Suara.com - Dunia media sosial kembali dihebohkan dengan kontroversi yang menyeret nama influencer matematika, Jerome Polin. Kali ini, kritik keras datang dari Arie Putra, salah satu pendiri Total Politik, yang merasa geram atas unggahan Jerome terkait chat WhatsApp berisi tawaran menjadi influencer dengan bayaran fantastis, Rp 150 juta.
Menurut Arie, unggahan tersebut telah menciptakan dampak negatif yang merugikan banyak pihak, terutama mereka yang berupaya menyerukan perdamaian di tengah situasi yang memanas.
Dalam pernyataannya yang berapi-api, Arie Putra mengungkapkan kekesalannya. "Itulah anak-anak macam Jerome Polin nih enggak ngerti," ujarnya dikutip dari Youtube The Authority.
Ia menyayangkan tindakan Jerome yang menyebarkan informasi sensitif tanpa memahami konteks dan dampaknya.
Chat yang disebarkan Jerome, yang menawarkan Rp150 juta kepada influencer untuk menyuarakan perdamaian, di-screenshot dan dibagikan oleh Jerome dengan narasi bahwa ia menolak dibayar untuk hal tersebut. Namun, bagi Arie, tindakan Jerome itu berimplikasi luas.
"Jadi kesimpulannya bahwa semua orang yang menyerukan perdamaian itu dibayar," tegas Arie. Hal ini, menurutnya, berdampak pada kredibilitas dirinya dan Total Politik yang tulus menyerukan agar tidak ada perusakan fasilitas publik saat demonstrasi.
Arie merasa bahwa Total Politik dan pihak-pihak lain yang menyuarakan "bersuara silakan atau boleh merusak jangan" justru dicap sebagai bayaran.
"Kita bayaran kita dianggap menihilkan demonstrasi kita dianggap menyamakan para demonstran dengan para perusuh dan diserbu habis gitu. kita dianggap udah dapat transferan Rp150 juta. Ini gara-gara itu tuh awalnya tuh," keluh Arie.
Ia menekankan bahwa banyak pihak, termasuk dirinya, memiliki kepentingan untuk menjaga situasi tetap kondusif. "Kan kita mau ada rumah kita enggak kebakar," ilustrasinya, merujuk pada kekhawatiran akan stabilitas dan keamanan.
Baca Juga: SBY Bicara soal Demo 10 Hari Terakhir: Menyadarkan Kita Harus Jaga Dialog dan Kebersamaan
Kritik Arie juga menyasar mentalitas sebagian influencer yang dianggapnya hanya mencari popularitas semata tanpa memikirkan dampak lebih besar.
"Makanya influencer-influencer ini juga jangan nyari heroiknya doang gitu loh. Lu harus pikirin hal-hal yang lebih besar. banyak hal yang lebih penting daripada diri lu loh gitu lho. Nih enggak nih masalah popularitas sama dirinya aja yang lebih penting nih," tegas dia.
Arie juga membantah tudingan bahwa Total Politik mendelegitimasi demonstrasi atau terlalu dekat dengan kekuasaan. Ia menegaskan bahwa pesan "bersuara boleh, perusak jangan" adalah seruan untuk kebaikan bersama.
"Mari bersatu dan bersuara untuk Indonesia yang lebih baik tanpa merusak fasilitas publik dan merugikan sesama warga. Salahnya di mana?" ujar Budi Adiputro, mempertanyakan mengapa seruan positif tersebut justru dipelintir dan berujung pada tuduhan tidak berdasar.
Berita Terkait
-
SBY Bicara soal Demo 10 Hari Terakhir: Menyadarkan Kita Harus Jaga Dialog dan Kebersamaan
-
Demokrasi Bukan Sekadar Kotak Suara, Tapi Nafas Kehidupan Bangsa
-
Prabowo Didesak Aktivis 98 Rombak Total Kabinet, Pasca Demo Berdarah
-
Tegang di Ruang DPR, Mahasiswa Ngotot Minta Kapolri Bebaskan Massa Aksi
-
Terungkap Video Ibu Jilbab Pink yang Viral Bukan AI, Keluarga: Jangan Terprovokasi
Terpopuler
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- 5 Pilihan Jam Tangan Casio Anti Air Mulai Rp100 Ribuan, Stylish dan Awet
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
- 5 HP Infinix Rp3 Jutaan Spek Dewa untuk Gaming Lancar
Pilihan
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
Terkini
-
Bahlil: Batas Masa Jabatan Ketum Parpol Tak Perlu Diseragamkan
-
Tanggapi Santai Usulan KPK, Bahlil: Di Golkar Jangankan 2 Periode, Satu Periode Saja Sering Ganti
-
YLBHI Desak Presiden dan Panglima TNI Hentikan Peradilan Militer yang Dinilai Tidak Adil
-
UU PPRT Disahkan, Akademisi UGM Soroti Celah Sanksi dan Kesiapan Jaminan Sosial
-
Tragedi PRT Lompat dari Lantai 4 Kos Benhil, Polisi Endus Dugaan Tindak Pidana
-
BNI Ingatkan Nasabah Waspadai Vishing dan Phishing, Tekankan Pentingnya Jaga Data Pribadi
-
AHY Dorong Model Penataan Kampung Mrican Sleman Jadi Percontohan Nasional
-
Benyamin Netanyahu Menderita Kanker Prostat
-
Nekat Olah Ikan Sapu-Sapu untuk Bahan Siomay, 5 Pria Diciduk Petugas Satpol PP
-
Tak Percaya Peradilan Militer, Pihak Andrie Yunus Tolak Hadiri Persidangan 29 April