Suara.com - Gelombang protes mahasiswa yang kembali menggeliat di sejumlah daerah diprediksi bisa menjadi bola salju yang mengancam stabilitas pemerintahan.
Namun, di balik potensinya yang besar, ada kekhawatiran serius bahwa gerakan ini bisa berujung anarki jika tidak terorganisir dengan baik.
Peringatan keras ini datang dari analis politik sekaligus Dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun.
Menurutnya, gerakan mahasiswa saat ini ibarat bara dalam sekam yang siap meledak menjadi api besar.
Ubedilah memetakan setidaknya ada tiga 'bahan bakar' utama yang dapat memicu eskalasi aksi secara masif. Pertama, momentum peringatan satu tahun pemerintahan baru yang kerap menjadi titik evaluasi kritis publik.
Kedua, masalah ekonomi yang tak kunjung usai dan terus menekan daya beli masyarakat. Ketiga, akumulasi kekecewaan politik yang kian meluas di berbagai lapisan.
Kombinasi ketiga faktor ini, kata Ubedilah, menciptakan kondisi yang sangat rawan dan berpotensi menjadi tantangan serius bagi pemerintah.
"Gerakan ini memiliki potensi eskalasi yang sangat besar jika pemerintah tidak segera merespons dengan bijak," ungkap Ubedilah dalam wawancara di Podcast Forum Keadilan TV dikutip pada Kamis (28/8/2025).
"Rasa frustrasi publik yang sudah menumpuk, ditambah dengan isu-isu yang sedang terjadi, bisa menjadi pemicu ledakan sosial."
Baca Juga: DPR Digeruduk Massa, Respon Anggota Dewan Bikin Geram: Salurkan Saja Lewat Prosedur!
Risiko Kekacauan Tanpa Arah
Meski memiliki daya ledak yang kuat, Ubedilah Badrun menyoroti sisi lain yang mengerikan dari gerakan mahasiswa saat ini: risiko kekacauan dan anarkisme.
Ia khawatir jika gelombang protes hanya didasari oleh kemarahan massa tanpa kepemimpinan yang solid dan strategi yang terukur.
Gerakan yang tidak memiliki komando dan visi yang jelas, menurutnya, sangat rentan disusupi dan mudah berubah menjadi aksi destruktif yang justru merugikan masyarakat luas. Alih-alih membawa perubahan, gerakan semacam ini bisa menjadi kontra-produktif.
"Jika gerakan ini tidak memiliki visi yang jelas dan hanya berfokus pada kemarahan, ada risiko besar bahwa hal ini akan menjadi kontra-produktif," jelasnya.
"Alih-alih menghasilkan perubahan yang berarti, bisa jadi aksi ini justru berakhir dengan kerusuhan yang merugikan semua pihak."
Berita Terkait
Terpopuler
Pilihan
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
Terkini
-
'Pak Minta Nama!', Cerita Haru Nenek di Istana hingga Prabowo Usulkan Nama Adi Dharma
-
Puji Kontribusi Masif Warga Jateng, Pramono Anung: Pilar Penting Jakarta Menuju Kota Global!
-
Petaka Parkir di Bahu Jalan! Sigra 'Nangkring' di Pembatas Jalan Usai Dihantam Fortuner di Tangerang
-
Iran Berencana Kenakan Biaya untuk Kapal yang Melintas Selat Hormuz
-
Fasilitas Pipa Minyak Arab Saudi Pulih, Penyaluran Capai 7 Juta Barel Per Hari
-
Satpol PP Gandeng TNI-Polri Sikat Preman Tanah Abang, Pangkalan Bajaj Liar Ikut Ditertibkan
-
Vladimir Putin Siap Bersua Prabowo Subianto di Moskow, Isu Energi hingga Global Dibahas
-
Negosiasi dengan AS Gagal, Iran: Selat Hormuz Sepenuhnya di Tangan Kami!
-
Jelaskan Anggaran EO Capai Rp113,9 M, Kepala BGN: Mekanisme Sesuai Aturan dan Terbuka untuk Diawasi
-
Bukan Emas atau Berlian, Pemuda di Rembang Pinang Kekasih dengan Mahar Bibit Pohon Mangga!