"Dengan kesedihan yang mendalam, kami menginformasikan bahwa dia tidak selamat," demikian pernyataan pilu dari pihak keluarga.
"Kami tetap sangat berterima kasih atas semua doa, pesan kasih sayang, dan dukungan yang telah kami terima."
Tudingan serius kemudian dilayangkan oleh keluarga Marins.
Mereka mengklaim bahwa nyawa putri mereka seharusnya bisa diselamatkan jika tim penyelamat tiba tepat waktu dan bertindak cepat.
"Juliana mengalami kelalaian besar dari pihak tim penyelamat," kata pihak keluarga setelah jenazah Juliana berhasil dievakuasi pada hari Rabu, 25 Juni 2025.
Mereka menambahkan, jika tim penyelamat berhasil mencapai turis Brazil itu dalam waktu 7 jam setelah jatuh, Juliana mungkin masih bisa diselamatkan.
Keluarga Marins menegaskan akan menempuh jalur hukum untuk mencari keadilan.
"Juliana pantas mendapatkan yang lebih baik! Sekarang kami akan mencari keadilan untuknya, karena itulah yang pantas dia dapatkan! Jangan menyerah untuk Juliana!" tegas keluarga Marins, mengisyaratkan potensi gugatan hukum.
Meski begitu, mereka tetap mengucapkan terima kasih kepada para sukarelawan yang membantu mengevakuasi jenazah putrinya dari kawah.
Baca Juga: Pengakuan Agam Rinjani Saat Menemukan Juliana Marins: Kepala Retak, Sudah Mati di Tempat
Respons Tim Penyelamat dan Proses Lanjutan
Menanggapi tudingan tersebut, Kepala Basarnas setempat, Mohammad Syafiti, mengonfirmasi telah bertemu dengan keluarga korban.
Ia mengakui bahwa upaya penyelamatan mereka tertunda karena berbagai tantangan berat di lapangan, seperti kabut tebal yang mengganggu fungsi drone termal untuk melacak posisi Juliana.
Syafiti menjelaskan bahwa rencana awal untuk menggunakan helikopter harus dibatalkan karena kondisi cuaca yang sangat buruk.
"Jadi, kami harus mengevakuasi korban dengan tandu, yang memakan waktu cukup lama," ujarnya.
Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat, Indah Dhamayanti Putri, menyatakan bahwa jenazah korban telah dibawa ke pulau tetangga, Bali.
Ia menambahkan bahwa proses autopsi akan dilakukan untuk menentukan penyebab utama dan waktu pasti kematian Juliana.
Tag
Berita Terkait
-
Pengakuan Agam Rinjani Saat Menemukan Juliana Marins: Kepala Retak, Sudah Mati di Tempat
-
Sisi Lain Agam Rinjani, Pernah Habiskan Rp 367 Juta Buat Hidup Mewah di Bali
-
Lagi di Jakarta saat Juliana Marins Jatuh, Agam Rinjani: Kalau Saya di Sana Mungkin Selamat
-
Ira Wibowo Kenang Medan Berat Gunung Rinjani, Akui Sempat Terpeleset di Trek Berpasir dan Berbatu
-
Ira Wibowo Apresiasi Tim Penyelamat Pendaki Brasil di Rinjani, Sentil Netizen Asal Bicara Nyinyir
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
HUT RI ke-81, Tradisi Panjat Pinang Kembali Meriahkan Kalimalang
-
Semarak 'Ngahias Lembur' di Cibadak: Ketika Seni Sunda, Kekompakan Warga dan Rasa Haru Menyatu
-
Upacara 17 Agustus di Belitung Digelar Tanpa Tenda, Pejabat dan Warga Kepanasan Bersama
-
Semarak Kemerdekaan, Warna Merah Putih Hadir di Ruang Publik dan Kampung Nelayan
-
Viral Siswa SMKN 2 Palembang Dikeroyok, Benarkah Dipicu Tawuran Antarpelajar?
-
10.910 Warga Binaan di Sumsel Terima Remisi HUT RI, Ratusan Langsung Bebas
-
Turnamen Dikemas Lebih Berbeda, Ratusan Pemain Bakal Adu Kekuatan Tenis Meja
-
Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?
-
175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya
-
Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?