Suara.com - "Bukan lautan hanya kolam susu. Kail dan jala cukup menghidupimu. Tiada badai, tiada topan kau temui. Ikan dan udang menghampiri dirimu...", Begitu setidaknya Koes Plus menggambarkan Indonesia sebagai sebuah negara maritim. Negara yang terdiri dari ribuan pulau yang disatukan dengan sekitar dua pertiga atau 70 persen lebih lautan.
Tidak hanya semata-mata digali potensi lautnya yang masih jarang dieksplorasi. Konservasi menjadi bagian tak terpisahkan untuk menegaskan batasan penjelajahan dengan eksploitasi.
Berbagai upaya melestarikan sumber daya alam itu yang coba dilakukan di salah satu surga bagi para penyelam dan penggemar kehidupan laut yakni Taman Nasional Bunaken.
Konservasi di Bunaken
Terletak di Kota Manado, Sulawesi Utara, Taman Nasional Bunaken tersohor akan keindahan bawah lautnya yang menakjubkan. Keanekaragaman hayati laut yang kaya membuat kawasan di utara Pulau Sulawesi ini selalu menarik perhatian turis.
Berdasarkan catatan Taman Nasional Bunaken, kawasan tersebut diisi setidaknya oleh 390 spesies karang dari 75 genera dan 15 family. Selain sebagai sistm penyangga kehidupan, kekayaan itu yang sangat dicari oleh para penyelam dari seluruh dunia.
Keanekaragaman hayati itu memainkan peranan penting dan vital dalam berbagai aspek. Tidak hanya sebagai sumber pendapatan nelayan dari perikanan tetapi juga pelindung pantai dari gempuran ombak dan tempat tujuan wisata bawah laut nan mempesona.
Pengendali Ekosistem Ahli Balai Taman Nasional Bunaken, Adi Tri Utomo memastikan pihaknya rutin melakukan monitoring pengawasan terhadap kelestarian terumbu karang. Ada beberapa faktor yang membuat terumbu karang itu rusak.
"Faktor alam ini biasanya pemanasan global. Ada peningkatan suhu permukaan air laut itu memengaruhi kesehatan karang, pemutihan karang, kami monitoring itu," kata Adi saat ditemui di TN Bunaken, Jumat (9/8/2024).
Baca Juga: Peringati Hari Konservasi Alam, PDIP Gelar Seminar Dan Undang Para Pemulung Berdialog
Kemudian ada faktor alam lain yakni disebabkan dari predator karang. Pemeliharaan habitat dilakukan untuk memastikan predator karang tidak melebihi ambang batas.
Ada pula faktor non alam yang menyebabkan kerusakan terumbu karang. Biasanya, aktivitas manusia berupa penyelaman pemula menyebabkan kerusakan karang.
"Kalau kami ada kebijakan, kami tempatkan di tempat-tempat tertentu saja untuk yang penyelam pemula dan kegiatan snorkling. Kalau yang penyelam advance bisa dilokasi yang lain. Itu meminimalisir kerusakan karang oleh orang yang baru mau nyoba nyelam atau belajar snorkling," ungkapnya.
Tidak hanya mencegah kerusakan terumbu karang saja, kegiatan pemulihan pun tak luput dilakukan. Monitoring lokasi terumbu karang yang rusak dilakukan untuk pemulihan ekosistem sebelum dilakukan transplantasi.
Adi menuturkan sebelum tahun 2000-an, kondisi terumbu karang sempat mengalami kerusakan yang cukup lumayan. Namun saat ini kondisinya sudah relatif pulih.
Selain pemulihan dengan faktor alam, transplantasi karang merupakan cara untuk mempercepat pemulihan tersebut. Transplantasi dilakukan untuk merapatkan kembali titik-titik yang sempat gundul atau rusak.
Berita Terkait
-
Penataan Habiskan Anggaran Rp 96 Miliar, Jokowi Minta Warga Nggak Nyampah di Kawasan Pantai Malalayang dan Bunaken
-
Jokowi Sebut Turis Asing Berbondong-bondong Masuk ke Manado, 50 Homestay Disiapkan di Bunaken
-
Jokowi Bakal Kunjungi Bunaken hingga Pantai Malalayang Hari Ini
-
Wisata di Desa Budo dan Bunaken Sulut Dinilai Potensial untuk Dikembangkan
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
Terkini
-
Pertamina EP Adera Sambung Harapan Anak Putus Sekolah Lewat Program Sekolah Kembali
-
Apa Itu Aplikasi AMPERA 24/7? Kini Warga Palembang Bisa Akses Layanan Polisi dari Ponsel
-
Murid Mengeluh Sepatunya Mengganjal saat Dipakai Sekolah, Isinya Diduga Paket Sabu
-
5 Fakta Mahasiswa KKN Tenggelam di Sungai Rawas, Perahu Terbalik Usai Tabrak Kayu
-
Ada Apa di Kejari Kabupaten Bogor? Kasi Pidsus Mendadak Dipanggil Kejagung
-
Pemenuhan Gizi Jadi Fondasi Tumbuh Kembang Anak, Ini yang Harus Diketahui Orang Tua
-
Dari Gudang hingga Rumah, Begini Perjalanan Produk Sebelum Sampai ke Tangan Konsumen
-
Ancaman Belum Usai: Sosiolog UNJ Ingatkan Bentrokan Matraman Rawan Dibajak Isu SARA
-
Tuntas Uji Coba 3 Bulan, Pemkab Bogor Godok Rute Baru Bus Listrik Bojong Gede - Exit Tol Citeureup
-
Ditahan KPK, Moch Mahrus Suap Anggota DPR Rp1,5 Miliar demi Raih Hibah Pokmas Jatim