-
Penyegelan objek wisata oleh KLH di Puncak mengancam ekonomi lokal, mengakibatkan PHK setidaknya 2.300 karyawan.
-
Anggota DPR Mulyadi mengkritik keras tindakan KLH karena merusak iklim pariwisata dan investasi di Puncak Bogor.
-
Aksi penyegelan menimbulkan efek domino negatif, meliputi penurunan PAD, peningkatan pengangguran, dan masalah sosial.
Suara.com - Kawasan wisata Puncak, Kabupaten Bogor, yang selama puluhan tahun dikenal sebagai surga hijau dengan keindahan dan kelestarian alamnya, kini menghadapi ancaman serius terhadap denyut nadi ekonominya.
Sejak tahun 70-an, kawasan ini selalu menjadi destinasi wisata favorit baik bagi wisatawan nusantara maupun mancanegara, menawarkan pesona kebun teh, Gunung Mas, Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua, hingga keindahan air terjun yang memukau.
Namun, serangkaian tindakan penyegelan objek wisata oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) kini memicu kekhawatiran besar, mengancam mata pencarian ribuan warga dan iklim investasi pariwisata di Puncak Bogor.
Sektor pariwisata Puncak Bogor terus berkembang pesat, ditandai dengan menjamurnya berbagai objek wisata modern, restoran, hotel, dan tempat glamour camping (Glamping) yang menarik minat pengunjung.
Ribuan warga Kawasan Puncak menggantungkan kehidupan ekonominya dari sektor vital ini. Namun, harapan itu kini meredup.
Penyegelan belasan hingga puluhan objek wisata oleh Kementerian Lingkungan Hidup telah mengakibatkan efek domino yang menghantam keras perekonomian lokal.
Data dari Aliansi Masyarakat Bogor Selatan (AMBS) mengungkapkan angka yang memilukan, setidaknya 2.300 karyawan telah dirumahkan akibat terhentinya operasi sejumlah objek wisata tersebut.
Jumlah ini mencerminkan skala krisis yang sangat serius, menciptakan gelombang pengangguran baru dan memicu ketidakpastian masa depan bagi keluarga-keluarga di Puncak.
Merespons krisis yang melanda daerah pemilihannya, Anggota DPR RI dari daerah pemilihan (Dapil) Kabupaten Bogor, Mulyadi, menyatakan kegeramannya atas tindakan yang dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup.
Penyegelan, penghentian sementara, maupun pencabutan izin oleh KLH dinilai Mulyadi telah merusak iklim pariwisata dan investasi yang telah susah payah dibangun.
Baca Juga: 165 Kursi Komisaris BUMN Dikuasai Politisi, Anak Buah Prabowo Merajai
"Saya sangat geram dan marah terhadap Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq, tindakannya di Kawasan Puncak, telah mengganggu iklim wisata, investasi dan berakibat dirumahkannya ribuan pegawai akibat tempat kerjanya berhenti operasi," tegas Mulyadi kepada wartawan, Jumat, 3 September 2025.
Mulyadi, yang juga menjabat sebagai Anggota Dewan Pembina DPP Partai Gerindra, menerangkan bahwa langkah yang dilakukan oleh Menteri Hanif Faisol Nurofiq memiliki efek domino yang jauh lebih luas dan mengkhawatirkan.
"Efek dominonya tidak hanya jumlah kunjungan wisatawan di Kawasan Puncak yang menurun, tetapi juga mengurangi Pendapatan Asli Daerah (PAD), menambah jumlah pengangguran, tetapi juga kalau terlalu dibiarkan bisa menurunkan angka rata-rata lama sekolah dan meningkatkan angka kejahatan," terangnya.
Melihat situasi genting ini, Mulyadi berkomitmen untuk tidak tinggal diam. Ia menambahkan bahwa dalam waktu dekat, dirinya akan melakukan kegiatan reses bersama masyarakat Kawasan Puncak, terutama mereka yang hidupnya sangat bergantung dari sektor wisata.
"Tujuan saya reses di Kawasan Puncak, tentunya belanja permasalahan, menampung dan memperjuangkan aspirasi masyarakat Puncak," tambahnya.
Situasi di Puncak Bogor menjadi pengingat penting akan perlunya keseimbangan antara perlindungan lingkungan hidup dan keberlanjutan ekonomi masyarakat.
Kebijakan yang diambil harus mempertimbangkan secara matang dampak sosial dan ekonomi yang mungkin timbul, terutama di sektor padat karya seperti pariwisata.
Berita Terkait
-
165 Kursi Komisaris BUMN Dikuasai Politisi, Anak Buah Prabowo Merajai
-
Latar Belakang Yai Mim eks Dosen UIN Malang yang Viral, Ternyata Masih Keluarga Gus Iqdam
-
Intip Jumlah Kekayaan Dedi Mulyadi, Dapat Peringatan dari Prabowo saat Akad Massal KPR
-
Ingatkan KDM Jangan 'Brengsek!' Prabowo Kantongi Nama Kepala Daerah Petantang-Petenteng
-
20 Menit Parkir Kena Rp100 Ribu, Aksi Tukang Parkir di Bogor Viral
Terpopuler
- Film Pesta Babi Bercerita tentang Apa? Ini Sinopsis dan Maknanya
- Bantah Kepung Rumah dan Sandera Anak Ahmad Bahar, GRIB Jaya: Kami Datang Persuasif Mau Tabayun!
- Koperasi Merah Putih Viral, Terekam Ambil Stok dari Gudang Indomaret
- Profil Ahmad Bahar, Penulis 'Gibran The Next President' yang Rumahnya Digeruduk GRIB Jaya
- 4 HP RAM 12 GB Memori Besar Harga Rp2 Jutaan, Gaming dan Edit Video Lancar Jaya
Pilihan
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
Terkini
-
Menteri PPPA Serukan Perang Lawan Kekerasan: 1 dari 2 Anak Pernah Jadi Korban
-
Indonesia Harusnya Bisa Lobi Israel Bebaskan 9 WNI yang Ditangkap Karena Ini
-
Sebut Kelas Menengah Makin Rentan, Sosiolog UGM: Apabila Tak Diatasi Cepat, Dampaknya Akan Beruntun
-
Senjata Canggih Iran Siap Meledak Jika Donald Trump Nekat Perintahkan Pentagon Serang Teheran
-
Menlu Austria Ngamuk ke Anak Buah Benjamin Netanyahu: Perlakuannya Tidak Dapat Diterima!
-
Menteri PPPA Jadikan Keluarga Gus Dur Contoh Rumah Tangga Tanpa Kekerasan dan Bias Gender
-
Sudah Empat Hari, Kebakaran Gudang Plastik di Cengkareng Belum Tuntas Dipadamkan
-
TNI Kerahkan Pasukan dan Helikopter Buru OPM Usai 8 Pendulang Emas Dibunuh di Yahukimo
-
Bukan Sekadar Fiskal, Pimpinan DPD: Pidato Prabowo Ekspresi Nyata Ekonomi Pancasila
-
Rangkuman Lengkap Pidato Prabowo di Rapat Paripurna DPR RI 20 Mei 2026