Suara.com - Mata dunia beralih ke Skotlandia setelah kematian Ratu Elizabeth II di Balmoral, kediaman musim panasnya di Skotlandia, Kamis (8/9/2022). Pemimpin Inggris terlama sepanjang sejarah itu telah menderita sakit selama beberapa tahun.
Rencana kematian Ratu Elizabeth II sendiri telah disiapkan selama beberapa dekade oleh staf istana dan pejabat Inggris, dengan protokol upacara yang rumit dibahas dan diperbarui secara teratur. Tetapi fakta bahwa Ratu telah meninggal di Skotlandia alih-alih di Inggris dapat menambahkan lapisan kerumitan baru.
Sebab, kematiannya dianggap menambah kerumitan baru serta cenderung memiliki implikasi politik. Tepatnya, ketika para pemimpin Skotlandia meminta pertimbangan kemerdekaan dari Inggris dalam beberapa tahun ke depan.
Adapun Skotlandia, dengan populasi 5,45 juta, adalah bagian dari Britania Raya. Namun, negara ini terpisah dari Inggris, memiliki banyak undang-undang sendiri, dan secara historis kurang mendukung monarki.
Lantas, apa yang membuat kematian Ratu Elizabeth II justru memicu kerumitan baru dan implikasi politik bagi Skotlandia?
Bagaimana Kematian Ratu Elizabeth II di Skotlandia Ubah Protokol?
Menyadur Time, Protokol resmi untuk kematian Ratu, yang berlaku selama beberapa dekade, telah menjadi subjek kebocoran luas di media Inggris selama bertahun-tahun. Rencana menyeluruh ini dikenal sebagai operasi "London Bridge" dan mencakup aturan untuk segala hal.
Mulai dari bagaimana Perdana Menteri akan diberitahu "London Bridge is Down", hingga bagaimana Raja Charles III akan berbicara kepada bangsa, dan apa yang akan terjadi pada tubuh Ratu.
Bagian terakhir itu lebih rumit karena Ratu meninggal di Skotlandia, sebuah skenario yang mengaktifkan apa yang disebut operasi "Unicorn".
Baca Juga: 5 Kepribadian Ratu Elizabeth II sebagai Orang Nomor Satu di Kerajaan Inggris
Jenazah Ratu perlu dipindahkan dari Balmoral ke Holyroodhouse, kediamannya di ibu kota Skotlandia, Edinburgh, untuk beristirahat sejenak. Jenazah kemudian akan dibawa dalam prosesi ke Royal Mile, jalan utama, ke Katedral St. Giles untuk layanan resepsi.
Setelah itu, jenazah Ratu Elizabeth II akan dibawa ke London dengan kereta kerajaan dari Stasiun Waverley Edinburgh. Massa diperkirakan memenuhi peti mati di beberapa titik sepanjang perjalanan untuk melempar bunga.
Menurut The Guardian, lokomotif lain akan mengikuti di belakang untuk mengumpulkan puing-puing. Jika perjalanan kereta api tidak memungkinkan, peti mati akan dibawa ke London melalui pesawat atau operasi "Overstudy”.
Peti mati kemudian akan disambut di ibu kota oleh perdana menteri, dan dibawa ke Istana Buckingham. Ratu akan menerima pemakaman kenegaraan di Westminster Abbey London sepuluh hari setelah kematiannya (bisnis di parlemen akan ditangguhkan setelah konfirmasi kematiannya untuk persiapan dan akan dimakamkan di Kastil Windsor.
Arti kematian Ratu bagi hubungan Skotlandia dengan seluruh Inggris
Transisi pemegang tahta dari Elizabeth ke putranya, Raja Charles III, datang pada waktu yang penuh gejolak bagi persatuan Inggris.
Pemerintah semi-otonom Skotlandia sendiri dikendalikan oleh Partai Nasional Skotlandia (SNP), yang mengadvokasi Skotlandia untuk menjadi negara merdeka.
Pemimpin SNP Nicola Sturgeon berpendapat bahwa kepergian Inggris dari UE, yang ditentang oleh pemilih Skotlandia, berarti sudah waktunya untuk referendum baru tentang kemerdekaan Skotlandia.
Sturgeon menegaskan pemungutan suara baru harus dilakukan pada 2024, meskipun Truss sempat mengatakan akan memblokir upaya untuk pengadaan tersebut.
Sejauh ini, SNP telah mengatakan akan mempertahankan monarki sebagai kepala negara Skotlandia yang merdeka. Itu masuk akal jika masih di bawah kepemimpinan Elizabeth, yang sering menyatakan mencintai Skotlandia.
Jajak pendapat Yougov yang diterbitkan Mei 2022 menemukan 75 persen orang Skotlandia berpikir Ratu Elizabeth II melakukan pekerjaan dengan baik dalam perannya sebagai pemimpin (dibandingkan dengan 84 persen di Inggris secara keseluruhan).
Namun, monarki secara keseluruhan selalu dipandang dengan permusuhan yang sedikit lebih besar di utara perbatasan daripada di Inggris atau Wales. Sebuah jajak pendapat oleh lembaga British Future, mengungkapkan sesuatu.
Hasil jajak pendapat ini mengungkap lebih dari sepertiga orang Skotlandia mengatakan akhir pemerintahan Ratu Elizabeth II akan menjadi waktu yang tepat untuk menghapus monarki dan menjadi republik.
Sementara itu, Pangeran Charles kurang populer daripada ibunya di Skotlandia. Menurut Yougov, hanya 52 persen orang Skotlandia yang memperkirakan dia akan melakukan pekerjaan dengan baik sebagai raja.
Irving, penulis biografi Ratu Elizabeth II juga mengatakan jika komitmen SNP terhadap monarki akan berakhir dengan kematian Ratu.
Maka, jika Charles terbukti sebagai penguasa yang tidak populer, maka itu dapat melemahkan komitmen Skotlandia terhadap serikat pekerja. Situasi itu yang menjadi kerumitan baru atas kematian Ratu Elizabeth II.
Ratu Elizabeth II di Skotlandia
Sejak muda, Ratu Elizabeth II memang sudah menghabiskan sebagian besar musim panasnya di Balmoral. Ini adalah sebuah perkebunan dataran tinggi yang luas di Aberdeenshire, timur laut Skotlandia.
Kastil itu dibeli oleh keluarga kerajaan pada tahun 1852 di bawah pemerintahan Ratu Victoria. Dalam sebuah film dokumenter 2016, cucunya Putri Eugenie mengatakan bahwa kastil menjadi tempat "paling bahagia" bagi Ratu.
Clive Irving, penulis biografi "Elizabeth II The Last Queen", mengatakan jika Ratu ingin berada di Skotlandia selama bulan-bulan terakhir hidupnya.
Di tahun 2022, staf kerajaan semakin membatasi perjalanan dan keterlibatan Ratu, dengan alasan masalah mobilitas. Baru-baru ini, ia melanggar protokol karena memilih untuk menetap di Balmoral dalam peresmian perdana menteri Inggris yang baru, Liz Truss.
Ratu telah menunjuk 14 perdana menteri sebelumnya selama 70 tahun masa pemerintahannya, dan ini adalah pertama kalinya upacara berlangsung di luar Istana Buckingham.
Kontributor : Xandra Junia Indriasti
Berita Terkait
-
5 Kepribadian Ratu Elizabeth II sebagai Orang Nomor Satu di Kerajaan Inggris
-
40 Daftar Lagu di iPod Ratu Elizabeth II
-
Ratu Elizabeth II Wafat, Poundsterling Anjlok Sepanjang 37 Tahun Terakhir
-
Potret Ratu Elizabeth Muda Saat Jadi Tentara dan Mekanik di Perang Dunia II
-
Kisah Sex Pistols dan Ratu Elizabeth II dalam Lagu God Save The Queen
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Skenario Jahat Zionis Israel Terkuak! Ciptakan Krisis Malnutrisi di Gaza
-
Viral Tampilan Sederhana Sultan Brunei Saat Wisuda Anak, Netizen: Tapi Jamnya Rp2,3 Miliar
-
Era Baru Dimulai, Robot Rp234 Juta Disumpah Jadi Biksu Buddha
-
Hantavirus Tewaskan 3 Orang, Bakal Jadi Pandemi? Ini Penjelasan Resmi WHO
-
Menuju Pemilu 2029 yang Berbeda, Titi Anggraini Soroti Potensi Keragaman Calon Pemimpin Nasional
-
33 Tahun Tragedi Marsinah, Aksi Kamisan ke-907 Soroti Militerisasi
-
Hantavirus: Antara Risiko Global di MV Hondius dan Kesiagaan di Pintu Masuk Indonesia
-
Jelaskan Istilah Mitra dengan Homeless Media, Bakom RI Beri Kronologi Pertemuan bersama INMF
-
Kaesang Lantik Pengurus DPW PSI Papua Tengah, Nama Jokowi Diteriakkan
-
Ada Kasus Pencabulan Anak di Balik Kasus Narkoba Etomidate WNA China