Menurut Cao Yue yang sudah bekerja di Shanghai selama lima tahun masa yang paling sulit berkenaan dengan lockdown adalah kesehatan mental.
Dia mengatakan di masa-masa awal sulit sekali baginya untuk membeli makanan dan dia tidak tahu harus melakukan apa.
"Rasanya sangat menyedihkan harus terkunci di rumah dan melihat seluruh Shanghai menjalani lockdown," katanya.
Lebih dari 500 ribu warga dari 25 juta penduduk kota tersebut belum boleh melakukan kegiatan hari Rabu ini, 190 ribu orang masih menjalani karantina dan sekitar 450 ribu orang lainnya berada di zona pengawasan karena mereka di dekat kasus yang baru terjadi.
Lockdown di Shanghai dan di berbagai kota lain di China telah memengaruhi pertumbuhan ekonomi dan juga mengganggu pasokan barang-barang ke seluruh dunia meski angka kasus mulai menurun dan pembatasan sudah banyak dicabut sejak masa paling buruk di bulan April.
China mengatakan pendekatan yang mereka lakukan dimaksudkan untuk menyelamatkan nyawa dan mencegah agar sistem layanan kesehatan tidak ambruk dengan tingginya kasus.
Ketidakmenentuan dan juga ketidakpuasan warga atas kebijakan COVID yang terlalu ketat terjadi di tahun politik di mana Presiden Xi Jinping sedang berusaha melanjutkan kepemimpinannya untuk periode yang ketiga.
"Rasanya malam ini seperti masa liburan akhir sekolah," tulis seseorang di media sosial China Weibo.
"Di malam menjelang tahu ajaran baru, saya senang dengan dimulainya semester baru namun juga ada perasaan takut."
Baca Juga: Shanghai Lockdown, 2 Warga Jepang Dilaporkan Meninggal Dunia
Shanghai mencatat 29 kasus baru hari Senin, turun tajam dari angka 20 ribu per hari pada bulan April.
Di ibu kota China Beijing pembatasan juga mulai dilonggarkan di beberapa distrik pada hari Selasa.
Menurut laporan media lokal, tiga lab testing di Beijing sedang diselidiki oleh polisi karena 'protokol testing yang tidak benar' sehingga menghasilkan hasil tes yang tidak akurat.
Sebuah kota yang terluka
Selama dua bulan Shanghai harus menjalani lockdown ketat membuat warga di kota ekonomi terpenting di dunia tersebut kesulitan mendapatkan bahan makanan dan obat-obatan.
Keluarga terpisahkan dan ratusan ribu orang dipaksa menjalani karantina terpusat.
Di beberapa pabrik dan kantor yang tetap buka - termasuk kantor para pejabat pemerintah Shanghai - banyak pekerja tidak bisa kembali ke rumah mereka dan hidup dengan fasilitas seadanya selama lockdown tersebut.
Sekarang pembatasan sudah dilonggarkan bagi 22,5 juta penduduk di sana.
Warga masih harus mengenakan masker di tempat umum dan dilarang berkumpul.
Restoran masih tidak melayani makan di tempat, dengan toko beroperasi dengan kapasitas 75 persen dan tempat fitness belum lagi dibuka.
Warga harus menjalani tes setiap 72 jam bila hendak menggunakan transportasi umum atau mendatangi tempat umum, hal yang tampaknya akan menjadi kehidupan 'normal baru' di berbagai kota di China.
Mereka yang positif dan kontak dekat masih harus menjalani karantina ketat.
Selama masa lockdown, warga Shanghai beberapa kali melakukan protes, dengan menabuh panci dan peralatan makanan dari jendela apartemen mereka dan juga menyampaikan berbagai kritikan di media sosial.
Kemarahan muncul selain karena kebijakan lockdown yang dianggap terlalu ketat juga karena penerapannya yang tidak seragam dan juga komunikasi yang tidak jelas.
"Pemerintah Shanghai harus menyampaikan pernyataan maaf guna mendapatkan pengertian dan dukungan dari warga Shanghai, dan memperbaiki hubungan yang rusak antara pemerintah dan warga," kata Qu Weiguo, professor di Fudan University yang menulis di WeChat.
Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dari ABC News
Berita Terkait
-
Jika Tim 9 Gagal, KPK Disebut Wajib Ambil Alih Kasus Febrie Adriansyah
-
Sempat Sebut PDIP, Ustaz Das'ad Latif Edit Unggahan soal Putusan MK Larang Dana Pendidikan untuk MBG
-
Kejagung Bongkar Alasan Periksa Tan Kian dan Ferry Boboho di Kasus Febrie Adriansyah
-
Alasan Keselamatan, Kejagung Titipkan Ferry Boboho Saksi Kunci Kasus TPPU Febrie Adriansyah ke LPSK
-
Angela Tanoesoedibjo Apresiasi Legislator yang Dinilai Berdampak bagi Masyarakat
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- Siapa Ipda Ambarita? Ini Profil Polisi yang Viral Saat Pengamanan Bentrok Matraman
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Bersama Danantara, BTN Jadi Penyalur Terbesar dalam Akad Massal 62.000 Rumah Subsidi
-
Destry Singgung Independensi BI Usai Perry Warjiyo Mundur
-
Awal Tak Mulus, Penonton Ransom Canyon Season 2 Turun 43% di Pekan Perdana
-
Apakah Mobil Listrik Bebas Pajak Tahunan dan Ganjil Genap? Ini 5 Opsi Termurahnya
-
Fenomena Fun Run: Gaya Hidup Sehat atau Sekadar Ajang Konten Media Sosial?
-
Jangan Salah Pilih! Ini 5 Sepatu Lari Lokal Terbaik untuk Daily Run
-
Bedak Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Pilihan agar Makeup Halus dan Tidak Dempul
-
Bangunan Miring dan Plafon Pernah Runtuh, SDN 002 Anggana Butuh Perhatian Pemerintah
-
Diringkus Polisi! Pemuda 20 Tahun Pelaku Pelecehan di Karawaci Tak Berkutik Usai Videonya Viral
-
IHSG Bergerak di Level 6.200 Pagi Ini, Saham TALF Terbang