- Garis polisi di musala SMA 72 Jakarta telah dicabut untuk membantu mengurangi trauma siswa setelah insiden ledakan.
- KPAI menegaskan fokus pendampingan psikologis bagi ratusan anak, termasuk yang masih dirawat, sudah pulang, maupun yang berada di lingkungan sekolah.
- Sebanyak 17 guru telah mendapat pendampingan, sementara 42 guru lainnya masih menunggu proses pemulihan psikologis.
Suara.com - Garis polisi yang sebelumnya melingkar di masjid SMA 72 Jakarta kini telah dilepas.
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Diyah Puspitarini mengatakan, garis polisi tersebut dilepas guna menghilangkan trauma anak.
“Hari ini kami melihat police line sudah dilepas, kemudian juga kondisi di musala sudah berubah, karena ini juga menghilangkan trauma anak,” katanya, usai meninjau lokasi, Minggu (9/11/2025).
Saat ini, lanjut Diyah, pihaknya masih berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait guna melakukan pendampingan terhadap anak-anak yang menjadi korban ledakan.
“Kegiatan koordinasi masih berlangsung, tetapi kami pastikan bahwa kami berfokus pada anak-anak yang menjadi korban,” jelasnya.
Pendampingan psikologis, kata Diyah, dinilai penting karena sesuai dengan Undang-undang perlindungan anak di pasal 59A.
“Proses harus cepat, proses memberikan bantuan secara medis, ataupun secara psikologis juga harus cepat,” katanya.
Sejak kemarin, lanjut Diyah, pihaknya telah memetakan anak-anak yang masih dalam perawatan.
“Kemudian anak-anak yang sudah pulang ke rumah dan juga anak-anak yang ada di sekitar, dan 780 anak lainnya. Semua harus mendapatkan pendampingan psikologis beserta guru,” katanya.
Baca Juga: Dua Korban Ledakan SMAN 72 Masih di ICU RSIJ, Salah Satunya Terduga Pelaku?
Tak hanya pihak siswa yang harus mendapat pendampingan psikologis, pihak guru pun perlu mendapatkannya.
Sejauh ini, sudah ada 17 orang guru yang mendapatkan pendampingan psikologis. Sementara 42 orang guru lainnya belum mendapatkannya.
“Guru juga harus mendapatkan pendampingan Psikologis, 17 guru sudah. Nah, sisanya masih ada total 42 guru, jadi sisanya juga harus mendapatkan pendampingan psikologis,” jelasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- Peta 30 Suara Mulai Terbaca, Munafri Unggul Sementara di Musda Golkar Sulsel
- Kehabisan Uang Usai Mudik di Jogja, Ratusan Perantau Berburu Program Balik Kerja Gratis
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 23 Maret 2026: Klaim THR, Diamond, dan SG2 Tengkorak
- Mobil Alphard Termurah, 100 Jutaan Dapat Tahun Berapa?
Pilihan
-
Kabais Dicopot Buntut Aksi Penyiraman Air Keras Terhadap Andrie Yunus
-
Puncak Arus Balik! 50 Ribu Orang Padati Jakarta, KAI Daop 1 Tebar Diskon Tiket 20 Persen
-
Arus Balik, Penumpang Asal Jawa Tengah Hingga Sumatera Masih Padati Terminal Bus Kalideres
-
Ogah Terjebak Kemacetan di Pantura, Ratusan Pemudik Motor Pilih Tidur di Kapal Perang TNI AL
-
Sempat Dikira Tidur, Pria di Depan Gedung HNSI Juanda Ternyata Sudah Tak Bernyawa
Terkini
-
Andrie Yunus Jalani Operasi Lanjutan, Dokter Fokus Selamatkan Bola Mata Kanan
-
Arus Lebaran 2026 Menguat, Tol GempolPasuruan Didominasi Pergerakan ke Arah Pasuruan
-
Optimalkan SDA untuk Kemandirian Nasional, Prabowo Pacu Hilirisasi dan Ketahanan Energi
-
Prabowo Dorong Reformasi TNI: Penegakan Hukum Internal Diperketat, Tak Ada Toleransi Pelanggaran!
-
Cerita Arus Balik: Syamsudin Trauma Macet 27 Jam di Jalan, Derris Pilih War Tiket Sejak H-45
-
Anak Durhaka! Kata-kata Sadis Remaja 18 Tahun Usai Bunuh Ibu Kandung
-
Akal Bulus Model Cantik Tipu Pria Kaya, Korban Merugi Sampai Rp3 Miliar
-
Dear Donald Trump! Ini Ada Ejekan dari Jubir Iran: Malu yah Kalah Perang
-
Kabais Dicopot Buntut Aksi Penyiraman Air Keras Terhadap Andrie Yunus
-
AS-Israel Lakukan Kejahatan Perang: 600 Sekolah Hancur, 66 Balita Iran Tewas