- Roy Suryo mengklaim 99,9% yakin ijazah Jokowi palsu setelah membandingkan salinannya dengan tiga ijazah lulusan UGM lain dari angkatan yang sama
- Ia menemukan adanya kejanggalan antara salinan ijazah dari KPU Pusat dan KPU DKI, terutama pada letak legalisasi dan nama pejabat yang menandatangani
- Roy Suryo kini menargetkan KPU Solo sebagai tujuan berikutnya, yang ia anggap sebagai sumber bukti paling krusial untuk membuktikan keaslian atau kepalsuan ijazah Jokowi
Suara.com - Pakar telematika Roy Suryo semakin gencar menyuarakan dugaannya terkait keaslian ijazah Presiden Joko Widodo (Jokowi). Setelah mengantongi dua salinan ijazah dari KPU Pusat dan KPU DKI Jakarta, Roy Suryo mengklaim telah menemukan bukti kuat yang mengarah pada kesimpulan bahwa ijazah tersebut palsu.
Keyakinan ini bahkan ia kuantifikasi dengan angka yang sangat tinggi, menandakan keseriusannya dalam menelisik dokumen krusial tersebut.
"Ini akan menjadi bukti sangat kuat bagi kami untuk meneruskan perjuangan kami karena apa yang ada di berkas ini adalah sama atau identik dengan yang sudah kami teliti dan kami berkesimpulan 99,9 persen ini (ijazah Jokowi) adalah palsu," ujar Roy Suryo di KPU DKI Jakarta, Senin (13/10/2025).
Dasar dari klaimnya adalah analisis mendalam terhadap struktur fotokopi ijazah yang ia dapatkan. Menurutnya, meski hanya salinan, detail seperti jarak dan posisi elemen pada dokumen tidak akan berubah. Ia menyoroti beberapa anomali spesifik yang ia temukan.
"Di sini sangat kelihatan bagaimana huruf Z agak ke atas dan huruf A keluar dari logo," katanya.
Temuan ini, kata Roy, menjadi janggal ketika dibandingkan dengan tiga ijazah pembanding milik rekan seangkatan Jokowi di Universitas Gadjah Mada (UGM).
Ia menyebut ijazah milik Frono Jiwo, almarhum Hari Mulyono, dan Sri Murtiningsih memiliki format yang identik satu sama lain, namun berbeda drastis dengan milik Jokowi.
"Jadi apakah masuk akal, apakah logis ketika 4 ijazah yang katanya sama-sama lulus pada 5 November 1985 itu ternyata yang tiga sama, yang satu berbeda," kata Roy Suryo.
"Jadi kalau yang satu berbeda itu pasti cetakannya berbeda pada hari yang berbeda, jadi itu 99,9 persen palsu," sambungnya.
Baca Juga: Dokter Tifa Syok Terima Ijazah Jokowi dari KPU: Tanda Tangan Rektor dan NIM Diblok Hitam
Perburuan Roy Suryo tidak berhenti di Jakarta. Ia mengaku belum puas dan kini mengincar salinan ijazah yang digunakan Jokowi saat mendaftar sebagai calon Wali Kota Solo pada 2005 dan 2010. Baginya, dokumen dari KPU Solo adalah kunci paling penting.
"Nanti yang (KPU) Solo itu yang sangat-sangat berpengaruh. Apakah yang Solo itu sama dengan ini atau beda. Jadi krusialnya di situ (KPU Solo)," ujar Roy Suryo.
Sebelumnya, ia telah menemukan perbedaan antara salinan ijazah yang digunakan untuk Pilpres 2019 (dari KPU Pusat) dan Pilgub DKI 2012 (dari KPU DKI).
"Antar ijazah pasti ada perbedaan pada legalisasinya. Yang KPU DKI legalisasinya ada di atas. Yang pusat dekannya bernama Budiadi, kalau yang DKI penandatangannya Profesor Niam, jadi beda namanya," jelasnya.
Total, Roy Suryo berencana mendatangi delapan lokasi untuk mengumpulkan semua salinan ijazah yang pernah digunakan Jokowi dalam kontestasi politik.
"Belum (puas) kan ini baru salah dua dari delapan. Kami mengajukan 8," ucap dia.
Berita Terkait
-
Dokter Tifa Syok Terima Ijazah Jokowi dari KPU: Tanda Tangan Rektor dan NIM Diblok Hitam
-
Peneliti BRIN Ungkap Demokrasi Sejati Adalah Saat Suara Rakyat Didengar, Bukan Hanya Dipilih
-
Jokowi Bicara Blak-blakan, Ungkap Perannya dalam Mendukung dan Bekerja Keras untuk PSI
-
Gelar SE dan MM Iriana Jokowi Dipermasalahkan, Dosan UMS Beri Kesaksian
-
Warisan Utang Proyek Jokowi Bikin Menkeu Purbaya Pusing: Untungnya ke Mereka, Susahnya ke Kita!
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
Terkini
-
Italia Tangguhkan Perjanjian Pertahanan dengan Israel, Ini Penyebabnya
-
BPKP Bongkar Borok Proyek Chromebook: Negara Rugi Rp2,1 Triliun, Ini Rinciannya
-
36 Jam Blokade AS, Laksamana CENTCOM Yakin Ekonomi Iran Mulai Lumpuh Perlahan
-
Pramono Tegur Keras Kasus Foto AI PPSU Kalisari: Jangan Lagi Kerja Asal Senangkan Atasan
-
SBY Soroti Risiko Ekonomi Dunia, Ekonom UMBY Ungkap Pertanda Sudah Muncul di Indonesia
-
Pusat Komando Militer: Tidak Ada Kapal yang Berhasil Melewati Blokade AS ke Pelabuhan Iran
-
Cengkeraman Iran di Selat Hormuz Makin Kuat saat Ada Blokade AS, Kenapa?
-
Blokade Selat Hormuz AS Paksa 6 Kapal Tanker Iran Putar Balik di Teluk Oman
-
Respons Arogansi AS, Iran Siapkan Metode Pertempuran Mematikan
-
Media Eropa-Asia: Jika Pesawat Perang AS Bebas di Udara Indonesia akan Ubah Peta Kekuatan Regional