- Hasil uji laboratorium BGN secara definitif membuktikan bahwa kualitas air di 6 dari 7 lokasi SPPG di Bandung Barat memenuhi syarat dan bukan menjadi penyebab utama keracunan massal
- Penyebab utama insiden keracunan pertama pada September 2025 telah diidentifikasi berasal dari cemaran nitrit yang tinggi pada makanan (melon dan lotek), bukan pada air yang digunakan untuk memasak
- Untuk mencegah kejadian serupa, BGN mengeluarkan aturan tegas yang mewajibkan seluruh SPPG di Indonesia untuk memasak hidangan Makan Bergizi Gratis hanya menggunakan air kemasan galon yang telah tersertifikasi
Suara.com - Teka-teki penyebab insiden keracunan massal dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, akhirnya menemukan titik terang. Badan Gizi Nasional (BGN) secara resmi mengumumkan hasil uji laboratorium yang mematahkan dugaan publik selama ini: kualitas air bukanlah biang keladinya.
Melalui investigasi mendalam, BGN memastikan air yang digunakan di mayoritas lokasi penyelenggara makanan dalam kondisi aman dan layak konsumsi.
"Hasil temuan kami di lapangan yang terkonfirmasi dari hasil uji laboratorium, menunjukkan bahwa air yang digunakan pada enam Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Bandung Barat telah memenuhi syarat,” kata Ketua Tim Investigasi Independen BGN Arie Karimah Muhammad dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (11/11/2025).
Analisis komprehensif yang dilakukan oleh Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) Kabupaten Bandung Barat sejak 23 Oktober 2025 mencakup uji fisik, kimia, dan mikrobiologi. Hasilnya, air di enam SPPG—yakni SPPG Cipongkor Cijambu, Cipongkor Neglasari, Cisarua Jambudipa, Cisarua Pasirlangu, Lembang Kayu Ambon, dan Lembang Cibodas 2—dinyatakan bersih dari zat berbahaya dan memenuhi standar kesehatan.
"Jadi soal kualitas air bersih di enam SPPG itu sudah jelas, tidak perlu menjadi perdebatan lagi," ujar Arie sebagaimana dilansir Antara.
Meski begitu, investigasi menemukan satu pengecualian. Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa air yang digunakan di SPPG Cihampelas tidak memenuhi syarat karena adanya cemaran mangan, zat besi, serta bakteri Coliform.
Temuan ini menguatkan hasil investigasi sebelumnya pada insiden pertama 26 September 2025, yang menyimpulkan penyebab keracunan ratusan siswa berasal dari tingginya cemaran nitrit pada hidangan melon dan lotek, bukan dari air secara langsung.
Sebagai langkah antisipasi dan untuk menjamin keamanan tertinggi, BGN mengambil kebijakan tegas. Seluruh penyelenggara program diwajibkan menggunakan air minum kemasan galon yang terjamin kualitasnya.
"BGN tetap mewajibkan seluruh SPPG untuk memasak hidangan MBG dengan air dari kemasan galon yang telah tersertifikasi," tutur Arie.
Baca Juga: Anggur Hijau Terkontaminasi Sianida Terdeteksi di Menu MBG, DPR Soroti Pengawasan Impor Pangan
Sementara itu, dua kasus keracunan lain yang terjadi di SPPG Cisarua Jambudipa pada 14 Oktober 2025 dan SPPG Cisarua Pasirlangu pada 15 Oktober 2025 belum dapat dianalisis lebih lanjut.
"Dalam dua kasus ini insiden tidak bisa dianalisis lebih lanjut, karena tim investigasi independen tidak memperoleh data hasil uji laboratorium terhadap makanan yang disajikan," ujar Arie.
Berita Terkait
-
Berapa Lama Sashimi Aman di Suhu Ruang? Ketahui Supaya Tidak Berakhir Keracunan
-
Anggur Hijau Terkontaminasi Sianida Terdeteksi di Menu MBG, DPR Soroti Pengawasan Impor Pangan
-
Bukan dari Prabowo, Perempuan Ini Bagikan Momen Dapat 'MBG' dari BLACKPINK
-
Cak Imin Instruksikan BGN Gunakan Alat dan Bahan Pangan Lokal untuk MBG
-
Kades 'Geruduk' DPR, Minta Dilibatkan Ikut Kelola MBG ke Dasco
Terpopuler
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 8 Sunscreen di Indomaret untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 7 Pilihan HP Murah Terbaik Harga 1 Jutaan Juli 2026: NFC hingga Baterai 7000 mAh
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 2 Juli 2026, Ada Kuda hingga Anjing
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Pakar UGM: Wajar Publik Curiga Pengangkatan Komisaris BUMN karena Balas Jasa Politik
-
Kronologi Pertemuan Menhut dan Bupati Kuansing, Dari Amplop Sampai Alih Fungsi Hutan
-
Penguatan Fiskal hingga Digitalisasi Layanan Masuk 10 Rekomendasi untuk Kota di Indonesia
-
Bukan Provokasi, Boikot Pajak Dinilai jadi Hak Pembangkangan Sipil
-
Minta Bantuan Dana Parpol Naik, ICW Tantang Partai Buka Laporan Keuangan
-
Perludem Usul Sistem e-Banpol, Publik Bisa Pantau Penggunaan Dana Partai Secara Real-Time
-
Vonis Seumur Hidup untuk Priyo, Eksekutor Keji yang Habisi 5 Nyawa di Indramayu
-
Korban Penyekapan 3 Tahun Bakal Jalani Operasi Bertahap, Begini Kondisinya Kini
-
Bayar Rp200 Ribu Sebulan Bisa Naik Transjakarta Setiap Hari? Begini Skemanya
-
PBNU Masih Survei Lokasi Muktamar ke-35 NU, Persiapan Teknis Terus Dikebut