Suara.com - Pernyataan kesiapan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk ditugaskan mengurus percepatan pembangunan di Papua membuka babak baru dalam upaya pemerintah mengatasi salah satu isu paling pelik di tanah air.
Di luar narasi normatif tentang melanjutkan program pemerintah sebelumnya, penugasan ini menyorot dua pertanyaan fundamental: Seberapa mendesak kondisi Papua saat ini, dan mengapa Gibran yang kini berada di pucuk pimpinan untuk misi krusial ini?
Tugas ini bukan sekadar penunjukan khusus dari Presiden Prabowo Subianto.
Secara hukum, posisi ini melekat pada jabatan wakil presiden. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2021 tentang Otonomi Khusus (Otsus) Papua, wapres secara ex-officio mengetuai Badan Khusus Percepatan Pembangunan Otsus Papua.
Gibran pun menegaskan kesiapannya untuk melanjutkan tongkat estafet dari pendahulunya.
"Saya sebagai pembantu presiden siap ditugaskan ke mana pun, kapan pun, dan ini kan melanjutkan kerja keras dari Pak Wapres Maruf Amin untuk masalah Papua," ujar Gibran di Klaten, Jawa Tengah beberapa waktu lalu.
Urgensi Papua: Dari HAM Hingga Kesenjangan Ekonomi
Di balik penugasan ini, terdapat urgensi yang tidak bisa diabaikan.
Papua hingga kini masih menjadi wilayah dengan konflik berlapis yang kompleks dan sulit diurai.
Baca Juga: Saran Menohok Rocky Gerung untuk Gibran: Urus 'Brain Care' di Papua, Bukan Cuma Skincare!
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), yang kini menjadi BRIN, telah memetakan empat akar masalah utama: sejarah dan status politik integrasi Papua, kekerasan negara dan pelanggaran HAM berat yang tak kunjung terselesaikan sejak 1965, kegagalan pembangunan, serta diskriminasi dan marjinalisasi terhadap Orang Asli Papua (OAP).
Bahkan aksi terbaru kelompok ini menyiksa seorang wanita dan anaknya secara digantung sambil menebar ancaman kepada warga lain yang tidak mendukung mereka.
Isu Hak Asasi Manusia (HAM) menjadi sorotan utama, dengan kekerasan yang terus meningkat dan belum ada penyelesaian yang memuaskan.
Direktur Perhimpunan Advokasi Kebijakan (PAK) HAM Papua, Mathius Murib, bahkan menyebut bahwa masalah HAM di Papua kini semakin rumit dan memburuk.
Ini diperparah oleh kegagalan pembangunan yang ironis. Meskipun dana Otsus digelontorkan, Papua tetap menjadi salah satu provinsi dengan angka kemiskinan dan kesenjangan tertinggi, serta angka harapan hidup terendah di Indonesia.
Perasaan terpinggirkan ini memicu ketidakpercayaan dan konflik sosial yang terus-menerus.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 8 Sunscreen di Indomaret untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 7 Pilihan HP Murah Terbaik Harga 1 Jutaan Juli 2026: NFC hingga Baterai 7000 mAh
- 4 Moisturizer di Alfamart untuk Hempas Flek Hitam Berdasarkan Review Pengguna
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Teheran Tutup Wilayah Udara Selama Prosesi Pemakaman Ali Khamenei
-
Pakar UGM: Wajar Publik Curiga Pengangkatan Komisaris BUMN karena Balas Jasa Politik
-
Kronologi Pertemuan Menhut dan Bupati Kuansing, Dari Amplop Sampai Alih Fungsi Hutan
-
Penguatan Fiskal hingga Digitalisasi Layanan Masuk 10 Rekomendasi untuk Kota di Indonesia
-
Bukan Provokasi, Boikot Pajak Dinilai jadi Hak Pembangkangan Sipil
-
Minta Bantuan Dana Parpol Naik, ICW Tantang Partai Buka Laporan Keuangan
-
Perludem Usul Sistem e-Banpol, Publik Bisa Pantau Penggunaan Dana Partai Secara Real-Time
-
Vonis Seumur Hidup untuk Priyo, Eksekutor Keji yang Habisi 5 Nyawa di Indramayu
-
Korban Penyekapan 3 Tahun Bakal Jalani Operasi Bertahap, Begini Kondisinya Kini
-
Bayar Rp200 Ribu Sebulan Bisa Naik Transjakarta Setiap Hari? Begini Skemanya