- Akibat sulitnya menciptakan lapangan kerja domestik, pemerintah dinilai cenderung memprioritaskan pengurangan angka pengangguran melalui cara tercepat.
- Dian menyebut pengiriman PMI akhirnya menjadi solusi jangka pendek yang logis bagi pemerintah.
- Ia mendesak pemerintah lebih aktif mempersulit mekanisme pemecatan karyawan agar gelombang pengangguran tidak semakin besar.
Suara.com - Pernyataan Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin baru-baru ini mengenai terbukanya peluang kerja di luar negeri membawa angin segar. Namun, di balik optimisme tersebut, tersimpan masalah mendasar dalam struktur ketenagakerjaan tanah air yang belum terurai.
Dosen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSdK) UGM, Dian Fatmawati, menilai fenomena ini bukan sekadar kabar baik, melainkan cerminan kondisi sosial-ekonomi dalam negeri.
Menurutnya, antusiasme pemerintah mendorong penempatan pekerja migran tak bisa dilepaskan dari stagnasi penciptaan lapangan kerja formal yang sudah lama menjangkiti Indonesia.
Kondisi ini diperparah dengan dominasi jumlah pekerja informal yang jauh lebih besar dibandingkan pekerja formal.
"Sebenarnya kalau di Indonesia itu, upaya untuk penciptaan lapangan kerja di informal employment sector, itu sebenarnya sudah dari dulu, itu kan rendah ya," kata Dian saat dihubungi Suara.com, Rabu (19/11/2025).
Akibat sulitnya menciptakan lapangan kerja domestik, pemerintah dinilai cenderung memprioritaskan pengurangan angka pengangguran melalui cara tercepat yang tersedia, salah satunya lewat penempatan Pekerja Migran Indonesia (PMI).
"Jadi memang segala upaya yang mungkin dilihat sebagai peluang kerja bagi masyarakat itu mungkin didorong," kata dia.
Gelombang pengangguran generasi muda dan badai PHK massal yang terjadi sejak awal 2025 menjadi pendorong kuat situasi ini.
Dian menyebut pengiriman PMI akhirnya menjadi solusi jangka pendek yang logis bagi pemerintah demi rapor kinerja.
Baca Juga: Tingkatkan Literasi Perlindungan Jaminan Sosial Pekerja, BPJS Ketenagakerjaan Gelar Acara Bedah Buku
"Mungkin bisa dilihat sebagai solusi jangka pendek juga ya, kalau pengiriman pekerja migran, karena yang seperti tadi awal saya sampaikan, soalnya KPI-nya pemerintah kan mengurangi pengangguran," ungkapnya.
Dian menganalisis bahwa peluang kerja di luar negeri meningkat signifikan karena faktor eksternal. Negara-negara maju seperti Jepang, Taiwan, Hong Kong, hingga Australia kini menghadapi aging population (penuaan penduduk) yang serius.
Penurunan angka kelahiran memaksa negara-negara tersebut membuka akses lebih mudah bagi tenaga kerja asing terampil untuk mengisi kekosongan tenaga kerja produktif.
Tak kalah penting adalah faktor disparitas upah. Masalah upah layak di Indonesia—seperti contoh kasus di Jogja dengan UMR rendah namun inflasi kebutuhan pokok tinggi—membuat tawaran gaji di luar negeri semakin menggiurkan.
Pentingnya Peta Jalan, Bukan Asal Kirim
Dian menekankan, jika pemerintah serius ingin memaksimalkan peluang ini, persiapan harus dilakukan secara matang. Strategi nasional tidak boleh berhenti pada pemetaan lowongan kerja, tetapi harus mencakup perlindungan keamanan, pemahaman hak, dan yang terpenting: pemetaan keterampilan (skill).
Berita Terkait
-
Menteri P2MI: Ada 352 Ribu Lowongan Kerja di Luar Negeri, Baru 20 Persen WNI yang Lamar
-
Cara Cek BSU BPJS Ketenagakerjaan Online Lewat JMO
-
Youth Economic Summit 2025 : Indonesia Tangkap Peluang Pekerjaan Baru untuk Kurangi Penganggur
-
Tingkatkan Literasi Perlindungan Jaminan Sosial Pekerja, BPJS Ketenagakerjaan Gelar Acara Bedah Buku
-
Pemerintah Bakal Kirim 500 Ribu TKI ke Luar Negeri Tahun Depan, Ini Syarat dan Sumber Rekrutmennya
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
- Sepeda Lipat Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Rekomendasi Terbaik untuk Gowes
Pilihan
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
-
Benjamin Netanyahu Resmi Diseret ke Pengadilan Duduk di Kursi Terdakwa
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
Terkini
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
-
Nostalgia Masa Kecil Rano Karno, Trem Bakal Hidup Lagi di Kawasan Kota Tua Jakarta
-
Pramono Bantah Isu IKJ Pindah ke Kota Tua, Siapkan Ruang Ekspresi Seni ala Amsterdam
-
Skandal Foto AI di JAKI: Kronologi hingga Pencopotan Lurah Kalisari
-
Polri Bongkar Kasus BBM dan LPG Subsidi, Boni Hargens: Respons Cepat Hadapi Krisis Energi Global
-
Meski Mudik 2026 Lebih Lancar, DPR Masih Temukan Masalah di Pelabuhan dan Rest Area Tol
-
Dubes Arab Saudi Temui Megawati, Minta Peran Aktif untuk Perdamaian Timur Tengah
-
Usulan BNN Soal Larangan Vape, DPR: Kalau Memang Ada Risetnya, Itu Bagus
-
Pimpin Revitalisasi Kawasan, Rano Karno Bakal Berkantor di Kota Tua
-
TAUD Ungkap Ada 16 Terduga Pelaku Sipil di Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus