- AS berencana melonggarkan sanksi minyak terhadap beberapa negara sebagai respon cepat kenaikan harga global pasca serangan ke Iran.
- Presiden Trump melakukan diskusi konstruktif selama satu jam dengan Presiden Putin membahas Iran serta sinkronisasi penanganan krisis energi dunia.
- Adanya ambisi AS untuk mengontrol cadangan minyak besar Iran dan Venezuela bertujuan melemahkan posisi ekonomi geopolitik China.
Suara.com - Situasi ekonomi energi dunia sedang berada di titik yang sangat labil setelah serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran pada akhir Februari lalu.
Lonjakan harga minyak yang tidak terkendali membuat Washington mulai memutar otak untuk menstabilkan pasar global.
Bahkan, muncul sinyal kuat bahwa AS bersedia melonggarkan sanksi terhadap beberapa negara demi menurunkan beban harga energi yang semakin menghimpit.
Berikut adalah lima fakta penting yang perlu Anda ketahui mengenai kondisi ini berdasarkan perkembangan terbaru.
Trump Berencana Mencabut Sebagian Sanksi Minyak
Dalam sebuah konferensi pers terbaru, Presiden Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa Amerika Serikat berencana untuk melepaskan atau memberikan pengecualian (waive) pada sanksi terkait minyak terhadap negara-negara tertentu.
Langkah ini diambil sebagai upaya darurat untuk menekan harga energi yang melonjak pasca-agresi militer ke Iran.
Sputnik Globe mencatatkan bahwa Trump bahkan memberikan isyarat bahwa setelah sanksi-sanksi tersebut dicabut, ada kemungkinan AS tidak akan memberlakukannya kembali jika perdamaian telah pulih di kawasan tersebut.
Diplomasi Telepon Satu Jam dengan Putin
Baca Juga: Serangan ke Pulau Mungil Ini Akan Lumpuhkan Iran, Mengapa Belum Dilakukan AS dan Israel?
Di tengah memanasnya isu energi, Donald Trump berinisiatif untuk menelepon Presiden Rusia Vladimir Putin selama kurang lebih satu jam.
Pembicaraan ini digambarkan bersifat bisnis dan konstruktif, dengan fokus utama pada konflik di Iran serta upaya perdamaian di Ukraina.
Mengingat Rusia adalah pemain besar dalam pengapalan minyak global, komunikasi rutin ini dipandang banyak pihak sebagai upaya sinkronisasi untuk menangani krisis energi dunia.
Harga Minyak Naik Akibat Faktor Buatan
Trump mengakui bahwa harga minyak mengalami kenaikan secara artifisial setelah serangan gabungan ke Iran pada 28 Februari lalu.
Meskipun ia mengklaim operasi militer tersebut sebagai sebuah kesuksesan, ia menyadari bahwa tindakan tersebut secara otomatis memicu gejolak harga di pasar.
Berita Terkait
-
Serangan ke Pulau Mungil Ini Akan Lumpuhkan Iran, Mengapa Belum Dilakukan AS dan Israel?
-
Vladimir Putin Batuk, Amerika Serikat dan Sekutunya Ketar-ketir
-
Muka Dua Inggris: Ngaku Tak Dukung Serangan AS-Israel tapi Larang Aksi Damai Pro Iran
-
Selat Hormuz Jadi Jalur Neraka di Iran, Meleng Dikit Pindah Alam
-
Pernyataan Pihak Iran Benjamin Netanyahu Tewas dengan Luka Parah
Terpopuler
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Dexlite Mahal, 5 Pilihan Mobil Diesel Lawas yang Masih Aman Minum Biosolar
- Awas! Jakarta Gelap Gulita Besok Malam, Cek Daftar Lokasi Pemadaman Lampunya
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
Pilihan
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
Terkini
-
SPAI Desak Pemerintah: Hapus Perbudakan Modern, Akui Pengemudi Ojol Sebagai Pekerja Formal!
-
Bukan Intervensi! Eks Penyidik: Usul KPK Capres Wajib Kader Partai Bentuk Kontribusi Pemikiran
-
Setelah 21 Tahun, Akankah Transjakarta Akhiri Era Tiket Murah Rp 3.500?
-
Misi Kemanusiaan Miss Cosmo 2025: Perkuat Akses Operasi Bibir Sumbing Gratis di Indonesia
-
Amerika Serikat Perluas Blokade Iran ke Selat Hormuz Hingga Samudra Pasifik dan Hindia
-
Perang AS - Iran Bikin Eropa Boncos, Biaya Impor Bahan Bakar Bengkak Rp 505 Triliun
-
Halalbihalal Tokoh Sumbagsel: Mendagri Tito Ajak Rumuskan Program Nyata 2027-2029
-
Gaji Jurnalis Pemula Disorot: Idealnya Rp 9,1 Juta, Faktanya Masih Banyak di Bawah UMR
-
PERKUPI Lantik Pengurus Jakarta, Tegaskan Peran Jaga Kerukunan Umat Beragama di Ibu Kota
-
Alasan KPK Dorong Capres hingga Cakada dari Kader Parpol: Demi Cegah Mahar Politik