"Dari hasil pemeriksaan korban dipukul karena berbuat salah di sekolah," beber Febry.
Saat kejadian, Supriyani disebut sedang mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia. Korban ditegur karena diduga berperilaku kurang disiplin selama proses pembelajaran berlangsung.
Karena diabaikan, Supriyani menegur lebih keras. Ia memukul paha korban dengan batang sapu.
Orang tua korban yang tak terima lantas melaporkan kasus ini ke polisi. Awalnya, Polsek sempat melakukan mediasi terhadap keluarga korban dan pelaku, tapi tidak ada titik temu.
"Awalnya sempat disarankan oleh pak Kapolsek agar ibu Supriyani minta maaf secara baik-baik dan mengakui perbuataannya, tapi tidak (dilakukan). Kalau minta maaf, sebenarnya selesai," ucapnya.
Namun, beberapa hari berselang, Supriyani baru mendatangi rumah korban untuk meminta maaf. Kata Febry, pihak keluarga korban tak terima karena terduga pelaku selalu bercerita lain di luar.
"Makanya mediasinya gagal terus. Kasusnya lanjut ke penyidikan," tuturnya.
Polisi yang melakukan gelar perkara kemudian menaikkan kasus ini ke tahap penyidikan pada 15 Mei 2024. Penyidik menemukan dua alat bukti untuk menersangkakan Supriyani.
Walau sudah ditetapkan tersangka, Supriyani tidak ditahan.
Baca Juga: Polda Sultra Turun Tangan! Selidiki Dugaan Penyidik 'Nakal' di Kasus Guru vs Orang Tua Murid
Pada tanggal 16 Oktober, polisi melimpahkan berkas perkara kasus ini ke Kejaksaan Negeri Konawe Selatan. Supriyani barulah ditahan di Lapas Perempuan Kendari.
Belakangan, PN Kejari Konsel menangguhkan penahanannya.
Kata Febry, pihaknya transparan menangani kasus tersebut. Tidak ada permintaan uang dari polisi atau pihak korban seperti berita yang beredar.
"Tidak ada (permintaan uang). Keluarga pelapor bilang suami tersangka yang sempat datang membawa uang ke rumah korban tapi ditolak," ucapnya.
Kontributor : Lorensia Clara Tambing
Berita Terkait
Terpopuler
- Sejumlah Harga BBM Naik Hari Ini, JK: Tidak Bisa Tahan Lagi Negara Ini, Keuangannya Defisit
- 10 Bulan di Laut, 4000 Marinir di Kapal Induk USS Gerald Ford Harus Ngantri Buat BAB
- 5 Tinted Sunscreen yang Bagus untuk Flek Hitam dan Melasma
- 7 Bedak Compact Powder Anti Luntur Bikin Glowing Seharian, Cocok Buat Kegiatan Outdoor
- Kecewa Warga Kaltim hingga Demo 21 April, Akademisi Ingatkan soal Kejadian Pati
Pilihan
-
Gempa 7,5 M Guncang Jepang, Peringatan Tsunami hingga 3 Meter Dikeluarkan
-
Respons Santai Jokowi Soal Pernyataan JK: Saya Orang Kampung!
-
Pemainnya Jadi Korban Tendangan Kungfu, Bos Dewa United Tempuh Jalur Hukum
-
Penembakan Massal Louisiana Tewaskan 8 Anak, Tragedi Paling Berdarah Sejak Awal Tahun 2024
-
Viral Tendangan Kungfu ke Lawan, Eks Timnas Indonesia U-17 Terancam Sanksi Berat
Terkini
-
Wajah Terekam Pernah Beraksi, Maling Motor di Kebayoran Lama Tewas Diamuk Warga
-
Nus Kei Tewas Ditusuk di Bandara, Wakil Ketua Golkar: Saya Berharap Tak Ada Kaitannya dengan Politik
-
BMKG Pastikan Tsunami Jepang Tidak Sampai Indonesia
-
Jepang Dihantam Tsunami Pertama usai Gempa Besar 7,5 SR
-
Detik-detik Penembakan Massal di Kampus Iowa AS, 5 Orang Jadi Korban, Pelaku Belum Ditangkap
-
PM Jepang Minta Warganya Evakuasi ke Tempat Lebih Tinggi Usai Peringatan Tsunami 3 Meter
-
Ada Apa? Prabowo Mendadak Panggil Sejumlah Menteri dan Bos Pindad ke Istana Siang Ini
-
Kerusakan Serangan Iran ke Israel, Bikin 1000 Lebih Rumah Tak Layak Huni
-
Fakta Baru Aksi Pasukan Israel Hancurkan Patung Yesus, IDF: Gak Ada Niat!
-
Pasien RI Masih Berobat ke Luar Negeri, Pakar Dorong Integrasi Layanan Kesehatan ASEAN