Suara.com - Kampanye militer AS yang diperintahkan oleh Presiden Donald Trump terhadap kelompok Houthi Yaman memasuki hari kesepuluh, menyusul serangkaian serangan terkonsentrasi di ibu kota, Sanaa, dan benteng mereka di utara Saada.
Kelompok yang didukung Iran itu tetap bungkam mengenai kerugiannya, termasuk nasib para pemimpin yang menjadi sasaran dan kemampuan militer, dalam upaya yang jelas untuk mempertahankan moral para pendukungnya.
Eskalasi itu terjadi setelah gagalnya fase kedua gencatan senjata antara Hamas dan Israel di Gaza.
Sebagai tanggapan, Presiden AS Donald Trump memerintahkan serangan militer yang menentukan terhadap Houthi, bersumpah untuk mengerahkan "kekuatan mematikan" untuk melenyapkan kelompok itu.
Namun, pengamat Yaman tetap skeptis tentang efektivitas serangan jika terus berlanjut dengan kecepatan yang sama seperti yang dilakukan selama pemerintahan Joe Biden.
Serangan udara yang intens pada malam hari pada hari Minggu menargetkan tempat persembunyian Houthi dan fasilitas penyimpanan militer di sebelah barat Sanaa, di tengah spekulasi bahwa tokoh-tokoh senior mungkin telah terkena serangan.
Kelompok itu mengklaim serangan itu menghantam sebuah bangunan perumahan di lingkungan Asr di distrik Maeen di ibu kota, menewaskan satu orang dan melukai 15 lainnya, termasuk wanita dan anak-anak.
Di Saada, media milik kelompok itu melaporkan empat serangan udara di pinggiran kota, diikuti oleh dua serangan lagi di distrik Sahar dan Saqin.
Serangan terbaru itu memperpanjang serangkaian serangan di provinsi utara yang terjal itu dalam beberapa hari terakhir.
Baca Juga: Ikuti Cara Trump, Inggris Mulai PHK 10 Ribu PNS untuk Hemat Anggaran
Analis memperkirakan serangan itu kemungkinan menargetkan situs-situs berbenteng yang menampung kemampuan militer canggih—seperti rudal dan pesawat nirawak—bersama dengan para ahli yang mengawasi penyebarannya.
Sejak peluncuran kampanye militer AS terbaru, Washington hanya memberikan sedikit rincian tentang target spesifik Houthi tetapi bersikeras serangan itu berlangsung sepanjang waktu, yang ditujukan untuk menjaga navigasi maritim di Laut Merah.
Selama pemerintahan Biden, pasukan AS dan Inggris melakukan sekitar 1.000 serangan udara terhadap posisi Houthi antara 12 Januari 2024, dan dimulainya gencatan senjata Gaza.
Meskipun terus menerus dibombardir, kelompok itu tetap melanjutkan serangannya, yang menurut Washington didukung oleh Iran.
Lebih dari 100 serangan
Houthi telah menghadapi lebih dari 100 serangan udara dan laut sejak 15 Maret, yang menargetkan posisi berbenteng di Sanaa, Saada, Marib, Al-Jawf, Al-Bayda, Dhamar, dan Hajjah, serta berbagai lokasi di provinsi pesisir Laut Merah, Hodeidah.
Berita Terkait
-
Adrian Wibowo Debut di MLS, LA FC: Pemain Indonesia-Amerika Pertama
-
Vokalis Heart Blak-blakan: Lebih Malu Jadi Orang Amerika Sekarang Daripada Saat Perang Vietnam
-
Review The Twister - Caught in the Storm: Dokumenter Tornado Paling Mematikan
-
Trump Gebrak Meja: Zelensky 'Tidak Hormati' AS dan Ancam Hentikan Bantuan!
-
Ikuti Cara Trump, Inggris Mulai PHK 10 Ribu PNS untuk Hemat Anggaran
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Desil Mendadak Melonjak, Warga Jogja Terancam Kehilangan Bansos
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Wajah Baru Bogor Barat, 6 Stasiun Kereta Siap Garap Jalur Parung Panjang - Jasinga
-
Dear Mom, Kabut Asap Makin Pekat, Ini Tanda Anak Mulai Terdampak
-
Kabut Asap Palembang Makin Pekat, Kapan Sekolah Mulai Belajar dari Rumah?
-
Ekonom Ungkap Efek Domino Karhutla: Dari Biaya Berobat hingga Pendapatan Warga Tertekan
-
Sumsel Dikepung 1.742 Hotspot, Seberapa Aman Warga dari Kabut Asap?
-
Viral Debt Collector Cek Nomor Mesin Kendaraan, Anggota DPR: Ya Sudah Lha
-
Lahan Perkebunan Indofood di Muba Terbakar, Mengapa Sumber Api Diminta Diusut?
-
Tak Perlu Transit, Citilink Kini Terbang Langsung Palembang-Yogyakarta Setiap Hari
-
Megawati Sentil Pragmatisme Politik: Jangan Jadikan Uang dan Kekuasaan sebagai Tujuan
-
Rekening Aktivis Pati Dibekukan, Koalisi Sipil: Jangan Jadikan Bank Alat Membungkam Kritik