Suara.com - Politik Indonesia pasca-Pilpres 2024 sepertinya belum akan tenang.
Isu lama yang kembali dipanaskan kini menyasar Presiden RI ke-7, Joko Widodo (Jokowi).
Tuduhan ijazah palsu, sebuah narasi yang telah berulang kali muncul dan dimentahkan, kini kembali mencuat dengan bumbu baru yang lebih eksplosif: dugaan keterlibatan seorang pensiunan jenderal TNI sebagai dalang utamanya.
Tuduhan ini bukan sekadar gosip di warung kopi, melainkan dilontarkan secara terbuka oleh kelompok relawan.
Hal ini memicu pertanyaan besar, apakah ini murni upaya mencari kebenaran, atau sebuah manuver politik terencana untuk merongrong pengaruh Jokowi jelang suksesi 2029? Mari kita bedah lebih dalam.
Tudingan Baru dari Relawan: Jenderal Purnawirawan sebagai 'Dalang'
Adalah Silfester Matutina, Ketua Umum kelompok relawan Solidaritas Merah Putih (Solmet), yang melemparkan bola panas ini ke publik.
Dalam sebuah podcast politik, ia dengan yakin menyebut ada kekuatan besar di balik isu ijazah palsu yang terus-menerus digoreng.
"Kita udah tahu, udah tahu ya kan. Pak Prabowo saya yakin juga tahu lah," kata Silfester dikutip Kamis (7/8/2025).
Baca Juga: 375 Ribu Lulusan UGM Cap-nya Sama, Kecuali Ijazah Jokowi?
Meski tidak menyebut nama secara gamblang, Silfester memberikan petunjuk yang cukup jelas. Menurutnya, dalang di balik isu ini berasal dari tiga klaster:
-Barisan sakit hati akibat kekalahan politik masa lalu.
-Pihak yang jabatannya dicopot oleh Jokowi.
-Oknum yang meminta jabatan namun tidak dikabulkan.
Lebih tajam lagi, Silfester mengklaim salah satu dalangnya adalah seorang mantan jenderal yang sebelumnya juga terlibat dalam manuver politik lain.
"Ada mantan jenderal yang ikut di pemakzulan [Gibran]. Jadi ini ada fakta-faktanya," tegasnya.
Motif 'Barisan Sakit Hati': Serangan Politik yang Tak Kunjung Padam
Isu ijazah palsu ini sejatinya adalah lagu lama yang diputar ulang.
Sejak 2019, narasi ini sudah muncul dan telah melalui berbagai proses klarifikasi.
Pihak Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai almamater Jokowi sudah berulang kali memberikan pernyataan resmi yang menegaskan keaslian ijazah Jokowi sebagai lulusan Fakultas Kehutanan tahun 1985.
Gugatan hukum yang dilayangkan Bambang Tri Mulyono, penulis buku 'Jokowi Undercover', pada Oktober 2022 lalu pun akhirnya kandas.
Gugatan tersebut dicabut sendiri oleh Bambang, yang kemudian justru divonis 6 tahun penjara bersama Sugi Nur Rahardja (Gus Nur) atas kasus penyebaran berita bohong.
Fakta-fakta ini membuat tudingan Silfester soal motif "barisan sakit hati" menjadi relevan.
Ketika jalur hukum dan klarifikasi institusional sudah membuktikan keabsahan ijazah, namun isunya terus dimainkan, sulit untuk tidak melihatnya sebagai serangan politik yang bertujuan untuk mendelegitimasi warisan dan pengaruh Jokowi.
Isu Ijazah di Meja Legislatif: Mengapa DPR dan MPR Bungkam?
Salah satu aspek yang membuat isu ini terus berkembang adalah dugaan mandeknya proses di level lembaga tinggi negara.
Menurut pihak penggugat, surat terkait persoalan ini sudah dilayangkan ke DPR dan MPR sejak Mei 2025, namun hingga kini belum ada tindak lanjut yang signifikan.
Sikap diam dari parlemen ini menimbulkan berbagai spekulasi.
Apakah para wakil rakyat menganggap isu ini tidak cukup penting? Ataukah mereka enggan menyentuh isu yang sangat sensitif dan berpotensi menjadi "kentang panas" politik?
Ketiadaan respons yang tegas dari lembaga legislatif ini menciptakan ruang kosong yang dimanfaatkan oleh para penyebar isu untuk terus membangun narasi keraguan di tengah masyarakat.
Hal ini diperparah dengan beredarnya hoaks yang mengklaim DPR telah membahas isu ini, yang kemudian dibantah oleh penelusuran fakta.
Mengincar Pengaruh Jokowi Menuju 2029
Melihat polanya, serangan ini tampaknya bukan hanya soal masa lalu, tetapi investasi politik untuk masa depan. Jokowi, bahkan setelah tidak lagi menjabat, diproyeksikan akan tetap menjadi figur sentral dan kingmaker dalam konstelasi politik menuju 2029.
Melemahkan kredibilitas Jokowi secara terus-menerus melalui isu seperti ijazah palsu adalah strategi efektif untuk menggerus pengaruhnya.
Tudingan Silfester bahwa ada agenda untuk memisahkan Prabowo dan Gibran di tengah jalan juga mengindikasikan bahwa ini adalah bagian dari pertarungan kekuasaan jangka panjang.
Keterlibatan purnawirawan jenderal, jika terbukti, bukanlah hal aneh mengingat peran historis dan pengaruh mereka yang masih kuat di panggung politik Indonesia.
Kesimpulan: Waktunya Publik Cerdas
Tudingan adanya jenderal purnawirawan di balik isu ijazah Jokowi adalah babak baru dari sebuah saga politik yang tak berkesudahan.
Di satu sisi, ada klaim serius dari relawan yang perlu dibuktikan.
Di sisi lain, ada rekam jejak panjang yang menunjukkan bahwa isu ini telah berulang kali dimentahkan, baik secara kelembagaan oleh UGM maupun secara hukum.
Bagi kita, terutama generasi milenial dan anak muda, penting untuk melihat isu ini dengan kacamata kritis.
Membedakan antara kritik yang konstruktif, pencarian kebenaran yang tulus, dengan kampanye hitam yang didasari oleh motif politik jangka pendek dan panjang adalah kunci untuk menjadi pemilih yang cerdas.
Berita Terkait
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- 6 Sepeda Lipat Alternatif Brompton, Harga Murah Kualitas Tak Kalah
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
Pilihan
-
Hakim di PN Depok Tertangkap Tangan KPK, Diduga Terlibat Suap Ratusan Juta!
-
Eks Asisten Pelatih Timnas Indonesia Alex Pastoor Tersandung Skandal di Belanda
-
KPK Amankan Uang Ratusan Juta Rupiah Saat OTT di Depok
-
KPK Gelar OTT Mendadak di Depok, Siapa yang Terjaring Kali Ini?
-
Persib Resmi Rekrut Striker Madrid Sergio Castel, Cuma Dikasih Kontrak Pendek
Terkini
-
Gus Ipul Serukan Gerakan Peduli Tetangga, Perkuat Data Lindungi Warga Rentan
-
Sudah Tiba di Jakarta, PM Australia Segera Bertemu Prabowo di Istana
-
Gus Ipul dan Kepala Daerah Komitmen Buka 8 Sekolah Rakyat Baru
-
RS Tolak Pasien karena JKN Nonaktif, Mensos Gus Ipul: Mestinya Disanksi BPJS, Tutup Rumah Sakitnya
-
Mensos Gus Ipul: RS Tak Boleh Tolak Pasien BPJS Penerima Bantuan Iuran
-
Wamendagri Wiyagus Lepas Praja IPDN Gelombang II, Percepat Pemulihan Pascabencana Aceh Tamiang
-
Kasatgas PRR Ingatkan Pemda yang Lambat Kirim Data Penerima Bantuan Bencana
-
Satgas PRR Resmikan Huntara di Tapanuli Selatan dan Tujuh Kabupaten Lain Secara Serempak
-
Kasus Tragis Anak di Ngada NTT, Pakar Sebut Kegagalan Sistem Deteksi Dini dan Layanan Sosial
-
Hakim di PN Depok Tertangkap Tangan KPK, Diduga Terlibat Suap Ratusan Juta!