Suara.com - Jelang Hari Raya Iduladha, ratusan pedagang hewan kurban mulai ramai di berbagai penjuru Jakarta. Di balik lalu lintas jual beli sapi dan kambing yang sibuk, ada satu persoalan yang kerap luput dari perhatian: limbah kotoran hewan.
Namun di Jagakarsa, Jakarta Selatan, seorang pedagang kurban justru menjadikan limbah tersebut sebagai peluang. Setiap hari, Nur Wahid, yang memelihara puluhan ekor sapi kurban, mengumpulkan sekitar 10 gerobak sorong kotoran sapi.
Limbah ini tak dibuang, melainkan diolah menjadi pupuk tanaman yang bisa dimanfaatkan warga sekitar.
“Kami biasanya membuat pupuk sendiri yang dicampur bahan kimia seperti furadan dan kapur,” ujar Wahid, saat ditemui di lokasi penjualan sapinya, melansir ANTARA, Jumat (6/6/2025).
Prosesnya sederhana. Kotoran dikumpulkan, dibiarkan mengering selama dua bulan, lalu siap digunakan sebagai pupuk di kebun milik warga atau dibagikan secara gratis. Bahkan, kata Wahid, pupuk tersebut juga diambil oleh pihak kelurahan dan Dinas Lingkungan Hidup setempat.
“Kalau sudah kering, suka diangkut sama suku Dinas Lingkungan Hidup, kelurahan, dan tetangga. Jadi gratis, enggak dibuang sia-sia,” katanya.
Praktik seperti ini menunjukkan bahwa hewan kurban tak hanya membawa berkah dari sisi ibadah dan konsumsi, tapi juga dapat memberi manfaat berkelanjutan bagi lingkungan. Apalagi, jumlah hewan yang masuk Jakarta setiap tahunnya menjelang Iduladha bukan sedikit.
Menurut Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Jakarta Selatan, sebanyak 6.500 ekor hewan kurban telah diperiksa kesehatannya sejak 15 Mei hingga 28 Mei 2025 di 53 lokasi.
Dengan jumlah sebanyak itu, potensi limbah kotoran yang dihasilkan pun sangat besar. Bila tidak dikelola, bisa menimbulkan bau, mencemari lingkungan, bahkan menyebarkan bibit penyakit.
Baca Juga: Doa Menjinakkan Sapi Kurban agar Mudah Disembelih, Simak Bacaan Lengkap dan Artinya
Namun jika dimanfaatkan secara tepat, limbah ini bisa menjadi kompos berkualitas tinggi yang menyuburkan lahan.
Ilmuwan di Tiongkok Kembangkan Teknologi Kompos dari Kotoran Sapi
Menariknya, di sisi lain dunia, para peneliti dari Kunming Institute of Botany, Chinese Academy of Sciences, juga sedang mengembangkan pendekatan serupa, namun dengan teknologi yang lebih maju.
Melansir Phys.org, Mereka menciptakan sistem pertanian sirkular berbasis jamur untuk mengolah jerami dan kotoran sapi menjadi pupuk organik.
Sistem ini disebut LCM (Livestock-Crop-Mushroom) atau dalam bahasa sederhananya: sistem Ternak–Tanaman–Jamur. Limbah pertanian dan peternakan dijadikan media tanam jamur, dan limbah dari budidaya jamur itu kembali digunakan sebagai pupuk.
Hasilnya, pertumbuhan tanaman meningkat, kandungan antibiotik berkurang, dan bakteri berbahaya dalam tanah pun bisa ditekan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- Sunscreen Apa yang Bikin Glowing? Ini 7 Pilihan Terbaik sesuai Review dan Harga
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
Pilihan
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
-
Prabowo: Hukum Tak Boleh Dipakai untuk Balas Dendam Politik
Terkini
-
Ada Pihak Bantu Bupati Kuansing Saat OTT, KPK Sempat Kehilangan Jejak
-
Wamensos Tinjau Pembangunan Sekolah Rakyat Permanen Kulon Progo, Progres Capai 91 Persen
-
Polri Diminta Kuasai KUHP-KUHAP Baru, Kepastian Hukum Jadi Taruhan
-
Korban Ledakan Kapal Aceh Hebat 2 Bertambah, 3 Taruna Meninggal Dunia
-
Siswa Disabilitas Psikososial Diduga Didiskriminasi Sekolah
-
Terdakwa TPPU Sebut Ada Permintaan Dana Pilpres Rp21,5 M, Nama Eks Pangdam Terseret
-
Label A-D Dinilai Membingungkan, BPOM Diminta Revisi Peraturan Nilai Gizi
-
Keras Koalisi Sipil di Hari Bhayangkara: Polisi Alat Rakyat, Bukan Partai Cokelat!
-
Parkir Ditutup Tenda Didirikan, PN Jaktim Antisipasi Massa Pendukung Sidang Perdana dr Tifa
-
Dari Pajero ke Land Cruiser, Bupati Kuansing Disebut 'Main' Jual Beli Jabatan Sejak 2021