Suara.com - Perselisihan sengit antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di Ruang Oval tidak hanya mengguncang hubungan diplomatik kedua negara, tetapi kini berdampak langsung pada logistik militer AS di Eropa.
Perusahaan energi asal Norwegia, Haltbakk Bunkers, secara resmi mengumumkan bahwa mereka akan menghentikan pasokan bahan bakar bagi pasukan dan kapal militer AS di Norwegia. Keputusan ini diambil sebagai bentuk protes terhadap perlakuan Trump terhadap Zelenskyy selama pertemuan di Gedung Putih pekan lalu, yang berujung pada ketegangan dan pembatalan kesepakatan terkait hak mineral.
Dalam pernyataan resminya, Haltbakk Bunkers menegaskan, tidak ada bahan bakar untuk warga Amerika. Perusahaan itu mengecam pertemuan yang mereka sebut sebagai tayangan langsung terbesar dari kekacauan pemerintahan Amerika saat ini.
"Tidak Ada Bahan Bakar untuk Orang Amerika! Kami mendorong semua warga Norwegia dan Eropa untuk mengikuti contoh kami. SLAVA UKRAINA" bunyi pernyataan tersebut.
Pemilik perusahaan, Gunnar Gran, menambahkan bahwa mereka memiliki "kompas moral" yang selama ini membuat mereka menolak berbisnis dengan Rusia setelah invasi ke Ukraina. Namun, karena sikap pemerintahan Trump terhadap Kyiv, kini Amerika Serikat juga masuk dalam daftar negara yang diboikot.
"Itu memberi banyak pendapatan tambahan bagi banyak pesaing kami. Kami kehilangan banyak pendapatan. Namun, kami memiliki kompas moral. Sekarang Amerika Serikat dikecualikan berdasarkan perilaku mereka terhadap Ukraina." katanya.
Larangan ini mulai berlaku segera dan akan berdampak besar pada operasi logistik militer AS di wilayah Eropa Utara, terutama bagi kapal-kapal AS yang singgah di pelabuhan Norwegia.
Keputusan Trump untuk menekan Zelenskyy dan mempertimbangkan penghentian bantuan militer ke Ukraina juga menuai kecaman dari dalam negeri. Sejumlah politisi Partai Republik menentang pendekatan keras presiden AS tersebut.
Senator Lisa Murkowski dari Alaska menulis di platform X, "Saya muak karena pemerintahan tampaknya menjauh dari sekutu kita dan merangkul Putin."
Baca Juga: Rusia Ejek Zelenskyy Usai Perdebatan Sengit dengan Donald Trump: Babi Kurang Ajar!
Anggota Kongres Don Bacon dari Nebraska juga mengkritik langkah Trump, dengan menyatakan, "Hari yang buruk bagi kebijakan luar negeri Amerika. Ukraina menginginkan kemerdekaan dan supremasi hukum. Rusia membenci kita dan nilai-nilai Barat kita. Kita harus jelas bahwa kita mendukung kebebasan."
Sementara itu, Brian Fitzpatrick dari Pennsylvania mengungkapkan keprihatinannya atas dampak jangka panjang dari konflik ini. "Sudah saatnya mengesampingkan emosi dan kembali ke meja perundingan," ujarnya.
Mike Lawler dari New York menambahkan bahwa konfrontasi ini telah menjadi bencana bagi kebijakan luar negeri AS. "Diplomasi itu sulit dan sering kali ada perbedaan pendapat yang serius di balik pintu tertutup. Jika hal ini sampai ke publik, itu adalah bencana — terutama bagi Ukraina."
Sementara pemerintahan Trump menghadapi tekanan dari dalam negeri dan luar negeri, Eropa semakin memperkuat solidaritasnya terhadap Ukraina. Perdana Menteri Inggris Sir Keir Starmer secara terbuka menunjukkan dukungan dengan menerima Zelenskyy di Downing Street pada Sabtu lalu.
Pertemuan tersebut digambarkan oleh Zelenskyy sebagai "bermakna dan hangat," dengan kedua pemimpin berulang kali berpelukan sebagai tanda solidaritas. Para pemimpin Eropa lainnya juga berkumpul di London untuk merumuskan langkah bersama dalam mendukung Ukraina sebelum Sir Keir bertolak menemui Raja Inggris.
Dengan perpecahan dalam pemerintahan AS dan meningkatnya dukungan Eropa terhadap Ukraina, dampak dari konfrontasi Trump-Zelenskyy tampaknya akan terus berlanjut dalam dinamika geopolitik global.
Berita Terkait
-
Rusia Ejek Zelenskyy Usai Perdebatan Sengit dengan Donald Trump: Babi Kurang Ajar!
-
Ternyata Zelenskyy Sudah Diperingatkan Agar Tak Mudah Terpancing Sebelum Debat Sengit dengan Trump
-
Penasihat Trump Sebut AS Butuh Pemimpin Ukraina yang Siap Berdamai dengan Rusia
-
Partai Republik Desak Presiden Ukraina Mundur, Zelenskyy: Saya Bisa Ditukar dengan NATO
-
Donald Trump dan Presiden Ukraina Tak Sejalan? Kremlin Sebut Kebijakan AS Sama dengan Visi Rusia
Terpopuler
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
- 3 Sepatu Jalan untuk Lansia Paling Nyaman, Hands Free Tak Perlu Membungkuk
- Spanduk Polwan saat Adang Aksi BEMI UI Kena Rujak Netizen: Bu Polwan Salah Bawa Spanduk?
- Kulkas Sharp 2 Pintu Berapa Harganya? Ini 3 Pilihan yang Dingin dan Hemat Listrik Sesuai Review
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Korupsi KUR BSI Rp9,5 Miliar di OKI, Uang Pengganti 3 Terdakwa Tembus Rp9 Miliar
-
Buaya Muara 3 Meter Mendadak Muncul di Pantai Pasir Putih Cihara
-
Tenis Meja Indonesia Bidik 8 Besar di Asian Games 2026
-
Gempa NTT, PDIP Kirim Bantuan Khusus untuk Ibu Hamil dan Anak
-
Diisukan Ada OTT KPK, Begini Kondisi Kompleks Pemkab Bogor Malam Ini
-
Yasonna Laoly Dukung Kewarganegaraan Ganda Terbatas Usulan Prabowo: Demi Kepentingan Nasional
-
Purbaya: Pembatasan Subsidi BBM Hemat Anggaran 10 Persen
-
Sudah Beroperasi Tanpa Tarif, Tol Betung-Tempino-Jambi Seksi Bayung Lencir-Pijoan Segera Bertarif
-
Siapa yang Menentukan Audit BPK di 3 Daerah Sumsel? Ini yang Kini Didalami KPK
-
Minta Praperadilan Febrie Ditolak, Kejagung: Tak Ada Duplikasi Penetapan Tersangka