-
- Laut Sangihe tercemar logam berat akibat aktivitas tambang emas yang meluas.
-
Penelitian menemukan kadar merkuri, arsen, dan timbal di atas batas aman.
-
Polnustar dan Greenpeace mendesak penghentian tambang dan pemulihan ekosistem.
Suara.com - Laut biru yang dulu menjadi sumber kehidupan bagi warga Pulau Sangihe kini berubah menjadi sumber kekhawatiran. Di balik ketenangan ombak, logam berat perlahan meracuni ikan-ikan yang selama ini menjadi penghasilan dan makanan pokok masyarakat.
Penelitian gabungan Politeknik Negeri Nusa Utara (Polnustar) dan Greenpeace Indonesia mengungkapkan adanya kadar merkuri, arsen, dan timbal di perairan pulau kecil ini yang telah melampaui batas aman.
Hasil laboratorium menunjukkan adanya senyawa metil merkuri, turunan merkuri yang sangat berbahaya karena dapat menyerang sistem saraf dan otak.
Para ahli memperingatkan bahwa anak-anak di Sangihe kini berisiko terpapar merkuri hingga empat kali lipat dari batas aman hanya dari kebiasaan makan ikan tangkapan.
“Kerusakan ini tidak lagi bersifat potensial, tetapi nyata, laut yang seharusnya menjadi sumber kehidupan kini berubah menjadi ancaman dan yang paling berisiko terkena adalah generasi masa depan,” ujar Prof. Dr. Ir. Frans G. Ijong, M.Sc, peneliti Polnustar.
Sangihe sejatinya adalah mutiara ekologi dunia karena letaknya di tengah segitiga terumbu karang global yang menjadi rumah bagi ribuan spesies laut. Wilayah ini diakui secara internasional sebagai Ecologically or Biologically Significant Areas (EBSAs).
Namun keistimewaan itu kini terancam oleh aktivitas pertambangan emas yang meluas tanpa kendali. Antara tahun 2015 hingga 2021, luas lahan tambang di Sangihe meningkat hingga 45,53 persen. Bukit hijau di pesisir kini menjadi hamparan tanah terbuka yang rawan longsor.
Saat hujan, material tambang yang mengandung logam berat mengalir ke laut, memperparah pencemaran.
Para peneliti menemukan kadar logam berat jauh di atas standar lingkungan. Arsen mencapai 0,0228 mg/L, hampir dua kali lipat dari batas aman, sementara timbal mencapai 0,0126 mg/L.
Baca Juga: KKP segel lahan reklamasi terminal khusus di Halmahera Timur
Padahal, berdasarkan dokumen AMDAL PT Tambang Mas Sangihe (TMS) tahun 2017, kadar arsen di wilayah itu masih di bawah 0,0003 mg/L. Perbedaan ini menunjukkan percepatan pencemaran yang luar biasa cepat.
Dampaknya kini terlihat jelas: mangrove mati, terumbu karang memutih, dan populasi ikan menurun drastis. Laporan EcoNusa bersama PKSPL IPB menunjukkan hasil tangkapan nelayan turun hingga 69,04 persen, dan pendapatan warga pesisir anjlok hingga 27,3 persen.
Ironisnya, sektor tambang yang digadang-gadang membawa kesejahteraan justru menambah kesenjangan. Banyak pekerja tambang tanpa kontrak kerja, tanpa perlindungan hukum, dan hidup dalam sistem bagi hasil yang merugikan.
Sementara nelayan harus bertahan dengan peralatan seadanya, bersaing dengan kapal besar yang memasang rumpon di laut yang sama. Laut yang dulu menjadi rumah kini menekan dari dua arah—dari industri tambang di darat dan eksploitasi di laut.
“Temuan ini adalah alarm keras,” ujar Afdillah, Juru Kampanye Laut Greenpeace Indonesia.
“Sangihe, sebuah pulau kecil dengan keanekaragaman hayati luar biasa, sedang menghadapi ancaman kerusakan lingkungan yang sistematis. Situasi ini memerlukan respons serius dari pemerintah untuk mencegah dampak yang lebih luas dan memulihkan kondisi yang sudah rusak.”
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Sepakat Saling Memaafkan, Aksi Saling Lapor Waketum PSI Berujung Damai
-
Wamendagri Ribka Haluk Tekankan Penguatan Peran MRP dalam Penyusunan RPP Perubahan Kedua PP 54/2004
-
Bukan Sekadar Pameran E-Voting, Wamendagri Minta Fasilitas Simulasi Pemilu Jadi Pusat Kebijakan
-
Wajah Baru Jakarta Menuju 5 Abad: Koridor Rasuna Said Jadi Pusat Diplomasi dan Budaya
-
Wamen PANRB Tegaskan Era Digital Butuh Pemimpin Visioner, Bukan Sekadar Manajer
-
Momen Haru Eks Wamenaker Noel Peluk Cium Putrinya usai Sidang: Ini yang Buat Saya Semangat
-
Korea Utara Tantang AS dan Sekutu: Jangan Atur-atur Kami Soal Nuklir
-
Sekarang Malu dan Menyesal Terima Uang Rp3 Miliar dan Ducati, Noel: Saya Minta Ampun Yang Mulia
-
Kapolri Sebut Penguatan Kompolnas Cukup Masuk di Revisi UU Polri, Tak Perlu UU Baru
-
Ahli Psikologi TNI Bongkar Profil 4 Penyiram Air Keras Andrie Yunus: Kemampuan Analisa Rendah