Suara.com - Rocky Gerung ikut mengomentari pernyataan anggota Komite HAM PBB, Bacre Waly Ndiaye yang mempertanyakan netralitas Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Pilpres 2024.
Dia meyakini ada peran Amerika Serikat di balik pernyataan Bacre Waly Ndiaye tersebut. Hal itu disampaikan saat hadir di acara 'Rakyat Bersuara' pada Selasa (19/3/2024).
Presiden Amerika Serikat disebutnya telah memainkan peran diplomasi politik, dengan mengucapkan selamat kepada Prabowo Subianto.
Baca Juga:
- Tolak Ganti Rugi, Pemilik Showroom Porsche Minta Pengemudi Xpander Diproses Hukum
- Temukan Hal Janggal, Kitabisa Hentikan Open Donasi Singgih Shahara yang Viral
- Diduga Biayai Kampanye Jokowi-Maruf di Pilpres 2019, JATAM Bongkar Gurita Bisnis Tambang Menteri Bahlil Lahdalia
Namun, di satu sisi memiliki peran terhadap kritikan yang disampaikan anggota Komite HAM PBB, Bacre Waly Ndiaye.
"Dugaan itu yang kita sebut sebagai tadi Presiden Joe Biden sudah mengucapkan selamat ke Pak Prabowo, selesai. Sudah diakui oleh, bukan dunia, (tapi) Amerika akui. Tapi pada saat yang sama kita tahu komisi HAM PBB itu uangnya datang dari Amerika paling banyak. Bahkan PBB (uangnya) datang paling banyak (Amerika)," kata Rocky Gerung dikutip dari kanal YouTube Official Inews, Rabu (20/3/2024).
Dari situ kemudian muncul dugaan dalang di balik kritik anggota kimite HAM PBB tersebut.
"Sekarang pertanyaannya siapa yang suruh Senegal itu (Bacre Waly Ndiaye) mengucapkan ada kecurangan dalam pemilu Indonesia. Taruhan sama saya orang yang suruh orang yang sama, Joe Biden. Itu yang namanya diplomasi politik. Dia mengucapkan selamat kepada Prabowo, tetapi ada kegagalan demokrasi pada siapa? Bukan pada Prabowo, (tetapi) pada Jokowi," beber Rocky Gerung.
Kritikan komite HAM PBB tersebut tentunya menjadi catatan bagi Republik Indonesia di mata dunia.
Prabowo Subianto, kata Rocky, punya tanggung jawab untuk memperbaiki hal itu setelah dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia. Meskipun yang tertuding dalam kritikan komite HAM PBB ialah Jokowi.
"Ini keputusan HAM Komnas di PBB itu menjadi catatan dibagi republik ini, yang harus diperbaiki oleh Prabowo sebagai presiden. Lah catatan itu akan terus ada di situ lepas dari mesin KPU.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Media Italia Bongkar Ada Kontrak Lebih dari Rp25 T di Balik Hibah Kapal Induk Giuseppe Garibaldi
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
Terkini
-
Cak Imin Minta Prabowo Revisi 108 Undang-Undang demi Kedaulatan Ekonomi
-
PKB Gaungkan Prabowonomics di Harlah ke-28, Cak Imin: Ini Bukan Akal-akalan
-
11 Warna Bedak yang Cocok untuk Kulit Hitam Manis, Dijamin Nampak Menyatu dan Flawless!
-
Cak Imin: Indonesia Kehilangan Arah Ekonomi Selama 25 Tahun
-
Peneliti Politik Hukum Beberkan Dugaan Anatomi Korupsi Eks Jampidsus
-
Di Hadapan Prabowo, Ijtima Ulama Sampaikan 3 Rekomendasi Strategis untuk Bangsa
-
Di Depan Prabowo, PKB Ngaku Siap Jadi Bagian Utama Wujudkan Anggaran Pro Rakyat
-
Kapolri Bertemu Direktur FBI, Sepakati Penguatan Investigasi dan Pertukaran Intelijen
-
Canda Cak Imin ke PKS: Tak Apa Kalah Main Mini Soccer, Asal Jangan Jumlah Kursi
-
Ijtima Ulama PKB Soroti Masa Depan PBNU, Minta Muktamar Jombang Bersih dari Praktik Transaksional