News / Nasional
Kamis, 21 Mei 2026 | 15:36 WIB
Ilustrasi teror pocong, modus berulang yang digunakan pelaku kejahatan. [Suara.com/Rochmat]
Baca 10 detik
  • Pelaku kejahatan di berbagai daerah menggunakan modus teror pocong untuk menciptakan kepanikan pengendara demi melancarkan aksi kriminalitas.
  • Kemunculan sosok pocong di tempat gelap memicu refleks kejut yang melumpuhkan nalar dan kesigapan korban saat berkendara.
  • Polisi meningkatkan patroli dan mengimbau warga agar tetap waspada serta tidak mudah menyebarkan informasi horor yang belum terverifikasi.

Suara.com - Malam di Cipondoh mendadak dipenuhi bisik-bisik ketakutan. Video dan narasi tentang “teror pocong” menyebar cepat di grup WhatsApp warga. Dalam hitungan jam, kepanikan menjalar dari layar ponsel ke jalanan.

Polisi menduga kegaduhan itu bukan sekadar cerita mistis. Di balik sosok pocong yang muncul di jalan gelap, ada dugaan modus kriminal untuk menciptakan kepanikan sebelum pelaku menjalankan aksi pencurian atau perampokan.

Yang menarik, modus seperti ini tetap efektif di tengah era serba digital. Di zaman kamera CCTV, maps digital, dan kecerdasan buatan, manusia modern ternyata masih bisa lumpuh hanya oleh siluet putih di tengah jalan minim penerangan.

Di titik itulah “pocong” berubah makna. Ia bukan lagi sekadar hantu dalam cerita lama, melainkan alat distraksi psikologis yang dirancang untuk memicu syok instan, memutus konsentrasi, dan membuat korban lengah dalam sepersekian detik.

Kepanikan kolektif bahkan menyebar lebih cepat daripada klarifikasi polisi. Ketika rasa takut sudah terbentuk, logika sering kali kalah oleh respons spontan tubuh manusia.

Memanfaatkan Refleks Kaget

Cara kerja modus ini sebenarnya sederhana, tetapi efektif karena menyerang refleks paling dasar manusia: rasa terkejut.

Pelaku tidak sekadar ingin menakut-nakuti pengendara untuk hiburan jalanan. Sosok pocong sengaja dimunculkan agar korban mengerem mendadak, kehilangan fokus, bahkan jatuh karena panik dalam sepersekian detik.

Dalam kondisi terkejut, otak manusia cenderung kehilangan kemampuan membaca situasi secara rasional.

Baca Juga: Begal Bersenpi Ditangkap di Pasar Rebo, Sudah Beraksi di 6 Lokasi Jakarta Timur hingga Bekasi

Saat korban menoleh, memperlambat kendaraan, atau sibuk memastikan apa yang dilihatnya, ruang kosong di titik buta terbuka bagi pelaku lain untuk mendekat dan menjalankan aksi kriminal.

Pola itu menjelaskan mengapa lokasi kejadian hampir selalu dipilih di jalur sepi, minim penerangan, dan jauh dari keramaian.

Jalur seperti Layapan di Karawang atau sejumlah ruas sunyi di Depok dipilih bukan tanpa alasan. Minim cahaya membuat otak manusia lebih mudah salah menafsirkan ancaman.

"Tempat gelap membuat otak bekerja dengan data visual yang minim," kata Andhita Dyorita Khoiryasdien, Psikolog dari Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta kepada Suara.com, Rabu (20/5/2026).

Dalam situasi seperti itu, otak cenderung mengisi kekosongan informasi dengan memori dan asumsi yang sudah tertanam sejak lama.

Karena masyarakat Indonesia akrab dengan cerita pocong sejak kecil, siluet putih di malam hari lebih cepat diasosiasikan sebagai ancaman supranatural dibanding objek biasa.

"Yang bikin bahaya itu bukan apa yang ada di depan mata, tetapi bagaimana otak menafsirkan sesuatu yang belum jelas," ujarnya.

Saat Otak Panik, Pelaku Bergerak

Menurut Andhita, kekuatan utama modus ini sebenarnya bukan pada sosok pocong itu sendiri, melainkan pada cara otak manusia merespons ancaman mendadak.

Saat seseorang melihat siluet putih di tempat gelap, otak tidak langsung bekerja secara rasional untuk memverifikasi apa yang dilihat.

"Otak memakai jalur cepat ancaman," ucapnya.

Dalam sepersekian detik, sinyal visual bergerak dari mata menuju thalamus lalu ke amigdala, bagian otak yang membaca bahaya, sebelum logika sempat mengambil alih.

Tubuh kemudian otomatis masuk ke mode bertahan hidup: adrenalin meningkat, napas memburu, otot menegang, dan respons fight or flight aktif.

Namun dalam banyak kasus, respons tubuh tidak berhenti pada fight atau flight. Tubuh justru masuk ke kondisi freeze, yakni membeku selama beberapa detik.

"Orang sampai nge-freeze, tubuh kaku, tangan susah gerak, suara enggak keluar, kaki lemes, otak blank," ujarnya.

Bagi pengendara motor, kondisi ini sangat berbahaya. Tubuh membutuhkan koordinasi visual, keseimbangan, kontrol rem, dan pengambilan keputusan secara bersamaan.

Ketika refleks kejut atau startle response muncul mendadak, otak berpindah dari mode presisi ke mode bertahan hidup.

Di momen itulah pelaku kriminal bekerja. Korban berhenti mendadak, kehilangan kendali, atau lengah karena fokusnya tersedot pada sosok yang dianggap ancaman.

"Bukan karena saraf tiba-tiba mati, tapi karena sistem saraf alarm biologis mengambil alih. Makanya yang terlihat seperti lumpuh saraf motoriknya," paparnya.

Efek psikologis itu diperkuat oleh penularan emosi di tengah masyarakat. Satu orang yang panik dapat memindahkan rasa takut kepada orang lain bahkan sebelum mereka melihat kejadian secara langsung.

Andhita menyebut fenomena ini sebagai emotional contagion.

Rasa takut itu menular. Satu orang panik dan cerita, emosinya ikut pindah ke orang lain.

Video pendek di TikTok, potongan cerita, hingga pesan berantai di grup WhatsApp membuat sosok pocong berubah menjadi ancaman kolektif yang terasa nyata.

Ketika ketakutan menyebar massal, pelaku kriminal bahkan tidak selalu membutuhkan senjata tajam. Kepanikan itu sendiri sudah cukup untuk melumpuhkan kewaspadaan korban.

Infografis teror pocong. Mengapa modus ini masih digunakan pelaku kejahatan? [Suara.com/Rochmat]

Modus Lama yang Terus Berulang

Jika ditarik ke belakang, taktik manipulasi visual semacam ini sebenarnya bukan hal baru. Polanya terus berulang dan mengalami evolusi.

Pada 2017, warga Surabaya sempat dihebohkan aksi sekelompok remaja berkostum pocong yang menghadang pengendara demi konten dan lelucon.

Dua tahun kemudian, kasus serupa muncul di Depok dan Karawang. Sosok pocong muncul di jalur minim penerangan yang dikenal rawan kriminalitas.

Dari waktu ke waktu, pola itu berubah. Dari yang awalnya dianggap prank jalanan menjadi teknik distraksi yang membuka peluang tindak kriminal.

Sosiolog UGM, R. Derajad Sulistyo Widhyharto, menilai modus seperti ini efektif karena bertumpu pada kultur masyarakat Indonesia yang masih dekat dengan dunia mistis.

Menurut dia, modernitas ternyata tidak otomatis menghapus kepercayaan terhadap hal-hal gaib.

Masyarakat Indonesia hidup dalam persilangan antara rasionalitas dan spiritualitas. Di satu sisi semakin terdidik, tetapi di sisi lain tetap memelihara keyakinan terhadap makhluk tak kasat mata melalui agama, tradisi, dan cerita turun-temurun.

Celah budaya itulah yang dibaca secara cerdik oleh pelaku kriminal.

"Memanfaatkan kedekatan masyarakat dengan hal-hal yang bersifat gaib. Ending-nya itu kriminal, cuma dia menggunakan metode atau caranya itu adalah dengan cara pocong tadi," kata Derajad kepada Suara.com.

Ketika korban percaya bahwa ancaman yang muncul adalah sesuatu yang gaib, kemampuan nalar melemah dan respons spontan mengambil alih. Rasa takut menjadi pintu masuk paling mudah untuk melumpuhkan kewaspadaan.

Patroli Ditingkatkan

Meningkatnya teror pocong yang diduga dipakai sebagai modus kriminal membuat aparat mulai membaca pola ancaman yang lebih serius.

Polresta Tangerang memastikan isu tersebut bukan sekadar keresahan warga biasa, melainkan siasat untuk menciptakan kepanikan agar lingkungan menjadi lengang dan mudah disusupi pelaku pencurian maupun perampokan.

Kapolresta Tangerang Kombes Andi Muhammad Indra Waspada Amirullah meminta masyarakat tidak ikut menyebarkan narasi horor yang belum terverifikasi.

"Jangan sampai masyarakat merasa takut yang justru dimanfaatkan untuk melakukan tindak pidana," kara Indra.

Sebagai respons, patroli malam hingga dini hari diperketat dengan melibatkan Bhabinkamtibmas, Babinsa, dan perangkat lingkungan.

Warga juga didorong kembali mengaktifkan ronda malam atau siskamling untuk mempersempit ruang gerak pelaku.

Namun menurut Derajad, penanganan kasus seperti ini tidak cukup hanya dengan patroli keamanan.

Edukasi publik diperlukan agar masyarakat memahami bahwa teror mistis semacam itu sering kali berujung pada kriminalitas.

"Yang pertama adalah menunjukkan pola bahwa ending dari kasus-kasus seperti ini adalah kriminalitas. Ending-nya adalah orang saling menipu. Ini tidak pernah diperkenalkan oleh polisi," tandas Derajad.

Tanpa kesadaran rasional di tengah masyarakat, Drajad menilai teror serupa akan terus menemukan ruang hidup. Sebab yang sebenarnya dimanfaatkan pelaku bukanlah hantu, melainkan ketakutan manusia itu sendiri.

Load More