- Mahkamah Partai PPP secara resmi menegaskan tidak ada dualisme kepemimpinan dan mengakui Agus Suparmanto sebagai satu-satunya Ketua Umum
- Keputusan ini diambil untuk mengakhiri kisruh internal
- Mahkamah Partai menyerukan seluruh kader untuk bersatu dan fokus pada konsolidasi demi target utama
Suara.com - Partai Persatuan Pembangunan (PPP) kembali di ambang perpecahan setelah Muktamar X yang berakhir ricuh melahirkan tiga klaim kepemimpinan. Di tengah ancaman "tiga matahari kembar", Mahkamah Partai akhirnya turun tangan, mencoba memadamkan api konflik dengan menegaskan hanya ada satu ketua umum yang sah.
Ketua Mahkamah PPP, Ade Irfan Pulungan, secara tegas menyatakan bahwa Agus Suparmanto adalah Ketua Umum PPP periode 2025-2030 yang diakui. Pihaknya menolak keras narasi adanya dualisme kepemimpinan yang bisa menghancurkan partai berlambang Ka'bah tersebut.
"Mahkamah meyakini tidak ada dualisme, kita harus melihat secara objektif," kata Ade Irfan Pulungan dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (25/9/2025).
Pernyataan ini menjadi jawaban atas kebingungan publik dan kader di akar rumput setelah Muktamar X yang digelar akhir September 2025. Pasca-muktamar, tiga nama besar yakni Mardiono, Agus Suparmanto, dan Husnan Bey Fananie yang sama-sama mengklaim diri sebagai ketua umum terpilih, memicu kekhawatiran akan terulangnya sejarah kelam perpecahan partai.
Ade Irfan menyayangkan terjadinya bentrokan antar simpatisan dan kader selama muktamar berlangsung. Ia meminta semua pihak untuk berpikir jernih dan mengesampingkan ego demi kepentingan yang lebih besar: menyelamatkan PPP dari jurang kehancuran dan mengembalikannya ke panggung politik nasional.
Fokus utama partai saat ini, menurutnya, bukanlah saling sikut berebut kekuasaan, melainkan konsolidasi total untuk menghadapi Pemilu Legislatif 2029. Targetnya jelas, PPP harus kembali lolos ke Senayan.
"Kami PPP tidak inginkan adanya cara pandang cara yang melihat ada perpecahan di antara PPP, perbedaan itu suatu rahmat. Namun, dalam kepentingan bagaimana kami membesarkan PPP, kami harus lihat jernih ke depan. Karena ini tantangan bagaimana kompetisi 2029 PPP bisa di Senayan, bisa warnai kancah politik nasional," tegas Ade Irfan sebagaimana dilansir Antara.
Dasar pengakuan Mahkamah Partai terhadap Agus Suparmanto adalah proses pemilihan dalam muktamar. Menurut Ade Irfan, Agus terpilih secara aklamasi oleh para muktamirin yang sah, yang terdiri dari perwakilan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) dan Dewan Pimpinan Cabang (DPC).
Dengan keyakinan penuh, ia berharap kepemimpinan baru ini dapat menjadi momentum kebangkitan partai.
Baca Juga: Agus Suparmanto Sah Pimpin PPP, Mahkamah Partai Bantah Dualisme Usai Muktamar X Ancol
"Hari ini PPP insyaallah di bawah kepemimpinan hasil Muktamar X Pak Agus Suparmanto mudah-mudahan ini cara Allah SWT untuk meninggikan derajat PPP agar PPP bisa tampil lebih baik di kancah politik nasional," katanya.
Kini, bola panas ada di tangan kubu Mardiono dan Husnan Bey Fananie. Apakah mereka akan menerima keputusan Mahkamah Partai atau justru melanjutkan perlawanan yang bisa membawa PPP ke babak konflik baru yang lebih destruktif.
Tag
Berita Terkait
-
Agus Suparmanto Sah Pimpin PPP, Mahkamah Partai Bantah Dualisme Usai Muktamar X Ancol
-
Soal Arahan Jokowi Dukung Prabowo-Gibran 2 Periode, Gus Yasin: PPP Selalu Sejalan dengan Pemerintah
-
Gus Yasin 'Sentil' Balik Kubu Mardiono: Aturan AD/ART Sudah Diubah di Muktamar!
-
PPP Memanas! Kubu Mardiono Klaim Duluan Daftar, Agus Suparmanto Tidak Sah Jadi Ketum?
-
Usai Muktamar Ricuh, Kubu Agus Suparmanto Ajak Mardiono Bergabung Demi Lolos Parlemen 2029
Terpopuler
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- 4 HP Motorola Harga Rp1 Jutaan, Baterai Jumbo hingga 7.000 mAh
Pilihan
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
-
Mandiri Tunas Finance Terancam Sanksi OJK Buntut Debt Collector Tusuk Advokat
Terkini
-
Minta Maaf ke Publik, Kapolri: Anggota Cederai Keadilan Akan Kami Tindak Tegas!
-
Polisi Tahan Ayah dan Anak Penganiaya Tetangga di Cengkareng, Terancam 7 Tahun Penjara
-
Ugal-ugalan dan Lawan Arus, Mobil Calya Diamuk Massa di Gunung Sahari
-
Golkar Dukung Langkah Sufmi Dasco Tunda Impor 105 Ribu Mobil Niaga India
-
Pasca-kecelakaan Beruntun, DPRD DKI Minta Transjakarta Evaluasi Penempatan Depot dan Jam Kerja Sopir
-
Sulap Kawasan Padat Jadi Destinasi Kuliner, Pemprov DKI Dukung Gentengisasi Menteng Tenggulun
-
Kemensos Gelar Operasi Katarak Gratis di Bekasi
-
Jelang Mudik Lebaran, Kapolri Minta Jajaran Maksimalkan Pengamanan Nasional
-
Polisi Turun Tangan Dalami Kasus Relawan Diteror Bangkai Anjing Tanpa Kepala di Aceh Tamiang
-
Adian Napitupulu Murka Ketua BEM UGM Diteror: Ini Kemunduran Demokrasi!