Suara.com - Pejabat tinggi Lebanon mendesak Washington dan Paris untuk segera menekan Israel agar mematuhi gencatan senjata yang baru disepakati, menyusul serangkaian serangan militer Israel di wilayah Lebanon selatan.
Perdana Menteri sementara Najib Mikati dan Ketua Parlemen Nabih Berri mengungkapkan kekhawatiran ini kepada pejabat Gedung Putih dan pemerintah Prancis setelah lebih dari 50 pelanggaran gencatan senjata tercatat sejak diberlakukan pada 27 November.
Pelanggaran terbaru terjadi Senin lalu, ketika serangan udara Israel menewaskan 12 orang di Lebanon selatan, termasuk enam korban di Hariss dan empat di Taloussa.
Serangan ini memicu respons dari kelompok Hizbullah, yang meluncurkan roket ke pos militer Israel. Situasi ini memicu kekhawatiran akan potensi eskalasi lebih lanjut, membuat kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi AS semakin rapuh.
Gencatan senjata tersebut melarang Israel melakukan operasi militer ofensif di Lebanon dan mewajibkan Beirut mencegah serangan terhadap Israel dari kelompok bersenjata, termasuk Hizbullah.
Namun, pemerintah Israel mengklaim tindakan militer mereka bertujuan memastikan ketertiban gencatan senjata, bukan melanggar kesepakatan.
Sementara itu, mekanisme pemantauan yang dipimpin oleh AS untuk mengawasi pelaksanaan gencatan senjata baru akan mulai bekerja dalam beberapa hari mendatang.
Jenderal AS Jasper Jeffers telah bertemu dengan Mikati di Beirut, sementara perwakilan Prancis, Jenderal Guillaume Ponchin, dijadwalkan tiba minggu ini untuk memulai pertemuan komite.
Ketua Parlemen Nabih Berri menegaskan pentingnya percepatan kerja mekanisme ini agar pelanggaran tidak terus berlanjut.
Baca Juga: Prancis, Inggris dan Jerman ke Israel: Patuhi Kewajiban Internasional Segera!
"Ada urgensi untuk menyelesaikan mekanisme ini, jika tidak, akan terlambat," ujar salah satu sumber kepada Reuters.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS, Matt Miller, mengakui adanya pelanggaran gencatan senjata, tetapi menyatakan bahwa perjanjian ini masih berlaku.
Prancis juga mendesak kedua pihak untuk mematuhi perjanjian tersebut, sebagaimana disampaikan Menteri Luar Negeri Jean-Noel Barrot kepada rekannya dari Israel.
Berita Terkait
-
Prancis, Inggris dan Jerman ke Israel: Patuhi Kewajiban Internasional Segera!
-
Hamas dan Fatah Sepakat Bentuk Komite Bersama untuk Mengelola Gaza Pasca-Perang
-
Gaza Mencekam: Rumah Sakit Kewalahan, Drone Israel Bombardir Sekolah Pengungsian
-
Dukung Suriah Lawan Teroris, Iran Sebut Zionis-Amerika Punya Skema Soal Ini
-
PBNU Beri Catatan Soal Gerakan Boikot Produk Israel: Harus Cerdas
Terpopuler
- Intip Kekayaan Ida Hamidah, Pimpinan Samsat Soetta yang Dicopot Dedi Mulyadi gara-gara Pajak
- Dicopot Dedi Mulyadi Gegara KTP, Segini Fantastisnya Gaji Kepala Samsat Soekarno-Hatta!
- 6 HP Snapdragon Paling Murah RAM 8 GB untuk Investasi Gadget Jangka Panjang
- HP Xiaomi yang Bagus Tipe Apa? Ini 7 Rekomendasinya di 2026
- Sabun Cuci Muka Apa yang Bagus untuk Atasi Kulit Kusam? Ini 5 Pilihan agar Wajah Cerah
Pilihan
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
Terkini
-
Jeritan Ayah di Gaza Menanti Evakuasi 4 Anaknya yang 6 bulan Terkubur Beton di Masa Gencatan Senjata
-
Eksaminasi 9 Pakar Hukum UI dan UGM: Putusan Kerry Riza Hasil dari Unfair Trial
-
Boni Hargens Launching Buku Ilmu Politik, Singgung Soal Pernyataan Saiful Mujani, Termasuk Makar?
-
Dasco: Bupati Tulungagung yang Kena OTT KPK Bukan Gerindra, Wakilnya Baru Kader
-
Panas Diendus KPK, Pengamat Tantang Polri Ungkap Produksi Rokok Ilegal
-
Pesan Menohok Foke soal Beasiswa LPDP: Anak Betawi Nilainya Harus 11 untuk Bisa Jadi Tuan di Jakarta
-
Ratusan Dapur MBG Di-Suspend! BGN Temukan Masalah Serius dari Menu hingga Higiene
-
Lebaran Betawi 2026 Meriah di Lapangan Banteng, Pramono: Ini Identitas Asli Jakarta
-
Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus, Komnas HAM Tunggu Izin Panglima TNI Periksa 4 Prajurit
-
Fakta Baru OTT di Tulungagung: Adik Bupati Juga Ikut Diamankan KPK