Badan iklim dunia, Panel Lintas Negara tentang Perubahan Iklim (IPCC), telah menemukan bahwa prevalensi penyakit yang ditularkan melalui vektor sudah meningkat dan bisa memburuk.
Ada faktor lain yang berperan dalam penyebaran penyakit, seperti tingkat vaksinasi, pengendalian serangga, karantina, dan bahkan praktik pertanian.
Para ilmuwan ingin menjelaskan bahwa perubahan iklim bukanlah satu-satunya penyebab.
"Jika ada bagian vektor nyamuk dari siklus itu, maka nyamuk tersebut mungkin hidup seminggu lebih lama dalam setahun," jelas Profesor Nicholas Osbotne dari Universitas Queensland.
Secara historis, Australia telah berhasil mengelola risiko penyakit mematikan yang dibawa nyamuk, seperti malaria dan demam berdarah.
Tapi hal itu mungkin menjadi lebih sulit akibat terjadinya perubahan iklim.
Virus yang disebarkan oleh hewan
Virus baru lainnya yang telah mendarat di Australia tahun ini adalah cacar monyet, yang menyebabkan gejala seperti flu dan ruam kulit yang khas setelah terjadi kontak antarmanusia.
Sekali lagi, penting untuk dicatat bahwa merebaknya virus bukanlah penyebab kepanikan.
Perubahan iklim adalah salah satu faktornya meningkatnya jumlah wabah dapatsebagian disebabkan oleh menurunnya tingkat kekebalan terhadap virus cacar.
Baca Juga: Perubahan Iklim, Base Camp Gunung Everest Terpaksa Pindah
Virus tersebut dikenal sebagai penyakit zoonosis, yang disebabkan oleh kuman yang berpindah dari hewan ke manusia, kemudian menyebar di antara manusia.
Semua bukti menunjukkan COVID-19 memiliki asal-usul zoonosis.
Menurut laporan penelitian yang diterbitkan pada Jurnal Nature bulan April lalu, saat ini terdapat 10.000 virus yang beredar pada mamalia liar dan memiliki kapasitas untuk menginfeksi manusia.
Disebutkan, potensi penularan lintas spesies meningkat seiring perubahan iklim dan kedatangan manusia ke daerah di mana terjadi interaksi dengan hewan yang dulunya terisolasi secara geografis.
"Apa yang kami lihat saat ini adalah peningkatan frekuensi kejadian," kata Dr De Barro.
"Jadi katakanlahdalam 20 tahun terakhir, jauh lebih banyak wabah yang terkait dengan penyakit zoonosis daripada 20 tahun sebelumnya," tambahnya.
Berita Terkait
-
Riset: Perempuan Jadi Garda Terdepan Jaga Hutan dan Ketahanan Iklim
-
Ancaman Baru dari Perubahan Iklim, Rantai Makanan Laut Ikut Terganggu
-
Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia
-
Perubahan Iklim Tekan Produksi Pangan, BRIN Dorong Adaptasi dan Mitigasi
-
Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Kematian, Negara Miskin Paling Terdampak
Terpopuler
Pilihan
-
AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
Terkini
-
BMKG Rilis Peringatan Dini Hujan Ekstrem di Jabodetabek Hingga 17 April
-
Sindiran Telak Mark Carney ke Trump, Kanada Perkuat Gerakan Boikot Produk AS
-
Sinergi BNI dan Pemerintah Dorong Hunian Layak serta Ekonomi Rakyat di Manado
-
Kisah Anak-anak Iran di Tengah Perang: Aku Stres Banyak Suara Ledakan, Berlindung Agar Tak Terbunuh
-
Cuaca Ekstrem Terjang Jaktim Kemarin, Belasan Pohon Tumbang Timpa Ruko dan Kendaraan Warga
-
Wapres AS Kena Troll Kedubes Iran: Gagal Pimpin Negosiasi dan Disorot Usai Orban Kalah Pemilu
-
Warga Iran Lega Gencatan Senjata, Tapi PHK Sudah di Mana-mana dan Hidup 'Ngap-ngapan'
-
Unggah Foto Bak Yesus, Trump Serang Paus Leo XIV: Dasar Pemimpin Lemah!
-
Bahlil Ikut Prabowo ke Rusia, Misi Amankan Pasokan Minyak RI di Tengah Gejolak Global
-
Tegas! PM Kanada Putus Ketergantungan kepada AS, Mark Carney: Kami Akan Berdikari