Suara.com - Ramalan mengenai resesi ekonomi dunia di 2023 sudah disampaikan banyak pihak, mulai dari pemerintah, para pimpinan negara, lembaga internasional hingga pakar ekonomi. Bahkan, sejumlah negara maju seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa diprediksi berpotensi mengalami resesi pada 2023 mendatang.
Lantas pertanyaan besar menghantui masyrakat, apakah Indonesia dapat bertahan sehingga tidak terjatuh dalam jurang resesi 2023?
Indonesia sendiri memiliki pengalaman besar dalam menghadapi krisis ekonomi, seperti yang terjadi pada tahun 1998 dan masa pandemi Covid-19. Kuncinya adalah Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) bisa menjadi penyelamat dari krisis itu.
Untuk itu, Pemerintah Indonesia pun dinilai perlu mendorong pengembangan sektor UMKM yang selama ini dianggap sebagai tulang punggung perekonomian negara.
Bukan tanpa alasan, berdasarkan data sektor UMKM telah menyumbang lebih dari 60% PDB negara setiap tahunnya. Selain itu, berdasarkan data yang dikeluarkan oleh UN Global Pulse, 97% dari total tenaga kerja nasional mendapatkan lapangan pekerjaan dari sektor UMKM. Bahkan, 64.5% dari total 117 juta pekerja di sektor tersebut merupakan wanita.
Dari data tersebut, membuktikan bahwa sektor UMKM bisa menjadi satu ujung tombak dalam menghadapi krisis ekonomi.
Oleh karena itu, Bappenas dan UNGP melalui Pulse Lab Jakarta (PLJ) dan Pulse Lab Finland (PLF) berkolaborasi meluncurkan laporan bersama menggunakan metode strategic foresight untuk membantu mengantisipasi kemungkinan di masa depan.
Metode foresight ini bermanfaat untuk merencanakan kebijakan dan melakukan tindakan denganpendekatan jangka panjang dan antisipatif, yang akan bermanfaat untuk memastikan bahwa berbagai skenario dan asumsi yang mungkin terjadi di masa depan telah diintegrasikan ke dalam pembuatan kebijakan.
Dengan menggunakan teknik ‘horizon scanning’ sebagai salah satu instrumen utama foresight, beberapa pertanyaan ditelaah, khususnya terkait apa saja isu-isu yang berkembang di dalam sektor tersebut dan faktor apa yang dapat mengubah dan mendisrupsi masa depan UMKM.
Baca Juga: Strategi Hyperlocal GOTO Lewat Tokopedia Tingkatkan 147% Transaksi UMKM Lokal
Setelah melalui proses yang panjang, terdapat lima faktor pendorong utama yang teridentifikasi, yakni: perubahan iklim, meningkatnya kemitraan untuk ekonomi berkelanjutan, munculnya sektor-sektor yang sedang berkembang dan pergeseran preferensi konsumen, melibatkan teknologi sebagai cara kerja baru, dan pekerjaan rentan dalam gig economy.
Sekretaris Kementerian PPN/Sekretaris Utama Bappenas, Bapak Taufik Hanafi pun tidak menampik, saat ini iklim usaha selalu berubah. Dunia usaha terutama UMKM tentu juga terkena dampak perubahan yang cukup luas mulai dari aspek produksi hingga pemasaran.
"Perubahan ini harus kita lihat sebagai kesempatan untuk UMKM agar dapat mengubah proses bisnis dengan mendayagunakan teknologi digital dan juga melakukan berbagai inovasi. Untuk itu kita harus memiliki kemampuan dalam memandang lebih jauh ke depan, visioner, serta menyusun dan menerapkan strategi yang bersifat preventif untuk membangun UMKM agar lebih tangguh dan adaptif," ujarnya.
Lebih lanjut, Taufik mengatakan, untuk saat ini dirinya memang belum berani memastikan seperti apa wajah UMKM Indonesia 20 tahun kedepan. Namun, pihaknya tengah menyusun sejumlah strategi sesuai dengan visi Indonesia Emas.
"Salah satu contoh kita melakukan proses untuk perencanaan kedepan, kita tentukan dulu visi terus gol-golnya apa, jadi kalo misalnya ingin jadi Indonesia modern itu harus seperti apa, jadi saya belum berani menentukan bahwa kira2 20 tahun kedepan indonesia seperti apa. Tapi kita sudah mengetahui setidaknya ada 5 faktor yang bisa dijadikan sebagai faktor pendorong," jelasnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Perwakilan PBB di Indonesia, Ms. Valerie Julliand, juga menekankan pentingnya penerapan strategic foresight agar suatu kebijakan dapat bermanfaat. Sehingga, kebijakan tersebut perlu dibuat dalam sebuah konteks yang spesifik.
Tag
Berita Terkait
-
Begini Pesan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo untuk Pelaku UMKM di Banyumas Raya
-
Erick Thohir Punya Program Khusus Buat UMKM Naik Kelas, Apa Saja?
-
5 Ancaman Siber yang Harus Diwaspadai Pelaku UMKM di 2023
-
Dukung Pertumbuhan UMKM Kuliner, Inilah Aplikasi Bisnis dengan Beragam Solusi
-
Kadin Bangun Wiki Wirausaha dan Platform Kadin Tech Hub
Terpopuler
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
- 5 Smart TV 43 Inci Full HD Paling Murah, Watt Rendah Nyaman Buat Nonton
- Adu Tajam! Persija Punya Mauro Zijlstra, Persib Ada Sergio Castel, Siapa Bomber Haus Gol?
Pilihan
-
Diduga Nikah Lagi Padahal Masih Bersuami, Kakak Ipar Nakula Sadewa Dipolisikan
-
Lebih dari 150 Ribu Warga Jogja Dinonaktifkan dari PBI JK, Warga Kaget dan Bingung Nasib Pengobatan
-
Gempa Pacitan Guncang Jogja, 15 Warga Terluka dan 14 KA Berhenti Luar Biasa
-
Gempa M 4,2 Guncang Pacitan Terasa hingga Yogyakarta: 7 Orang Luka dan Sejumlah Bangunan Rusak
-
Hakim PN Depok Tertangkap Tangan Terima Ratusan Juta dari Swasta, KPK Lakukan OTT!
Terkini
-
Bendera Gerindra Masih Mejeng di Flyover Jakarta, Satpol PP DKI: Berizin hingga 8 Februari
-
Ilusi Solusi Dua Negara dan Bahaya Langkah 'Sembrono' Indonesia di Board of Peace
-
Dasco: Partai Gerindra Ingin Hidup untuk 1000 Tahun
-
Muzani Pimpin Yel-yel di Senayan: Gerindra Menang, Prabowo Presiden, Presiden Dua Periode!
-
Mau Digaji Berapa Pun Tetap Korupsi! Anggota DPR Soroti Mentalitas Hakim Usai OTT di PN Depok
-
11 Juta Peserta BPJS PBI Tiba-Tiba Dinonaktifkan, DPR Soroti Dampak Fatal pada Pasien Gagal Ginjal
-
Siap-siap! Kejagung Bidik Mantan Bos BUMN Akal-akalan Usai Warning Keras Prabowo
-
Wamensos Salurkan Santunan Duka Korban Longsor Cisarua
-
Gegap Gempita Jakarta Sambut Imlek: Ada 'Kuda Raksasa' hingga Festival Barongsai di Sudirman-Thamrin
-
Wamensos Sebut Tragedi Siswa SD di NTT Alarm Keras, Program Sekolah Rakyat Jadi Kunci?