Suara.com - Aksi buruh berdemo di depan Gedung DPR sambil membawa foto Ketua DPR RI Puan Maharani yang sedang menangis turut menjadi perhatian. Momen Puan menangis itu sendiri terjadi saat kenaikan harga BBM di era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Melansir Wartaekonomi.co.id -- jaringan Suara.com, pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga menilai jika aksi buruh membawa foto Puan menangis merupakan bukti ingatan publik yang tidak akan hilang begitu saja.
Menurutnya, foto itu sengaja dibawa peserta aksi unjuk rasa untuk mengingatkan kinerja Puan agar konsisten dalam merespons permasalahan yang sama.
"Foto itu tampaknya sengaja dibawa para pendemo untuk mengingatkan Puan agar konsisten dalam merespons persoalan yang sama," kata Jamiludin dalam keterangan persnya, Kamis (8/9/2022).
"Puan ditantang pendemo untuk juga menentang kebijakan Joko Widodo menaikkan harga BBM dengan tetesan air mata sebagaimana ia menentang yang kebijakan Susilo Bambang Yodhoyono," lanjutnya.
Jamil mengatakan bahwa tuntutan pendemo yang menolak BBM sambil membawa foto Puan itu sangat wajar. Apalagi, Puan menjabat sebagai Ketua DPR yang bertugas menyuarakan aspirasi rakyat dan mengawasi kebijakan yang diambil eksekutif.
"Untuk itu, Puan seharusnya mendengarkan sungguh-sungguh aspirasi rakyat terkait kebijakan yang diambil eksekutif. Kalau rakyat menolak kebijakan eksekutif, sudah seharusnya Puan memperjuangkannya untuk membatalkan kebijakan eksekutif tersebut," ujarnya.
Jamil menilai tidak seharusnya Puan memahami kebijakan pemerintah yang menaikkan harga BBM/ Pasalnya, mayoritas rakyat menolak kenaikan harga BBM, sehingga peran dinilainya sangat tidak aspiratif ataupun tidak melaksanakan fungsi pengawasan.
Lebih lanjut, situasi itu justru akan semakin menurunkan elektabilitas Puan Maharani jika maju sebagai capres 2024. Rakyat malah akan sulit percaya kepada Puan yang dinilai bisa mengabaikan suara mereka jika sampai menjadi presiden.
Baca Juga: Aksi Demo Tolak Kenaikan Harga BBM Berlanjut, Ini Kata Polisi Soal Pengalihan Arus Lalu Lintas
"Kalau saat ini saja Puan sudah tidak aspiratif, tentu rakyat akan sulit menilainya layak menjadi presiden. Rakyat akan khawatir Puan akan mengabaikan suara rakyat bila nantinya menjadi presiden," ujarnya.
Maka jika Puan ingin terpilih menjadi presiden, Jamil menyebut bahwa peristiwa ini menjadi momen yang tepat bagi Puan untuk unjuk gigi dengan menolak kenaikan garga BBM.
"Karena itu, bila Puan ingin sukses menjadi capres dan kelak akan terpilih, maka saat inilah momen yang tepat menunjukkan dirinya sebagai pemimpin yang aspiratif. Puan harus berani melakukan fungsi pengawasan dengan menolak kebijakan menaikkan harga BBM," sarannya.
"Jadi, momen kenaikan harga BBM akan menguji kelayakan Puan sebagai pemimpin yang sesungguhnya. Kalau Puan berani menolak kenaikkan harga BBM, maka ia layak menjadi capres pada Pilpres 2024," tandasnya.
Berita Terkait
-
Aksi Demo Tolak Kenaikan Harga BBM Berlanjut, Ini Kata Polisi Soal Pengalihan Arus Lalu Lintas
-
Dinsos Catat Sebanyak 340.921 Keluarga di DIY Dapat BLT BBM
-
Petugas SPBU Marahi Pemotor Gegara Diduga Tak Sabar dan Serobot Antrean, Publik: Harga BBM naik Semua Emosi
-
Terpopuler: Demo Pengemudi Ojol di Cirebon, Pembunuh Calon Mubalig LDII Terancam Hukuman Mati
-
Respons Kenaikan Harga BBM: BEM SI akan Demo di Jakarta Hari Ini, Polisi Berharap Mereka Tertib
Terpopuler
- 6 HP Murah RAM Besar Rp1 Jutaan, Spek Tinggi untuk Foto dan Edit Video Tanpa Lag
- 57 Kode Redeem FF Terbaru 25 Januari 2026: Ada Skin Tinju Jujutsu & Scar Shadow
- Polisi Ungkap Fakta Baru Kematian Lula Lahfah, Reza Arap Diduga Ada di TKP
- 5 Rekomendasi Mobil Kecil untuk Wanita, Harga Mulai Rp80 Jutaan
- Detik-detik Menteri Trenggono Pingsan di Podium Upacara Duka, Langsung Dilarikan ke Ambulans
Pilihan
-
Pertamina Mau Batasi Pembelian LPG 3 Kg, Satu Keluarga 10 Tabung/Bulan
-
Keponakan Prabowo Jadi Deputi BI, INDEF: Pasar Keuangan Pasang Mode Waspada Tinggi
-
Purbaya Hadapi Tantangan Kegagalan Mencari Utang Baru
-
5 Rekomendasi HP Memori 256 GB Paling Murah, Kapasitas Lega, Anti Lag Harga Mulai Rp1 Jutaan
-
Danantara Mau Caplok Tambang Emas Martabe Milik Astra?
Terkini
-
Kemenkes Siapkan Strategi Swab Mandiri untuk Perluas Deteksi Dini Kanker Serviks
-
KPK Bakal Periksa Eks Menaker Hanif Dhakiri Terkait Kasus Korupsi RPTKA
-
Polda Metro Jaya Sita 27 Kg Sabu dan Happy Five Senilai Rp41,7 Miliar di Tangerang
-
Propam Usut Dugaan Salah Prosedur Polisi yang Amankan Pedagang Es Gabus di Johar Baru
-
Bukan Cuma 28, Satgas PKH Ungkap Potensi Gelombang Baru Pencabutan Izin Perusahaan Pelanggar Hutan
-
KAI Daop 1 Rilis Jadwal Mudik Lebaran 2026, Siapkan 37 Ribu Kursi Per Hari
-
Pascabanjir Cengkareng, Sudin LH Jakbar Angkut 187 Ton Sampah dalam 8 Jam
-
Mensos Paparkan Data Bencana Januari 2026: 34 Titik Melanda Indonesia, Jawa Jadi Wilayah Terbanyak
-
12 Aparat Hukum Diduga Perkosa Seorang Ibu di Papua, Saksi Mata Ungkap Kronologi Pilu
-
Mensos: Indonesia Resmi Miliki Data Tunggal DTSEN, Tak Ada Lagi Kementerian Punya Data Sendiri