Suara.com - Manajer Riset dan Program, The Indonesian Institute, Center for Public Policy Research (TII), Arfianto Purbolaksono menyebut masih banyak anak muda yang belum mengetahui profil, visi-misi dan program kerja dari partai politik maupun kandidat calon presiden yang akan menjadi peserta Pemilu 2024. Itu menjadi pertanda kalau partai politik maupun kandidat capres belum menjangkau anak muda secara optimal.
Hal tersebut terungkap berdasarkan hasil angket yang dilakukan oleh TII pada 5 – 19 Desember 2022. Survei dilakukan dengan menggunakan metode snowballing yang melibatkan 94 responden anak muda dengan rentang usia 17 hingga 30 tahun atau yang telah menikah.
Dari 94 responden, 58,54 persen membutuhkan informasi terkait partai dan kandidat capres. Selanjutnya, 41,46 persen responden membutuhkan informasi terkait penyelenggaraan Pemilu.
Terkait 41,46 persen responden yang masih membutuhkan informasi penyelenggaraan Pemilu, Arfianto mengatakan bahwa berdasarkan temuan angket, anak muda membutuhkan informasi terkait penyelenggaraan Pemilu, dari tata cara hingga informasi TPS kelompok disabilitas. Hal ini menggambarkan bahwa sosialisasi dari penyelenggara Pemilu, khususnya Komisi Pemilihan Umum (KPU) belum berjalan secara optimal untuk menjangkau anak muda.
"Kebutuhan informasi tersebut di atas berkorelasi dengan temuan dalam angket ini yang menyatakan bahwa sebagian besar atau 56,38 persen responden jarang bahkan terdapat 5,32 persen responden yang tidak sama sekali mengakses berita tentang politik. Oleh karena itu, sangat wajar responden yang notabene anak muda membutuhkan informasi terkait profil partai dan kandidat serta penyelenggaraan Pemilu dan Pilkada Serentak 2024," kata Arfianto.
Arfianto juga mengatakan, selain faktor akses informasi, faktor lainnya yang cukup mempengaruhi rendahnya informasi anak muda terhadap partai politik dan kandidat capres serta penyelenggaraan Pemilu adalah keterlibatan politik anak muda dalam sebuah perkumpulan atau organisasi, karena perkumpulan atau organisasi merupakan media sosialisasi politik yang berkaitan erat dengan tingkat keterlibatan politik.
Dari hasil angket terdapat 49,48 responden paling banyak terlibat aktif dalam organisasi pelajar/ mahasiswa/ kepemudaan. Sedangkan untuk keterlibatan di partai politik sangat rendah. Sebanyak 91,49 persen responden tidak mengikuti sama sekali partai politik.
"Hal ini menggambarkan rendahnya keterlibatan politik anak muda dengan partai politik. Oleh karena itu, sangat wajar bila anak muda jadi tidak mengenal partai politik dan kandidat yang akan berlaga dalam Pemilu 2024," ujarnya.
Arfianto menambahkan, berdasarkan temuan angket ini, walaupun informasi yang masih minim mengenai partai dan kandidat serta penyelenggaraan Pemilu, mayoritas responden (85,11 persen) mengatakan berencana akan menggunakan hak pilihnya pada Pemilu dan Pilkada Serentak 2024. Artinya, terdapat kesadaran politik dari anak muda untuk berpartisipasi dalam Pemilu dan Pilkada Serentak 2024.
Baca Juga: Gus Yahya: Pemilu Harus Rileks, Jangan Baper-baperan
Kendati demikian, masih terdapat 13,83 persen responden yang belum menentukan sikapnya.
Arfianto lantas memberikan beberapa rekomendasi sebagai berikut. Pertama, partai politik serta kandidat capres perlu didorong untuk memberikan pendidikan politik yang baik, dengan memberikan informasi tentang visi, misi, dan program yang ditawarkan kepada kaum muda. Ini juga menjadi kesempatan bagi partai politik untuk membuka kesempatan luas bagi anak muda untuk ikut berkiprah dan berpartisipasi dalam politik secara signifikan.
Kedua, mendorong para partai politik serta kandidat capres untuk merespons isu-isu yang menjadi perhatian anak muda, seperti isu pendidikan, pemberantasan korupsi, dan lapangan kerja. Partai politik dan kandidat capres juga dapat merespon melalui kampanye yang informatif dan edukatif untuk menarik suara anak muda yang belum menentukan pilihannya.
Ketiga, mendorong, penyelenggara Pemilu dan Pilkada, khususnya KPU berkolaborasi dengan Organisasi Masyarakat Sipil, institusi pendidikan (sekolah dan universitas), serta lembaga penelitian atau think tank untuk meningkatkan kegiatan pendidikan politik untuk anak muda. Misalnya, dengan menggelar sosialisasi dalam bentuk diskusi dan sebagainya yang melibatkan multi pihak yang relevan dengan topik ini.
Berita Terkait
-
Pimpinan Komisi II DPR Tegaskan Mayoritas Fraksi Tetap Ingin Pemilu Terbuka pada 2024
-
Eks Napi Korupsi Ikut Pemilu 2024 Nanti, Romahurmuziy: Kami Butuh...
-
Pakar Hukum Unsoed Sebut Penegakan Kasus Tahun Ini Bakal Banyak Tantangan
-
Efek Jokowi Kerja Pengaruhi Elektabilitas Ganjar Pranowo - Prabowo Subianto, Kecuali Anies Baswedan
-
Kominfo Blokir 1.321 Hoaks Politik dan 11 Streaming TV Radikal Jelang Pemilu 2024
Terpopuler
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- 5 HP Memori 256 GB Harga di Bawah Rp2 Juta, Bisa Simpan Ribuan File dan Gaming
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
Pilihan
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
Terkini
-
Gubernur Jakarta Siapkan Jalur Bawah Tanah di Bundaran HI Buat Penjalan Kaki
-
Janji Pramono Anung di HUT ke-499 Jakarta: Banjir Masih Ada, Tapi Tidak Akan Separah Dulu
-
Pramono Ungkap Biang Kerok Kemacetan Jakarta, 8 Juta Orang Keluar-Masuk Setiap Hari
-
Unik! Demi Nonton Mahalini, Warga 'Nangkring' di Atas Mobil Damkar saat Perayaaan HUT Jakarta
-
Bocah Terpisah dari Ortu hingga Istri Kehilangan Suami Warnai Malam Puncak HUT DKI Jakarta
-
5 Peserta Latsarmil KDMP Tewas, Koalisi Sipil: Stop Militerisasi Ruang Sipil!
-
Kepercayaan Rakyat ke Polri Meroket, Rudianto Lallo: Modal Besar Tingkatkan Pelayanan
-
Kepercayaan Publik ke Polri Tembus 82,4 Persen, Sari Yuliati: Hasil Kerja Nyata dan Konsistensi
-
Pilih Uya Kuya Pimpin PAN Jakarta, Zulhas: Artis Itu Kreatif dan Kerjanya Produktif
-
HBL Mantiri Dikukuhkan jadi Ketua BPP PPAD Gantikan Try Sutrisno