengapa Parpol Melawan Usul KPK Soal Pembatasan Masa Jabatan Ketua Umum?
-
Kebakaran Sampah 2 Hari di Kelapa Gading, DLH DKI Ungkap Dugaan Pemicunya
-
Prabowo Panggil Kapolri ke Hambalang, Bahas Keamanan Nasional hingga Hilirisasi di 13 Lokasi
-
Purbaya Buka Suara Soal Pajaki Selat Malaka: Tak Ada Rencana Kutip Tarif
-
Hadapi El Nino 2026, Pemerintah Ungkap Strategi Cegah Karhutla
-
Muhammadiyah Gandeng BPJS Ketenagakerjaan: Dosen Muda Bisa Dapat Akses Rumah hingga Pelatihan Kerja
-
Istri dan 2 Anak Bandar Narkoba Koko Erwin Tiba di Bareskrim, Terjerat Kasus Pencucian Uang
-
Dari Banner ke Influencer: Cara Baru Industri Rokok Menjangkau Anak Jadi Target Pasar
-
Periksa Saksi, KPK Bongkar Modus Surat Pernyataan Jadi Alat Pemerasan Bupati Tulungagung