Suara.com - Air, sebagai elemen vital bagi kehidupan, kini menghadapi krisis kualitas yang semakin kompleks. Di tengah upaya mengatasi kontaminasi mikrobiologis yang telah lama menjadi tantangan, Indonesia juga mulai dihantui oleh bahaya senyawa kimia yang sangat persisten dan sulit terurai.
Salah satu kelompok senyawa yang kini menjadi perhatian global adalah Per- and Polyfluoroalkyl Substances atau PFAS, yang kerap dijuluki sebagai "bahan kimia abadi" (forever chemicals).
Polusi Air: Lebih dari Sekadar Limbah Domestik
Polusi air di Indonesia terjadi ketika air di sungai, danau, pantai, maupun air tanah terkontaminasi oleh zat-zat berbahaya.
Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, dari 111 sungai yang diidentifikasi di Indonesia, hanya 8,1% yang memenuhi baku mutu kualitas air, sementara sisanya mengalami berbagai tingkat pencemaran.
Selain itu, sekitar 76% sungai-sungai utama di Indonesia telah mengalami pencemaran dalam tingkat yang cukup mengkhawatirkan, dengan limbah manusia menyumbang sekitar 80% dari total pencemaran tersebut .
Sumber pencemarnya beragam, mulai dari limbah rumah tangga yang tidak terolah, limpasan pupuk dan pestisida dari pertanian, limbah industri, hingga kontaminan dari kegiatan pertambangan.
Semua ini menyebabkan penurunan kualitas air yang tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga membawa dampak serius bagi kesehatan manusia.
Kontaminasi mikrobiologis, seperti bakteri dan virus, masih menjadi ancaman besar di Indonesia, terutama di wilayah dengan infrastruktur sanitasi yang belum memadai.
Baca Juga: Atasi Polusi di Perkotaan, KLH Fokus pada Kawasan Industri dan Bangun Sistem Peringatan Dini
Menurut data dari Survei Kualitas Air (SKA) 2015 yang terintegrasi dengan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), pengujian terhadap kualitas air minum menunjukkan adanya kontaminasi patogen mikrobiologi, termasuk E. coli, di berbagai wilayah Indonesia.
Hal ini menunjukkan bahwa kondisi sanitasi yang tidak memadai berkontribusi terhadap kontaminasi mikrobiologis di sumber air, yang dapat berdampak pada kesehatan masyarakat.
Namun, tantangan kini bertambah rumit dengan hadirnya senyawa kimia kompleks seperti PFAS. Senyawa ini tidak hanya sulit dideteksi dan diolah, tetapi juga bertahan di lingkungan dalam jangka waktu yang sangat lama.
PFAS: Kimia Abadi yang Tak Terurai
Melansir laman US Environmental Protection Agency (EPA), PFAS adalah kelompok senyawa sintetis yang telah digunakan sejak tahun 1940-an.
Berkat sifatnya yang tahan air, minyak, dan panas, PFAS banyak dipakai dalam produk sehari-hari seperti peralatan masak antilengket, pakaian tahan air, busa pemadam kebakaran, hingga kemasan makanan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
Terkini
-
Pertamina EP Adera Sambung Harapan Anak Putus Sekolah Lewat Program Sekolah Kembali
-
Apa Itu Aplikasi AMPERA 24/7? Kini Warga Palembang Bisa Akses Layanan Polisi dari Ponsel
-
Murid Mengeluh Sepatunya Mengganjal saat Dipakai Sekolah, Isinya Diduga Paket Sabu
-
5 Fakta Mahasiswa KKN Tenggelam di Sungai Rawas, Perahu Terbalik Usai Tabrak Kayu
-
Ada Apa di Kejari Kabupaten Bogor? Kasi Pidsus Mendadak Dipanggil Kejagung
-
Pemenuhan Gizi Jadi Fondasi Tumbuh Kembang Anak, Ini yang Harus Diketahui Orang Tua
-
Dari Gudang hingga Rumah, Begini Perjalanan Produk Sebelum Sampai ke Tangan Konsumen
-
Ancaman Belum Usai: Sosiolog UNJ Ingatkan Bentrokan Matraman Rawan Dibajak Isu SARA
-
Tuntas Uji Coba 3 Bulan, Pemkab Bogor Godok Rute Baru Bus Listrik Bojong Gede - Exit Tol Citeureup
-
Ditahan KPK, Moch Mahrus Suap Anggota DPR Rp1,5 Miliar demi Raih Hibah Pokmas Jatim