"Seluruh wilayah kami hampir mati, seperti tidak ada ternak sama sekali."
Dokter hewan Australia Bill Sykes adalah salah satu dokter yang dikerahkan ke Inggris saat itu untuk membantu karena memiliki latar belakang pengendalian penyakit nasional dan penyembelihan hewan.
Bill ingat bagaimana para pekerja rumah potong hewan mencoba dengan tenang untuk mendapatkan kepercayaan dari para anak sapi yang berumur kurang dari satu bulan sebelum disembelih.
"Strateginya adalah dengan memasukkan jari ke dalam mulut anak sapi itu sehingga ia akan dengan senang hati mengisapnya, dan ketika sedang mengisap, ia ditembak dengan pistol ternak, dan demikian seterusnya."
Tapi baginya, pemusnahan anak domba yang baru lahir melalui suntikan mematikan sangat menghancurkan hatinya.
"Mereka menjadi lemas di tangan Anda, kemudian Anda meletakkannya dan Anda akan mengambil yang berikutnya," katanya.
"Dan kebetulan saya menyukai domba-domba kecil. Saya merasa itu sangat, sangat sulit."
Australia mengukur kesiapannya menghadapi wabah PMK
Belum ada wabah penyakit di Australia selama lebih dari satu abad, tetapi kasus yang terdeteksi di Indonesia pada bulan Mei telah membuat Pemerintah Australia sangat waspada, dan para peternak khawatir jika penyakit itu mendarat di Australia.
PMK menyebar dengan cepat di antara hewan berkuku belah termasuk sapi, domba, babi dan kambing. Penyakit ini serius dan sangat menular.
Bill Sykes, yang juga mantan petugas dokter hewan regional di Departemen Pertanian Victoria dan mantan anggota parlemen Nasional, sangat marah melihat laporan pelanggaran undang-undang biosekuriti Australia.
Baca Juga: Pemerintah Optimistis PMK Tak Lagi Merebak Mulai Akhir Tahun
PMK dapat terbawa di daging dan barang-barang hewani, dan dalam satu kasus baru-baru ini, seorang backpacker yang kembali dari Indonesia membawa daging yang dilarang.
Penumpang ini didenda $2.664 (sekitar Rp26 juta) setelah terdeteksi membawa daging sosis dan croissant ham yang tidak dilaporkan di bandara Darwin.
"Benar-benar bodoh. Bodoh, ceroboh, apa lah itu namanya, tapi situasi seperti itulah yang bisa terjadi," kata Bill.
Penyakit mulut dan kuku juga dapat menyebar di partikel udara antara hewan yang terletak berdekatan, melalui air yang terkontaminasi dan pada pakaian dan alas kaki.
Risiko wabah penyakit mulut dan kuku di Australia telah meningkat menjadi sekitar 12 persen setelah penyebaran baru-baru ini di Indonesia dan pulau wisata populernya, Bali.
Pemerintah Australia telah memperkenalkan berbagai langkah untuk menekan risiko penyakit mulut dan kuku memasuki negara itu.
Langkah-langkah biosekuriti telah ditingkatkan di bandara, termasuk memasang alas kaki disinfektan sitrat dan meningkatkan pengawasan terhadap produk daging yang masuk ke negara itu.
Menteri Pertanian Murray Watt juga mengumumkan gugus tugas baru yang dibentuk untuk berfokus pada cara terbaik mempersiapkan diri untuk menghadapi potensi wabah.
Pemerintah juga mempertimbangkan saran yang merekomendasikan orang yang kembali dari Indonesia menghindari pertanian Australia selama lima hingga tujuh hari.
Jika ada satu kasus positif di Australia, ekspor ternak akan segera dihentikan dan rencana darurat veteriner nasional yang disebut AUSVETPLAN akan diberlakukan.
"Karena kami sangat bergantung pada pasar ekspor kami, sekitar 60 hingga 70 persen daging merah kami pergi ke luar negeri, dan jika pasar tersebut akan segera ditutup, akan membutuhkan waktu lama untuk membangun kembali pasar tersebut. Dampak ekonominya sangat besar," kata Bill.
Ia mengatakan Australia sudah berada dalam posisi yang lebih baik untuk mengendalikan wabah berkat kemampuan untuk melacak pergerakan ternak, serta iklim yang lebih hangat dan lebih kering yang mengurangi penyebaran penyakit yang terbawa angin.
Dan masih ada pelajaran yang bisa diambil dari Inggris untuk menghindari pemusnahan begitu banyak ternak.
"Pelajarannya adalah bahwa kami akan mengadopsi strategi yang berbeda dengan Inggris dan mudah-mudahan bisa mengandalkan penilaian risiko berkualitas tinggi dan penyembelihan yang lebih tepat sasaran."
Robert Craig mengatakan pelajaran terbesar dari wabah Inggris adalah menyadari bahwa petani memiliki tanggung jawab besar untuk melindungi ternak mereka sendiri.
"Anda harus sangat menjaga keamanan hayati Anda sendiri dan membatasi orang untuk datang dan pergi," katanya.
"Karena begitu Anda ketinggalan, sangat sulit untuk berada di depan lagi dan mengendalikannya kembali."
Artikel ini dirangkum dan diproduksi oleh Hellena Souisa dari ABC News.
Berita Terkait
-
Jalan Merdeka Utara Jadi Lautan Merah, Ribuan Warga Antusias Rayakan HUT ke-81 RI
-
5 Shade Cushion untuk Kulit Olive Undertone Indonesia agar Tidak Kelihatan Abu-abu
-
Dari Yogyakarta, Solo hingga Thailand Nova Arianto Buru Komposisi Terbaik Timnas Indonesia U-20
-
Dolar AS Keok di HUT RI, Rupiah Tembus Level Rp17.796 Pagi Ini
-
Siapa Penjahit Bendera Merah Putih? Ini Sosok Perempuan di Balik Berkibarnya Bendera Pusaka
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
10.910 Warga Binaan di Sumsel Terima Remisi HUT RI, Ratusan Langsung Bebas
-
Turnamen Dikemas Lebih Berbeda, Ratusan Pemain Bakal Adu Kekuatan Tenis Meja
-
Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?
-
175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya
-
Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?
-
Sebanyak 86 Persen BTS yang Rusak Akibat Gempa Flores Sudah Beroperasi Lagi
-
5 Sabun Cuci Muka untuk Bruntusan di Dahi dan Pipi, Lengkap dengan Ulasan Pengguna
-
Prabowo-Gibran Kompak Pakai Beskap, Pimpin Kemeriahan Karnaval Kemerdekaan di Monas
-
Dari Bundaran HI, Warga Titip Harapan untuk Indonesia di HUT Ke-81 RI
-
KPK Tak Sanksi Etik Setya Budi Dias di Kasus Pemerasan Bupati Pemalang, Ini Alasannya