Suara.com - Politikus Partai Gelora Fahri Hamzah menyentil peran tokoh perubahan pada permasalahan hak angket.
Hal itu disampaikannya saat hadir di acara Indonesia Lawyer Club (ILC) yang dipandu Karni Ilyas. Dalam salah satu segmen yang diunggahnya ulang di akun X @Fahrihamzah, Fahri menyindir mengenai hak angket dan manuver politik yang tidak ada relevansinya, meski itu konstitusional.
Dalam video tersebut Fahri menyampaikan sebagai pihak yang berada di kubu Prabowo-Gibran mengaku punya kepentingan agar tema rekonsiliasi diteruskan.
"Sehingga kita membayangkan sudahlah oke kita ada kekecewaan, tapi boleh nggak kita mencoba bersatu untuk melihat peluang yang baik bagi masa depan Indonesia secara baik ke depan. Saya lebih fokus pikirannya ke sana sekarang ini karena hasilnya sudah ada kan sebentar lagi," ujarnya dikutip pada Senin (18/3/2024).
Menurutnya, hasil Pilpres baik yang quick count atau exit poll semuanya telah dilakukan secara scientific. Fahri yang pernah menolak itu sebelumnya akhirnya mengakuinya.
"Marilah kita melihat bahwa inilah yang disebut dengan kehendak rakyat dan menghormati itu karena faktanya demikian itu," kata Fahri Hamzah.
Dia kemudian menyinggung soal konsistensi partai-partai oposisi.
"Oke kalau ada partai-partai (oposisi) misalnya, okelah kita mesti perbaiki ini, tadi yang diinginkan oleh saudara Haris (Azhar) apa namanya kita mau oposisi kuat. Betul nggak partai-partai ini berani mengumumkan sekarang, karena kami kalah kami tidak mau menjadi bagian dari pemerintah misalnya," kata Fahri Hamzah.
Jangan sampai itu justru menjadi negosiasi di antara partai politik. Karena itu, menurutnya, jika ingin menyehatkan sistem politik di Indonesia harus berani bertindak dan bersikap tegas.
Fahri lantas menyentil mengenai tema perubahan yang didengungkan beberapa kelompok saat Pilpres.
Baca Juga: Rekapitulasi Suara Pilpres 2024 di 33 Provinsi Tuntas, Tak Terlihat Kemenangan Ganjar-Mahfud
"Dari awal saya katakan itu kalau bicara perubahan itu paling tidak 3 aspek yang harus kita penuhi ide perubahannya apa, jaringan dan institusi perubahannya itu apa saja sebagai alternatif, yang ketiga tokoh perubahannya itu siapa. Betul nggak mereka ini punya mental untuk berubah menjadi apa pemimpin oposisi yang bertahan," bebernya.
Mantan anggota DPR RI tersebut menyindir sosok-sosok yang disebut tokoh perubahan, namun sudah tidak lagi muncul.
"Ada yang mulai siap-siap mempersiapkan karier barunya, ada yang mau maju Pilkada dan sebagainya. Nggak begitu bang, kalau kita ini betul-betul serius gitu harus ada dedikasi dan setia juga kepada cita-cita kita. Jangan ini semua adalah menjelang deal semuanya kita disuruh ribut di belakang layar," katanya.
"Jadi saya tidak percaya ada yang namanya angket ya karena saya tahu betul ini masalahnya sedalam apa, partai politik tidak akan berani mengambil risiko kalau ada investigasi hukum. Masyarakat sipil ini bisa-bisa nanti bilang bubarkan semua partai politik yang ada sekarang. Karena semua sudah terlibat dalam kerusakan ini berani nggak kalau kesimpulannya begitu," imbuhnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Menteri PU Panggil Pulang ASN Tugas Belajar di London Diduga Hina Program MBG
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- 5 Lipstik Wardah Tahan Lama dan Tidak Luntur Saat Makan, Cocok untuk Daily hingga Kondangan
- 5 HP Xiaomi Paling Murah 2026, Mulai Rp1 Juta Spesifikasi Mantap untuk Harian
Pilihan
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
Terkini
-
Amnesty Kritik RUU Tata Cara Pidana Mati yang Disiapkan Pemerintah Indonesia
-
Komarudin PDIP Usul Wapres Gibran Berkantor di IKN Agar Gedung Tak Mangkrak Usai Putusan MK
-
Bincang Singkat dengan Purbaya, Prabowo Tanya Dolar
-
Pemeriksaan Merambah Kelas TK, Polisi Buka Peluang Tersangka Baru Kasus Daycare Little Aresha
-
Dari Nakba 1948 hingga Reruntuhan Gaza: Kisah Pilu Pria Palestina yang Terusir dari Tanah Airnya
-
Isu Transfer Data WNI ke AS di Kesepakatan Prabowo Trump, Menkomdigi Buka Suara
-
Bantah Kepung Rumah dan Sandera Anak Ahmad Bahar, GRIB Jaya: Kami Datang Persuasif Mau Tabayun!
-
Amnesty International Sebut Eksekusi Mati Global 2025 Capai Rekor Tertinggi dalam 44 Tahun
-
Kemkomdigi Siapkan Aturan Baru: Wajib Cantumkan Nomor Telepon Saat Daftar Media Sosial
-
Akui Sakit Gigi di Depan Hakim, Noel Ebenezer Minta Izin ke Dokter Setelah Sidang