Tantangan muncul dalam proses identifikasi korban dalam jumlah besar, yang menegaskan perlunya koordinasi dukungan internasional.
Pemerintah melalui kementerian dan lembaga terkait meluncurkan sebagai respons kemanusiaan bagi para korban asal Indonesia. Total, hingga saat ini telah ada 400 korban yang dipulangkan ke Indonesia.
"Selama bekerja di bawah sindikat online scam, korban asal Indonesia mengalami tekanan berat dan kekerasan fisik, termasuk pemukulan dan penyetruman. Mereka juga diancam dengan pengambilan organ tubuh jika gagal mencapai target yang diberikan oleh para penculik," kata Menko Politik dan Keamanan Budy Gunawan, dalam keterangannya, Selasa (18/3/2025).
Sementara itu, Kepala Unit Penanggulangan Perdagangan Orang, atau atau Organization of Migration (IOM) Eny Rofiatul Ngazizah mengatakan, pihaknya telah memberikan pelatihan khusus bagi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Thailand.
"IOM memberikan pelatihan khusus bagi staf Kedutaan Besar Indonesia di Thailand pada akhir Februari lalu, untuk meningkatkan kapasitas staff KBRI dalam mengidentifikasi dan membantu para korban perdagangan orang," ucapnya.
Selain itu, IOM mendukung tersedianya penampungan sementara bagi para korban yang kembali di Jakarta, dengan bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Sosial untuk memberikan layanan perawatan dan bantuan tindak lanjut yang diperlukan guna mendukung reintegrasi para korban.
Langkah ini penting untuk mendukung reintegrasi korban ke masyarakat.
Perdagangan orang di sektor online scam marak karena modus yang semakin canggih. Pelaku sering menawarkan pekerjaan dengan gaji tinggi di luar negeri, terutama melalui platform online.
Setiba di lokasi, korban justru dipaksa bekerja sebagai pelaku penipuan online, seperti penipuan investasi atau penjualan barang palsu.
Baca Juga: 554 WNI Disiksa Selama Disandera Mafia Online Scam di Myanmar: Diancam Organ Tubuhnya Diambil!
Mereka diisolasi, dipantau ketat, dan mengalami kekerasan jika menolak.
Kasus perdagangan orang di Asia Tenggara, khususnya di sektor online scam, adalah masalah serius yang membutuhkan perhatian bersama. Dengan langkah-langkah konkret, kita bisa mengurangi angka korban dan memberikan perlindungan bagi mereka yang rentan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
- Sepeda Lipat Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Rekomendasi Terbaik untuk Gowes
Pilihan
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
-
Benjamin Netanyahu Resmi Diseret ke Pengadilan Duduk di Kursi Terdakwa
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
Terkini
-
Pusing Harga Pakan Naik? Peternak di Lombok Ini Sukses Tekan Biaya Hingga 70 Persen Lewat Maggot
-
Persib Perketat Keamanan Jelang Lawan Bali United, Suporter Tamu Dilarang Hadir
-
Petaka di Parkiran Pasar: Nabi Tewas Digorok, Pelaku Dihabisi Massa, Polisi Diam
-
DPR Minta Kemenaker Siaga Hadapi Ancaman PHK Akibat Gejolak Global
-
Kejati Jakarta Sita Sejumlah Dokumen Usai Geledah Ruangan Dirjen SDA dan Cipta Karya Kementerian PU
-
Diperiksa KPK, Haji Her Bantah Kenal Tersangka Korupsi Bea Cukai
-
Lift Mati Saat Blackout, 10 Penumpang MRT Lebak Bulus Dievakuasi Tanpa Luka
-
Ada Nama Riza Chalid, Kejagung Tetapkan 7 Tersangka Dugaan Korupsi Petral
-
Al A'Raf: Panglima TNI dan Menhan Harus Diminta Pertanggungjawaban di Kasus Andrie Yunus
-
PLN Buka Suara Soal Listrik Padam di Jakarta, Begini Katanya