"Ini menegaskan cinta dan penghargaan saya terhadap wilayah dataran yang basah di wilayahTop End," katanya.
"Ini lingkungan yang rapuh dan indah, dan berisiko dari segala jenis invasi hewan liar," katanya.
"Satu area yang sangat saya khawatirkan adalah Rawa Arafura ini adalah salah satu rawa terbesar di Australia," jelas Hancock.
"Tempatnya menakjubkan, tapi kerbau liar telah menyusup ke sana. Tempat ini mungkin merupakan salah satu lingkungan paling murni di Australia," tuturnya.
Tercermin dalam seni cadas
Setelah kerbau-kerbau itu dibebaskan dari koloni Inggris yang ditinggalkan, hewan ini pun menjadi musuh yang tangguh bagi berbagai suku Aborigin.
Kontak pertama dengan hewan besar ini tercermin dalam lukisan seni cadas Djabidjbakalloi. Di sini ditemukan gambar kerbau seukuran aslinya di samping gambar perahu, kuda, dan senjata.
"Kita harus ingat bahwa orang Aborigin adalah kelompok yang paling terkena dampak dari kerbau liar," katanya.
"Ketika kerbau tiba di sini pada awal hingga pertengahan 1800-an, belum ada hewan besar di Australia Utara sejak era megafauna, yaitu 50.000 tahun sebelumnya," jelas Hancock.
"Mereka ini yang tidak memiliki senjata, namun harus berurusan dengan hewan-hewan besar itu," ucapnya.
Baca Juga: Menengok Kemeriahan Tradisi Larung Kepala Kerbau, Diikuti Ratusan Perahu Nelayan Jepara
"Kerbau telah menjadi bagian dari tradisi dan mitologi mereka. Khususnya di Western Arnhem Land, kita temukan banyak gambar kerbau," katanya.
Hewan yang menarik
Saat kawanan kerbau liar menyebar lebih jauh ke seluruh Arnhem Land, orang Aborigin berada di garis depan dalam mengubah bencana lingkungan menjadi peluang ekonomi.
Tom Dawkins, direktur Dewan Industri Kerbau Australia Utara, mengatakan industri kulit kerbau yang dimulai pada tahun 1880-an adalah hasil usaha dari kelompok Aborigin.
"
"David ada benarnya. Bahwa kerbau-kerbau ini dianggap tidak ada pemiliknya. Bukan milik siapa-siapa," kata Dawkins.
"
"Sementara domba atau sapi selalu dilihat sebagai milik seseorang," tambahnya.
Hewan ini, katanya, kemudian menjadi bagian penting dari sejarah orang Aborigin.
Keadaan serupa berlaku saat ini, di mana produsen kerbau melihat meroketnya harga daging sapi dan meningkatnya jumlah kerbau liar sebagai peluang besar untuk memasok pasar Asia.
"Ini proposisi yang sangat menarik, karena kita bisa memiliki akses ke pasar itu, pendapatan ekspor, serta menjaga ketahanan pangan negara tetangga kita," katanya.
Ia mengatakan industri kerbau ini juga akan menyediakan lapangan kerja, kegiatan ekonomi, dan keuntungan ekonomi bagi penduduk asli.
Dawkins mengatakan bahwa pemusnahan kawanan kerbau liar harus digunakan sebagai upaya terakhir, mengingat meningkatnya profitabilitas pasar ternak saat ini.
"Kami prihatin dengan ancaman hama anjing liar dan babi liar. Mereka memperburuk masalah," katanya.
"Perlu dipastikan bahwa pemusnahan kerbau liar adalah pilihan terakhir," tambahnya.
Sama seperti Dawkins dan petani lainnya,fotografer DavidHancock sangat menghargai kerbau liar ini, terlepas dari dampaknya terhadap lingkungan.
"Dalam situasi domestikasi seperti yang terbukti di Asia, kerbau-kerbau itu bisahidup bersama keluarga petani, katanya.
"Kerbau menjadi bagian dari keluarga mereka. Jadi kerbau peliharaan bisa menjadi hewan yang sangat jinak," jelasnya.
Di antara penjajah Inggris, pemburu Aborigin, fotografer, dan petani, mitologi kompleks dari hewan liar yang merusak namun lembut ini terus berlangsung di Australia Utara.
Diproduksi oleh Farid Ibrahim dari artikel ABC News.
Berita Terkait
-
3 Poin Harga Mati! Jordi Amat: Timnas Indonesia Wajib Libas Timor Leste
-
4 Shio yang Hoki dan Bahagia 31 Juli 2026, Masa Sulit Berakhir Mulai Hari Ini
-
Timnas Indonesia vs Timor Leste, John Herdman: Bukan Hanya Cetak Banyak Gol tapi...
-
Timnas Indonesia vs Timor Leste Sore Ini: Tim Garuda Diterpa Kabar Buruk
-
Soft Life Makin Populer: Saat Gen Z Lebih Pilih Hidup Tenang dan Seimbang
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- Siapa Ipda Ambarita? Ini Profil Polisi yang Viral Saat Pengamanan Bentrok Matraman
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
100 Ribu Jemaah Diperkirakan Padati Monas, Kemenag Minta Peserta Zikir Kebangsaan Datang Lebih Awal
-
IHSG Masih Perkasa di Level 6.200, Saham TINS Diincar
-
Today History 31 Juli, Calon Astronot Wanita Pertama Asia Lahir hingga Naruto Shippuden Rilis
-
Siswi SD Peraih Emas Olimpiade Asia Dihadiahi Rumah hingga Beasiswa oleh Gubernur Bobby
-
Dari Distro ke Pasar Global, Ini Rahasia Brand Lokal Asal Banyuwangi
-
Dorong Transformasi Satpol PP, Sekjen Kemendagri Tegaskan Pentingnya Pendekatan Humanis
-
Pilot Malaysia Sudah Langganan Selundupkan Narkoba, Dibayar Rp220 Juta Sekali Kirim
-
Survei: Kopi Tetap Jadi Favorit, Tren Minuman Siap Saji Terus Tumbuh
-
Usung Genre Romcom, Drama Korea-Jepang 'Merry Berry Love' Tayang Oktober
-
AS Selidiki Keterlibatan Peretas Iran dalam Serangan Siber Fasilitas Air Minnesota