News / Internasional
Senin, 21 April 2025 | 15:51 WIB
Paus Fransiskus. (Vatikan Media)

Ia menolak tinggal di istana keuskupan dan lebih memilih hidup di sebuah apartemen kecil, memasak makanannya sendiri, dan selalu menjaga jarak dari kemewahan.

Paus Pertama dari Amerika Latin dan Yesuit Pertama di Takhta Santo Petrus

Paus Fransiskus memberkati dunia dengan Sakramen Mahakudus pada tanggal 27 Maret 2020. (Media Vatikan)

Pada 13 Maret 2013, dalam sebuah Konklaf bersejarah, Jorge Mario Bergoglio terpilih sebagai Paus ke-266, menggantikan Paus Benediktus XVI yang mengundurkan diri.

Ia membuat sejarah sebagai Paus pertama dari benua Amerika, Paus pertama dari ordo Yesuit, dan Paus pertama yang mengambil nama Fransiskus, merujuk pada Santo Fransiskus dari Assisi, simbol kerendahan hati, kemiskinan, dan cinta kasih terhadap ciptaan.

Pemilihan nama "Fransiskus" menjadi pertanda arah kepemimpinannya—Gereja yang dekat dengan rakyat, yang melayani bukan menghakimi, dan yang berpihak kepada mereka yang tertindas.

Sejak awal kepausannya, Paus Fransiskus menolak tinggal di Istana Apostolik dan memilih menetap di Casa Santa Marta, sebuah rumah tamu sederhana di dalam Vatikan.

Ia dikenal lebih sering naik mobil kecil Fiat atau Ford Focus daripada kendaraan mewah Kepausan.

Reformator, Pembela Kaum Kecil, dan Suara Moral Dunia

Paus Fransiskus dikenal luas sebagai pemimpin yang membawa angin segar dalam Gereja Katolik.

Ia mendorong transparansi keuangan Vatikan, menertibkan lembaga keuangan gereja, dan mengambil sikap tegas terhadap skandal pelecehan seksual yang melukai Gereja.

Lebih dari itu, ia tampil sebagai suara moral dunia yang vokal dalam isu-isu global: perubahan iklim, kemiskinan ekstrem, migrasi, konflik bersenjata, hingga ketidakadilan ekonomi.

Baca Juga: Vatikan: Paus Fransiskus Meninggal Dunia

Ia tidak segan berbicara tentang keserakahan dalam kapitalisme modern, memperingatkan bahaya ideologi eksklusif, dan terus mendorong Gereja untuk membuka diri terhadap mereka yang selama ini merasa tersingkir: kaum miskin, pengungsi, kaum LGBTQ, perempuan, dan korban kekerasan.

Kesehatan dan Akhir Hidup

Meski bersemangat dalam berkarya, Paus Fransiskus tidak lepas dari masalah kesehatan.

Pada usia muda, ia menjalani operasi pengangkatan sebagian paru-paru akibat infeksi serius.

Di usia lanjut, ia semakin sering terserang masalah pernapasan.

Pada 14 Februari 2025, ia dirawat karena bronkitis yang kemudian berkembang menjadi pneumonia bilateral.

Setelah dirawat selama 38 hari di Rumah Sakit Gemelli, ia kembali ke Vatikan untuk masa pemulihan. Namun, kesehatannya tak kunjung membaik.

Pada 21 April 2025, pukul 07.35 pagi waktu setempat, Paus Fransiskus wafat di kediamannya di Casa Santa Marta.

Kabar wafatnya diumumkan secara resmi oleh Camerlengo, Kardinal Kevin Farrell.

Sebelum wafat, Paus telah menyetujui revisi liturgi pemakaman Paus, yang mencerminkan kesederhanaan dan spiritualitas mendalam—tanpa upacara yang berlebihan, dan lebih menekankan pada peran Paus sebagai gembala, bukan pemimpin duniawi.

Warisan Abadi

Paus Fransiskus akan dikenang sebagai figur yang membawa wajah baru bagi Gereja Katolik: lebih inklusif, rendah hati, dan terbuka terhadap zaman.

Ia adalah suara hati nurani dunia modern yang tak henti menyuarakan belas kasih dan keadilan sosial.

Melalui hidupnya, Paus Fransiskus menunjukkan bahwa kekuatan spiritual terbesar terletak bukan pada kekuasaan, tetapi pada keberanian untuk mengasihi.

Load More