Van Leeuwen, yang meneliti catatan khusus soal Johan Ording di arsip-arsip Belanda dari era kolonial, menduga Wilders tumbuh dalam suasana ketidakpuasan komunitas Indo yang tidak terima Indonesia merdeka.
Orang-orang Indo dan Belanda kelahiran Nusantara juga juga mengalami krisis identitas. Mereka merasa tidak diterima di Belanda, negeri yang sungguh asing setelah lahir dan besar di Indonesia.
Menurut Van Leeuwen, 1 dari 5 orang Hindia Belanda yang pulang ke Belanda, akhirnya memutuskan untuk merantau kembali ke Amerika, Kanada atau Australia.
Sementara mereka yang bertahan bergabung dengan organisasi dan partai politik konservatif, yang mengagungkan nasionalisme, keunggulan budaya dan kesetiaan pada Kerajaan Belanda. Itu dilakukan untuk menunjukkan bahwa mereka bukanlah imigran seperti banyak pendatang dari Maroko maupun Turki.
Wilders mengawali kariernya di politik dengan menjadi asisten Frits Bolkestein, Ketua Partai Kebebasan dan Demokrasi (VVD). Bolkestein lahir dari ibu yang lahir di Indonesia. VVD dikenal sebagai salah satu partai yang menentang penyerahan Papua ke Indonesia pada dekade 1950an.
Pada 1997 Wilders berhasil menjadi anggota dewan lokal Utrecht. Pada momen yang sama ia mulai bersuara menentang arus imigran Turki di Utrecht.
Saat itu ia mulai bertransformasi. Ia mengambil kursus media, melatih dialek Limburg yang kelak jadi ciri khasnya dan bahkan mengecat rambutnya yang coklat menjadi perak.
Ia mulai mencuri perhatian saat terpilih sebagai anggota parlemen pada 1998 dari VVD. Jangkung dan berambut perak, ia menarik perhatian media. Tetapi adalah pidatonya dan aksinya yang sering berseberangan dengan kebijakan partai yang membuatnya kemudian terus disorot.
Anti Islam
Baca Juga: Profil Geert Wilders, Politikus Anti-Islam yang Menangkan Pemilu Belanda
Wilders mengatakan ia mengambil sikap anti Islam sejak sutradara kontorversial Belanda, Theo van Gogh tewas dibunuh seorang Muslim Belanda keturunan Maroko pada 2002 lalu.
Tetapi pengalamannya dengan Islam sudah dimulai sejak muda. Pada awal 1980an, setelah lulus sekolah menengah, ia pernah berkelana di Timur Tengah. Ia pergi ke Mesir, Suriah, Iran dan Israel.
Di Israel, ia sempat tinggal lebih dari setahun di kibutz yang berbatasan dengan Yordania. Pengalamannya tinggal di Israel itu memberinya kesan negatif terhadap Islam dan menumbuhkan rasa cinta pada Israel, negara yang disebutnya mercusuar demokrasi di kegelapan Timur Tengah.
Pada 2006, Wilders mendirikan partai PVV karena tidak puas dengan VVD. Ada tiga peristiwa, menurut Politico, yang membuat Wilders memutuskan untuk mendirikan partai yang dalam manifestonya terang-terangan anti Islam serta imigran.
Pertama adalah pembunuhan anggota parlemen konservatif Pim Fortuyn oleh seorang ekstremis environtalis pada 2002. Fortuyn, yang juga seorang gay, menjadi sorotan media karena secara terbuka mengecam Islam dan kebijakan imigrasi Belanda yang longgar.
Wilders dinilai mengambil kesempatan untuk melanjutkan gagasan Fortuyn. Ia memutuskan untuk keluar dari VVD karena memprotes kebijakan partai yang mendukung bergabungnya Turki dengan Uni Eropa. Ia menyebut Turki sebagai Kuda Troya yang akan menghancurkan dunia Kekristenan Barat.
Masih pada 2002, sutradara Theo van Gogh dibunuh oleh seorang warga Belanda keturunan Maroko. Mohammed Bouyeri, nama pelaku pembunuhan itu, mengatakan ia marah karena film Submission karya Van Gogh yang dinilai mendiskreditkan Islam.
Berita Terkait
-
Dubes Belanda Lambert Grijns: Media dan Jurnalis Punya Tanggungjawab dan Profesional Sampaikan Fakta
-
Dubes Belanda Terima Apresiasi Local Media Summit 2023, Dukung Media Profesional dan Bertanggungjawab
-
Surat Tanah Era Hindia Belanda di Balik Sengketa Lahan Dago Elos Bandung
-
Yusril Ihza Khawatir Jokowi Dicap Anti-Islam Gegara Larang Bukber, Menag Yaqut Langsung Pasang Badan
-
Gaduh Jokowi Larang Buka Puasa Bersama: "Pemerintah Bisa Dituduh Anti-Islam"
Terpopuler
- 5 Mobil Toyota Bekas yang Mesinnya Bandel untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Pajak Rp500 Ribuan, Tinggal Segini Harga Wuling Binguo Bekas
- 9 Sepatu Adidas yang Diskon di Foot Locker, Harga Turun Hingga 60 Persen
- 10 Promo Sepatu Nike, Adidas, New Balance, Puma, dan Asics di Foot Locker: Diskon hingga 65 Persen
- 5 Rekomendasi Sepatu Lari Kanky Murah tapi Berkualitas untuk Easy Run dan Aktivitas Harian
Pilihan
-
Petani Tembakau dan Rokok Lintingan: Siasat Bertahan di Tengah Macetnya Serapan Pabrik
-
Bos Bursa Mau Diganti, Purbaya: Tangkap Pelaku Goreng Saham, Nanti Saya Kasih Insentif!
-
Omon-omon Purbaya di BEI: IHSG Sentuh 10.000 Tahun Ini Bukan Mustahil!
-
Wajah Suram Kripto Awal 2026: Bitcoin Terjebak di Bawah $100.000 Akibat Aksi Jual Masif
-
Tahun Baru, Tarif Baru: Tol Bandara Soekarno-Hatta Naik Mulai 5 Januari 2026
Terkini
-
Bareskrim Bongkar Jaringan Judi Online Internasional, Puluhan Tersangka Ditangkap di Berbagai Kota
-
Ajang 'Pajang CV' Cari Jodoh: Fenomena Cindo Match di Mall of Indonesia
-
Hujan Deras Bikin 10 RT dan 3 Ruas Jalan di Jakarta Tergenang
-
Gus Yahya Bantah Tunjuk Kembali Gus Ipul sebagai Sekjen PBNU
-
Longsor Akibat Kecelakaan Kerja di Sumedang: Empat Pekerja Tewas
-
Polisi Tembakkan Gas Air Mata Bubarkan Tawuran di Terowongan Manggarai
-
Hujan Deras Genangi Jakarta Barat, Sejumlah Rute Transjakarta Dialihkan
-
Alasan Kesehatan, 5 Terdakwa Korupsi Pajak BPKD Aceh Barat Dialihkan Jadi Tahanan Kota
-
Mulai Berlaku 2 Januari 2026, Ini 5 Kebiasaan yang Kini Bisa Dipidana oleh KUHP Nasional
-
Misteri Satu Keluarga Tewas di Tanjung Priok, Ini 7 Fakta Terkini