Suara.com - Perseteruan publik yang dramatis antara dua figur paling berpengaruh di dunia, Elon Musk dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, mencapai puncaknya pada Kamis (5/6/2025) waktu setempat.
Konflik antara miliarder teknologi dan pemimpin negara ini, yang sebelumnya dikenal sebagai sekutu, meledak menjadi saling tuding dan ancaman serius. Dampaknya bahkan merambah ke operasional wahana antariksa Dragon milik Space Exploration Technologies Corp (SpaceX) serta memicu seruan pemakzulan terhadap Presiden Trump.
Pemicu utama eskalasi ini adalah usulan Trump untuk memangkas kontrak pemerintah yang diberikan kepada perusahaan-perusahaan milik Musk. Langkah ini diambil menyusul desakan berulang dari mantan penasihat presiden kepada Partai Republik untuk menolak undang-undang pajak yang baru ditandatangani, dengan alasan biaya yang terlalu besar.
Dalam sebuah unggahan di platform media sosialnya, Trump secara eksplisit menyatakan: "Cara termudah untuk menghemat uang dalam Anggaran kita, Miliaran dan Miliaran Dolar, adalah dengan menghentikan Subsidi dan Kontrak Pemerintah Elon." Respon pasar tidak menunggu lama; saham Tesla, salah satu perusahaan Musk, anjlok hingga 18% pada Kamis, memperpanjang kerugian yang telah terjadi sebelumnya akibat pengumuman Trump tentang pemutusan hubungan federal dengan Musk.
Konflik Meledak di Ranah Publik: Dari Kekaguman Menjadi Saling Serang
Perpecahan antara presiden AS yang berkuasa dan salah satu orang terkaya di dunia ini berlangsung dengan kecepatan yang mencengangkan, diwarnai oleh saling tuding, penghinaan langsung, dan disiarkan secara terbuka melalui televisi serta platform media sosial pribadi keduanya.
Hanya seminggu sebelumnya, Trump dan Musk masih berdiri bersama di Ruang Oval, mengisyaratkan persahabatan yang abadi. Namun, pada Kamis (5/6/2025), suasana berubah drastis menjadi saling ejek dan menghina.
Pernyataan yang awalnya berbalut kesedihan dan kekecewaan dengan cepat bergeser menjadi ancaman terbuka. Pada pertengahan sore Kamis, Musk melalui platform X miliknya menyatakan bahwa Trump tidak akan pernah bisa memenangkan kembali Gedung Putih tanpa bantuannya.
Trump segera membalas dengan melabeli Musk sebagai "gila" dan mengancam akan membatalkan kontrak federal yang melibatkan perusahaan-perusahaan Musk. Ancaman ini dijawab Musk dengan janji untuk menonaktifkan wahana antariksa Dragon, sebuah aset krusial yang selama ini menopang operasional Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Di tengah ketegangan ini, saham Tesla semakin tertekan.
Baca Juga: Tak Disangka! Begini Reaksi Trump Atas Paus Leo XIV
Saling Serang di Media Sosial
Insiden ini terekam jelas dalam serangkaian unggahan di platform media sosial:
Awalnya, seperti yang dikutip via Bloombreg, Musk melalui akun X miliknya mengunggah ulang berita satir dari The Babylon Bee yang membahas RUU pajak, dengan judul yang menyindir potensi "kehancuran negara" jika RUU itu gagal.
Elon Musk lantas melontarkan sindiran langsung kepada presiden, dengan mengunggah ulang cuitan Trump pada tahun 2013 yang mengkritik Partai Republik karena menaikkan pagu utang. Musk menambahkan komentar sarkastik: "Kata-kata bijak." Musk kembali mengunggah surat lama Trump dari tahun 2012 yang menyatakan bahwa tidak ada anggota Kongres yang pantas dipilih kembali jika anggaran AS tidak seimbang.
Donald Trum lantas menanggapi kritik Musk dalam sebuah pertemuan di Ruang Oval dengan Kanselir Jerman Friedrich Merz. "Elon kesal karena kami mengambil mandat EV, dan Anda tahu, yang menghabiskan banyak uang untuk kendaraan listrik," kata Trump, menambahkan bahwa perusahaannya menghadapi kesulitan dengan kendaraan listrik dan "mereka ingin kami membayar subsidi miliaran dolar."
Trump juga menyatakan bahwa ia dan Musk sebelumnya memiliki hubungan yang baik, namun "sangat kecewa dengan Elon" karena ia merasa telah banyak membantu Musk. Kanselir Merz dilaporkan hanya duduk diam selama intervensi Trump ini.
Berita Terkait
-
Elon Musk Rogeh Kocek Rp 163 Miliar untuk Donor Sperma
-
Pengangguran di Amerika Diramal Tembus 247 Ribu
-
Belajar dari Starlink, Ini Strategi Pengusaha Agar Bisnis Satelit Lokal Tak Kalah Saing
-
Donald Trump 'Usir' Mahasiswa China yang Kuliah di Amerika Serikat?
-
Volvo PHK 3.000 Karyawan, Efek Tarif Trump dan Lesunya Pasar Mobil Listrik
Terpopuler
- Selamat Tinggal Jay Idzes? Sassuolo Boyong Amunisi Pertahanan Baru dari Juventus Jelang Deadline
- Kakek Penjual Es Gabus Dinilai Makin 'Ngelunjak' Setelah Viral, Minta Mobil Saat Dikasih Motor
- 4 Calon Pemain Naturalisasi Baru Era John Herdman, Kapan Diperkenalkan?
- 26 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 31 Januari 2026: Buru Gullit 117 OVR dan Voucher Draft Gratis
- Muncul Isu Liar Soal Rully Anggi Akbar Setelah Digugat Cerai Boiyen
Pilihan
-
Setiap Hari Taruhkan Nyawa, Pelajar di Lampung Timur Menyeberang Sungai Pakai Getek
-
Mundur Berjamaah, Petinggi OJK dan BEI Kalah dengan Saham Gorengan?
-
Kisah Pilu Randu Alas Tuksongo, 'Raksasa yang Harus Tumbang' 250 Tahun Menjadi Saksi
-
Insentif Mobil Listrik Dipangkas, Penjualan Mobil BYD Turun Tajam
-
Pasar Modal RI Berpotensi Turun Kasta, Kini Jepang Pangkas Rekemondasi Saham BEI
Terkini
-
Dari MBG Sampai ASRI, Presiden Prabowo Menggugah 4 Ribu Lebih Peserta Rakornas Kemendagri 2026
-
Eksekusi Brutal di Bali: Dua WNA Australia Dituntut 18 Tahun Penjara Kasus Pembunuhan Berencana
-
Eks Pejabat Kemendikbud Akui Terima Rp701 Juta dari Pemenang Tender Chromebook
-
Skandal Suap Jalur Kereta Api, KPK Cecar Direktur Kemenhub Jumardi Soal Aliran Dana dan Tender
-
Pantura Genuk Minim Genangan di Musim Hujan, Infrastruktur Pengendali Banjir Dioptimalkan
-
Satgas PKH Sedang Verifikasi Temuan PPATK Soal Hasil Penambangan Emas Ilegal Senilai Rp992 Triliun
-
Pandji Pragiwaksono Dicecar 48 Pertanyaan Usai Diperiksa Bareskrim: Saya Ikuti Prosesnya Saja
-
Lebih Ganas dari COVID-19, Menakar Kesiapan Indonesia Hadapi Virus Nipah yang Mematikan
-
Dirut Garuda dan Perwakilan Embraer Sambangi Istana, Bahas Rencana Pembelian Pesawat?
-
Jakarta Makin Gampang Tenggelam, Sudah Waktunya Benahi Tata Ruang?