News / Nasional
Selasa, 25 November 2025 | 23:06 WIB
Viral! Warga Malah Nonton Saat Gunung Semeru Luncurkan 'Abu Vulkanik Raksasa' di Jembatan Ini (X)
Baca 10 detik
  • Warga menonton guguran debu Semeru di Jembatan Besuk Kobokan, menuai kritik netizen.
  • Perilaku warga yang merekam erupsi dianggap ceroboh dan dibandingkan dengan paniknya erupsi Merapi 2010.
  • Netizen mengecam kerumunan di jembatan karena dinilai mengabaikan bahaya awan debu Semeru.

Suara.com - Sebuah video yang direkam di Jembatan Besuk Kobokan, jalur vital penghubung Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur mendadak viral di media sosial.

Dalam rekaman itu, warga terlihat berkerumun di atas jembatan, sebagian besar masih mengenakan helm dan masker, mulai dari anak-anak hingga lansia.

Mengejutkannya, di belakang mereka awan debu vulkanik pekat dari aktivitas tinggi Gunung Semeru tampak menggulung dengan cepat seperti dinding abu raksasa, menyelimuti Jembatan Besuk Kobokan. 

Gambar tersebut memperlihatkan suasana penuh ketegangan, motor-motor terjebak macet, warga saling berdesakan, dan beberapa lainnya justru tampak mengangkat ponsel untuk merekam momen berbahaya itu. 

Besuk Kobokan, yang biasa menjadi titik evakuasi dan jalur mobilitas utama, berubah menjadi ruang publik yang membuat banyak orang penasaran.

Namun yang paling menyedot perhatian bukan hanya kejadiannya, melainkan reaksi netizen yang menyoroti perubahan perilaku masyarakat saat menghadapi bencana.

Apalagi, lapisan debu di permukaan jalan saat itu membuat motor mudah tergelincir. Tapu sebagian warga justru berhenti untuk menonton dan merekam, memperparah kemacetan.

Bagi wilayah yang kerap berhadapan dengan ancaman awan panas dan lahar, situasi itu disebut warganet sebagai “perilaku yang bikin ngeri sendiri”.

Cuitan Viral: Dari Peringatan Bencana Jadi “Wahana Wisata”

Baca Juga: Disdik Turun Tangan, Bocah SD yang Viral Naik KRL Sendirian Bakal Pindah Sekolah

Akun X @mbokberek_ membagikan video tersebut dengan caption bernada satir. Ia menyebut, video itu diambil kemarin, Senin 24 November 2025.

“Wahana wisata baru orang kabupaten sebelah selatan Jawa Timur… Jaman erupsi Merapi 2010 dengerin radio balerante bunyi titttt panjang saja sudah harus siap lari, ini malah nonton,” kata dia.

Postingan itu langsung meledak, ditonton lebih dari 1,5 juta kali hanya dalam beberapa jam dan memicu diskusi panjang tentang budaya “menonton bencana”.

Berbagai komentar bernada kesal dan sinis mencuat di kolom tanggapan.

“Jaman dulu kalau bunyi sirine bencana buru-buru kabur supaya selamat. Jaman sekarang kalau ada bencana datang mikirnya: ‘Asyik ada bencana, bikin live konten ah, pasti FYP',” kata @ern****.

“Gk sekalian bawa ‘horeg adu kenceng’. Kali aja Mahameru denger jadi dimuntahin semua… lumayan kan IQ 58 berkurang,” ujar @and****.

“Dan mereka pulang ke rumah dengan bangga akan menceritakan kejadian ini sebagai peristiwa hampir mati bertemu wedus gembel,” tambah @ari****.

“Di video dokumenter erupsi Merapi 2010, orang-orang termasuk relawan keliatan banget paniknya pas ada luncuran awan panas. Lha ini malah jadi tontonan. Apa awan panasnya Semeru nggak seganas Merapi? Atau emang orang-orang itu pada punya ilmu kebal? Wkwkwk,” tulis @sho****.

Komentar-komentar tersebut menggambarkan kekhawatiran bahwa masyarakat kini lebih mementingkan konten viral daripada keselamatan diri.

Jalur Mulai Dibersihkan, Akses Berangsur Normal

Kementerian Pekerjaan Umum melalui BBPJN Jawa Timur–Bali bergerak cepat. Personel dan alat berat diturunkan untuk membersihkan jalan serta memastikan jembatan kembali aman dilalui.

Jalur nasional Lumajang–Malang kini mulai kembali normal, meski pemerintah tetap mengimbau warga untuk tidak mendekati aliran Besuk Kobokan saat aktivitas vulkanik meningkat.

Peristiwa ini kembali memunculkan fenomena yang sering dibicarakan, warga yang lebih memilih mendekat untuk merekam daripada menghindar. Padahal wilayah Besuk Kobokan merupakan salah satu zona yang paling rawan dilalui aliran awan panas Semeru.

Load More