Suara.com - Dua mahasiswa yang diduga sebagai penyandera anggota Polri saat aksi Hari Buruh Sedunia alias May Day 2025 di Kota Semarang, Jawa Tengah, pada 1 Mei 2025 akhirnya ditangkap. Perihal penangkapan terhadao dua mahasiswa diduga menyandera polisi saat May Day diungkapkan oleh Kabid Humas Polda Jawa Tengah Kombes Artanto di Semarang pada Rabu (14/5/2025).
Adapun identitas kedua mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) Semarang tersebut masing-masing MRS (20) dan RSB (20).
"Betul, penanganan di Polrestabes Semarang," beber Kombes Artanto sebagaimana dikutip dari Antara, Rabu.
Kombes Artanto menyebut jika kedua mahasiswa itu diringkus saat berada di rumah kosannya di Tembalang, Kota Semarang, pada Selasa kemarin, 13 Mei 2025.
Imbas dari aksi penyanderaan terhadap polisi itu, dua mahasiswa itu kini meringkuk di penjara. Keduanya dijerat dengan Pasal 333 KUHP tentang merampas kemerdekaan seseorang dan Pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan.
Sementara itu, kuasa hukum dua mahasiswa Undip Semarang, Kairul Anwar, mengatakan, pendampingan sudah dilakukan selama pemeriksaan di Polrestabes Semarang.
Ia mengatakan kedua mahasiswa tersebut sudah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan.
"Pendampingan dari Undip untuk memberikan yang terbaik bagi mahasiswanya," kata Kairul Anwar.
Polisi Tuding Anarko Biang Kerok Demo Rusuh May Day
Baca Juga: Bripka MA dan Bripda RS Nyambi Bisnis Narkoba, Kapolda Kaltara: Kalau Memang Layak, Kami PTDH
Sebelumnya, polisi membubarkan aksi memperingati Hari Buruh di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah di Jalan Pahlawan, Kota Semarang, pada Kamis (1/5/2025) sore, setelah diduga muncul aksi provokasi oleh sekelompok massa berpakaian hitam di tengah para buruh.
Sekelompok orang berpakaian hitam kemudian ikut bergabung ke dalam massa aksi.
Kericuhan pecah setelah kelompok buruh akan membubarkan diri setelah menyelesaikan aksi.
Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol. M. Syahduddi, menyampaikan bahwa sehari sebelum kejadian, kelompok pelaku sempat menggelar rapat konsolidasi tertutup di salah satu ruang kampus di Kota Semarang.
"Dua dari enam tersangka yang telah kami tetapkan mengikuti rapat konsolidasi pada Rabu (30/4) untuk menyepakati pola aksi usai buruh bubar. Mereka berencana mengenakan atribut serba hitam, dan memang sejak awal menunjukkan itikad untuk membuat kericuhan," kata Syahduddi dikutip dari ANTARA.
Polisi juga menemukan grup WhatsApp yang berisi 18 orang diduga sebagai wadah koordinasi aksi. Grup ini tidak hanya menyusun strategi dan berbagi lokasi, tetapi juga mengedarkan narasi perlawanan terhadap negara, kapitalisme, dan institusi resmi termasuk aparat keamanan.
Kapolrestabes menyebut ada dugaan kuat bahwa kelompok ini tidak bertindak sendiri. Terdapat kemungkinan adanya pihak eksternal yang mendanai atau mendorong aksi mereka.
Meski nama “Anarko” sudah kerap terdengar dalam aksi-aksi protes di kota-kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung, kehadiran mereka di Semarang menjadi perhatian baru.
Terlebih ketika ruang kampus diduga dimanfaatkan sebagai tempat konsolidasi, hal ini memunculkan pertanyaan besar soal keterlibatan atau kelengahan pihak institusi pendidikan.
Hingga kini, kepolisian belum mengungkap nama kampus atau individu yang terlibat. Namun penyelidikan masih berjalan dan terus menelusuri jaringan serta kemungkinan pola perekrutan lintas daerah.
Peringatan May Day seharusnya menjadi panggung perjuangan dan solidaritas kaum buruh, bukan arena kekacauan yang dimanfaatkan oleh kelompok lain untuk menyulut konflik. Peran pemerintah, aparat, akademisi, dan publik diperlukan untuk menjaga agar suara buruh tidak terdistorsi oleh kekerasan dan provokasi.
Berita Terkait
-
Bripka MA dan Bripda RS Nyambi Bisnis Narkoba, Kapolda Kaltara: Kalau Memang Layak, Kami PTDH
-
Ragu Konsep Super Tbk, Analis Curiga e-Votting Pemilihan Ketum PSI: Bisa Diatur Kemauan Elite?
-
Didoakan Gantikan Kaesang jadi Ketum, Jokowi Disebut Masih Punya Hasrat, PSI Butuh Efek Elektoral
-
Copot Bendera GRIB Jaya hingga FBR di Jaktim, Polisi: Tak Boleh Ada Simbol Ormas Kuasai Wilayah!
-
Melawan saat Dipalak, Pedagang di Pasar Lama Tangsel Ditanduk hingga Dipukuli Preman
Terpopuler
- Pasca Penonaktifan, 3.000 Warga Kota Yogyakarta Geruduk MPP untuk Reaktivasi PBI JK
- 5 Pemain Top Dunia yang Berpotensi Ikuti Jejak Layvin Kurzawa Main di Super League
- 7 HP Xiaomi RAM 8 GB Termurah di Februari 2026, Fitur Komplet Mulai Rp1 Jutaan
- 7 HP Murah Terbaru 2026 Buat Gaming: Skor AnTuTu Tinggi, Mulai Rp1 Jutaan!
- 10 HP OPPO RAM 8 GB dari yang Termurah hingga Flagship 2026
Pilihan
-
Cibinong Mencekam! Angin Kencang Hantam Stadion Pakansari Hingga Atap Rusak Parah
-
Detik-Detik Mengerikan! Pengunjung Nekat Bakar Toko Emas di Makassar
-
Lika-liku Reaktivasi PBI JK di Jogja, Antre dari Pagi hingga Tutup Lapak Jualan demi Obat Stroke
-
Kembali Diperiksa 2,5 Jam, Jokowi Dicecar 10 Pertanyaan Soal Kuliah dan Skripsi
-
Geger! Pemain Timnas Indonesia Dituding Lakukan Kekerasan, Korban Dibanting hingga Dicekik
Terkini
-
Jaksa Agung Ungkap Banyak Apartemen di Jakpus Ditempati Jaksa Diam-diam
-
Tiffany & Co Plaza Senayan Disegel! Kilau Perhiasan Kini Tertutup Kertas
-
Whoosh Sesuaikan Jadwal 22 Hari Mulai 19 Februari, Listrik Malam Dimatikan
-
8 Fakta Usai Jokowi Jalani Pemeriksaan di Mapolresta Solo Terkait Kasus Ijazah Palsu
-
Buntut Saling Sindir Purbaya-Trenggono, Analis Ingatkan Persepsi Publik Kabinet Tak Kompak
-
Demokrat Dukung Langkah 'Bersih-Bersih' Prabowo, Herman Khaeron: Pejabat Kotor Hambat Ekonomi
-
Bawa Nasi Tumpeng, Warga Pati Syukuran di KPK Usai Sudewo Ditahan
-
Giliran Ojol Jadi Korban Jalan Berlubang di Grogol, Pramono Anung Hingga Bina Marga Minta Maaf
-
Teguran Keras Jaksa Agung: Stop Euforia Mewah di Ulang Tahun Badan Pemulihan Aset Kejaksaan!
-
KCIC Gandeng Trip.com, Tiket Whoosh Kini Bisa Dipesan Secara Global