Suara.com - Pihak petugas keamanan Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika Serikat (AS) memberlakukan pengamanan ketat buntut dari polemik blokade trotoar di depan gedung. Bahkan, jurnalis diprotes saat hendak mengambil gambar.
Seperti yang dialami jurnalis Suara.com pada Selasa (6/6/2023) siang. Ketika hendak mengambil foto blokade trotoar di perbatasan antara gedung Wapres dengan Kedubes AS, dua orang petugas berpakaian satpam Kedubes AS langsung datang menghampiri.
Salah satu orang petugas langsung mengambil foto jurnalis yang sedang meliput. Ia juga memfoto kendaraan jurnalis serta bertanya soal identitasnya.
"Dari mana mas? Media mana? Boleh lihat id cardnya," ujar petugas itu.
Petugas lainnya menyebut tidak boleh sembarangan mengambil foto blokade trotoar. Ia bahkan menyebut ada aturan khusus yang tak mengizinkan gedung Kedubes AS difoto sembarangan.
"Kenapa nggak boleh? Kan ini di jalan raya, saya foto fasilitas publik," kata jurnalis Suara.com.
"Nggak boleh memang, ada aturannya," jawab petugas itu.
Ditanya lebih lanjut soal aturan yang dimaksud, petugas itu tak bisa memberi jawaban. Ia kemudian meminta jurnalis memotret blokade itu tanpa terlihat bagian gedung Kedubes AS.
"Ya sudah saya nggak mau debat kusir, mas foto dari samping saja, jangan kelihatan gedungnya" tuturnya.
Baca Juga: Kedubes AS Beri Hibah Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu Pada Medco Energi
Akhirnya, ia pun mempersilahkan jurnalis Suara.com pergi setelah mendata identitas dan mengambil gambar.
Blokade sudah dilakukan pada sisi arah Jalan Ridwan Rais menuju patung kuda Arjuna Wijaya. Penutupan dilakukan dengan menggunakan pembatas beton besar.
Pejalan kaki yang ingin menuju ke arah Balai Kota DKI pun tak bisa melewati trotoar itu dan terpaksa harus berjalan lewat pinggir jalan raya.
Blokade lebih parah lagi dilakukan di trotoar depan Kedubes AS yang berbatasan dengan kantor Wapres RI. Trotoar ditutup sepenuhnya menggunakan pagar besi yang dililit kawat berduri.
Dikritik
Sebelumnya Ketua Koalisi Pejalan Kaki, Alfred Sitorus menyesalkan blokade trotoar ini. Pasalnya, trotoar merupakan fasilitas publik yang bebas diakses masyarakat.
Berita Terkait
-
Trotoar di Depan Kedubes AS Diblokade Sejak Jokowi Gubernur DKI, Koalisi Pejalan Kaki Meradang: Ini Ruang Publik!
-
Viral Diprotes, 5 Fakta Trotoar Kedubes AS di Jakarta Ditutup
-
Kedubes AS Beri Hibah Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu Pada Medco Energi
-
Heru Budi Aspal Trotoar dan Jalur Sepeda di Simpang Santa, PDIP: Penggunanya Sedikit
-
Dishub DKI Jakarta akan Mulai Evaluasi Rekayasa Lalu Lintas Simpang Santa Pada 26 April
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
Terkini
-
Dinilai Punya Kepribadian Baik, Uya Kuya Bakal Pimpin PAN Jakarta
-
Jawab Prabowo Soal Tidak Bisa Bikin Mobil Sendiri, UGM: Kuncinya di Keberpihakan Pemerintah
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
-
Mahfud MD Soroti Kemunduran Demokrasi, Sebut Politik Uang Gerus Penegakan Hukum
-
Panas Lagi! AS Luncurkan Serangan Balasan ke Iran Usai Insiden di Selat Hormuz
-
Jokowi Mulai Safari Politik, PAN Merasa Tak Terancam: Kami Tunggu PSI Lolos ke Senayan
-
Batas Penghasilan MBR Rp8 Juta Tak Cukup, Pemerintah Harus Tekan Biaya Hidup
-
Ucapan 'Adikku Sayang' Berujung Penganiayaan Caddy Golf, Pelaku Dibekuk di Lampung
-
Open House Sekolah Rakyat Surabaya, Orang Tua Terharu Lihat Perkembangan Siswa
-
Tak Relevan, Aksi Reformasi Jilid II Dinilai Bukan Aspirasi Mahasiswa