Suara.com - Upaya pencarian keadilan bagi Zara Qairina, siswa asal Malaysia diwarnai intervensi.
Faktor ini justru hadir dari pihak sekolah yang diduga berupaua menutupi kasus.
Kakak Zara Qairina, Syira Leizel Janice Abdullah mengungkap, kepala sekolah sempat membujuk ibu kandung Zara agar tidak membuat laporan polisi.
Peristiwa ini terjadi di rumah sakit pada Kamis, 17 Juli 2025 sesaat setelah Zara dinyatakan dalam kondisi kritis.
Saat itu, sang ibu tengah berada dalam kondisi trauma berat dan emosinya tidak stabil.
Tapi Kepala sekolah diduga memanfaatkan situasi untuk menekan secara halus agar menyerahkan penanganan kasus kepada sekolah.
"Kamu tidak perlu membuat laporan. Sekolah sudah melakukannya," ucap kepala sekolah, seperti ditirukan oleh seperti dikutip dari akun X milik @/jllmisai pada Kamis, 14 Agustus 2025.
Bujukan itu membuat ibu kandung Zara sempat bimbang dan tidak segera mengambil langkah hukum. Namun, situasinya berubah setelah Syira tiba dari Kuala Lumpur pada hari yang sama.
Melihat ada yang tidak beres, Syira langsung mengambil inisiatif dan memutuskan untuk membuat laporan polisi resmi.
Baca Juga: Kematian Janggal Zara Qairina: Wajah Mulus Tanpa Goresan, Keluarga Duga Didorong dari Lantai 3
Laporan tersebut menjadi langkah awal keluarga untuk menuntut penyelidikan yang transparan dan adil atas kematian Zara.
Keluarga mencurigai ada sesuatu yang ingin disembunyikan oleh pihak sekolah terkait insiden tersebut.
Kini, mereka berharap laporan polisi yang telah dibuat dapat membuka jalan bagi terungkapnya kebenaran di balik tragedi yang menimpa putri mereka.
Polisi, melalui Direktur Departemen Investigasi Kriminal Kepolisian Federal, Datuk M. Kumar mengatakan, ada unsur perundungan dalam misteri kematian Zara.
Hal inilah yang kemudian membuat pengacara Zara berharap ada titik terang dari penemuan tersebut.
"Pelaku dapat dihukum dengan hukuman penjara hingga 10 tahun, atau denda, atau keduanya," kata perwakilan pengacara Zara.
Tag
Berita Terkait
-
Pesan Terakhir Zara Qairina ke Ibunya, Diincar Senior Gara-gara Catat Nama Siswa Tak Salat
-
Timeline Kasus Kematian Zara Qairina Versi Polisi Malaysia: dari 16 Juli hingga 14 Agustus 2025
-
Terungkap, 12 Fakta Kunci Penyelidikan Kasus Kematian Zara Qairina
-
124 Siswa Trauma Akibat Kematian Zara Qairina, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
-
Luka Parah Zara Qairina Bikin Merinding, Dokter: Kalaupun Hidup, Kondisinya seperti Mayat
Terpopuler
- 7 Lipstik Lokal Murah dan Awet, Transferproof Meski Dipakai Makan dan Minum
- Apakah Produk Viva Memiliki Sunscreen? Segini Harga dan Cara Pakainya
- Promo Long Weekend Alfamart, Diskon Camilan untuk Liburan sampai 60 Persen
- 5 HP Baterai 7000 mAh Terbaru 2026, Tahan Seharian dan Kencang Mulai Rp1 Jutaan
- Siapa Ayu Aulia? Bongkar Ciri-ciri Bupati R yang Membuatnya Kehilangan Rahim
Pilihan
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
-
Keluar Kau Setan! Ricuh di Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
Terkini
-
Jangan Biarkan Anak Asyik Sendiri dengan Gadget! KPAI Ingatkan Bahaya Tersembunyi di Kamar
-
Kemlu China Peringatkan AS, Sebut Perang Iran Tak Seharusnya Terjadi
-
Mungkinkah Ibu Kota Pindah IKN pada Masa Prabowo-Gibran? Begini Kata Pakar UMY
-
Ferdy Sambo Lulus S2 di Lapas, Apakah Semua Narapidana Punya Hak yang Sama?
-
Marco Rubio: Harga Bensin Tinggi Tak Akan Paksa AS Beri Konsesi ke Iran
-
Donald Trump dan Xi Jinping Sepakat Selat Hormuz Harus Tetap Terbuka
-
Siasat Cerdik China Ganti Nama Marco Rubio agar Bisa Masuk Meski Masih Kena Sanksi
-
5 Fakta Dua Pemuda Bogor Dipatuk Ular Weling: Sempat Jadi Mainan hingga Satu Orang Tewas
-
Bundaran HI Tak Lagi Aman usai Turis Italia Jadi Korban Jambret? Legislator PSI Bereaksi Keras
-
SMAN 1 Pontianak Tolak LCC Ulang, MPR: Kami Menghargai Sikap Mereka