News / Nasional
Kamis, 27 November 2025 | 17:36 WIB
Kuasa hukum pihak keluarga diplomat muda Kemlu RI, Arya Daru Pangayunan (ADP), Nicholay Aprilindo saat ditemui di Mapolda Metro Jaya, Rabu (26/11/2025). ANTARA/Ilham Kausar
Baca 10 detik
  • Keluarga diplomat ADP mendesak Polda Metro Jaya menaikkan status kasus kematian misterius ke tahap penyidikan.
  • Fakta baru terungkap: Almarhum check-in hotel bersama wanita berinisial V dan pria berinisial D.
  • Keluarga meminta transparansi penuh termasuk membuka semua privasi guna mengungkap penyebab pasti kematian ADP.

Suara.com - Kasus kematian misterius diplomat muda Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Arya Daru Pangayunan (ADP), memasuki babak baru yang semakin menarik perhatian publik.

Tim kuasa hukum keluarga secara mengejutkan mengungkap fakta bahwa almarhum pernah melakukan check-in di hotel bersama seorang wanita berinisial V.

Temuan ini menjadi pemicu desakan keras kepada Polda Metro Jaya untuk segera menaikkan status kasus dari penyelidikan ke tahap penyidikan.

Kuasa hukum keluarga ADP, Nicholay Aprilindo, menyatakan pihaknya telah menyampaikan informasi krusial ini dalam audiensi bersama Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya.

Menurutnya, peningkatan status hukum menjadi penyidikan adalah langkah vital untuk membuka tabir kejanggalan di balik wafatnya sang diplomat.

"Masukan-masukan kami kepada pihak penyelidik bahwa kami minta untuk kasus ini dinaikkan dalam tahap penyidikan," ujar Nicholay saat ditemui di Polda Metro Jaya, Rabu (26/11/2025).

Desakan tersebut bukan tanpa alasan. Pihak keluarga meyakini, dengan status penyidikan, aparat akan memiliki kewenangan lebih besar untuk melakukan upaya paksa, termasuk memeriksa secara mendalam individu-individu yang diduga terkait dengan momen-momen terakhir ADP.

Sebelum proses itu berjalan, Nicholay secara spesifik meminta agar dilakukan gelar perkara terlebih dahulu.

"Sebelum dinaikkan menjadi tahap penyidikan, lakukan gelar perkara," ujarnya sebagaimana dilansir Antara.

Baca Juga: Pengacara Ungkap Arya Daru Pangayunan Check In dengan Wanita V, Minta Kasus Naik Sidik

Ia mengaku mendapat informasi dari internal Polda Metro Jaya bahwa gelar perkara terkait kasus ini belum pernah dilaksanakan sama sekali. Padahal, forum tersebut esensial untuk mengevaluasi seluruh bukti dan keterangan yang ada secara komprehensif.

Fokus utama dari permintaan ini adalah untuk mendalami peran wanita berinisial V serta seorang pria berinisial D. Keduanya diketahui mendampingi almarhum sebelum ditemukan meninggal dunia.

"Yang jelas dikatakan itu bersama seorang wanita berinisial V, makanya kami minta untuk diperdalam pemeriksaan terhadap V," ungkap Nicholay.

"Demikian juga dengan inisial D. Kami minta diperdalam karena pada saat almarhum masih hidup itu didampingi oleh dua orang itu," tambahnya.

Informasi mengenai aktivitas check-in ini, menurut Nicholay, didapat dari keterangan tiga orang saksi, yakni resepsionis hotel, petugas keamanan, dan pihak penyedia jasa tiket. Data menunjukkan aktivitas tersebut terjadi berulang kali.

Keluarga Rela Privasi Dibuka Demi Keadilan

Di tengah munculnya detail kehidupan pribadi almarhum, pihak keluarga justru menunjukkan sikap terbuka. Mereka secara tegas meminta agar semua hal yang dianggap "privasi" oleh penyidik dibuka kepada publik.

Keluarga merasa tidak ada lagi yang perlu ditutup-tutupi demi menemukan titik terang penyebab kematian ADP. Sikap tegas ini disampaikan Nicholay, yang menyuarakan keinginan keluarga.

"Kalau ada dikatakan privasi, apa privasinya? Buka saja privasi, tidak perlu ditutup-tutupi, karena ini sudah menjadi rahasia umum," serunya.

"Sehingga kita bisa tahu penyebab kematian itu apa sebenarnya, Keluarga sudah memberitahu kepada kami bahwa buka saja privasi itu. Tidak perlu tutup-tutupi," sambung dia.

Keinginan untuk transparansi ini juga mencakup permintaan agar media massa dilibatkan dalam setiap proses, baik audiensi maupun gelar perkara.

Namun, permintaan ini sempat ditolak oleh pihak kepolisian dengan alasan masih bersifat informasi internal.

Kejanggalan yang Belum Terjawab

Arya Daru Pangayunan ditemukan tewas secara tidak wajar di kamar indekosnya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, pada 8 Juli 2025. Kondisinya saat ditemukan sangat mengenaskan, dengan wajah terbungkus plastik dan lakban.

Sejumlah kejanggalan menyelimuti lokasi kejadian. Meskipun kamar kos menggunakan sistem keamanan smart lock yang akses masuknya terkontrol, tidak ditemukan tanda-tanda kerusakan atau kekacauan yang signifikan.

Hal ini memunculkan spekulasi dan keraguan besar dari pihak keluarga dan publik mengenai narasi bunuh diri yang sempat disimpulkan oleh polisi.

Keraguan ini diperkuat oleh fakta bahwa ADP disebut sedang dalam kondisi bahagia karena akan segera memulai penugasan baru di luar negeri.

Muncul pula dugaan bahwa kematiannya terkait dengan informasi sensitif yang mungkin ia ketahui sebagai seorang diplomat.

Polda Metro Jaya sebelumnya telah mengundang keluarga untuk audiensi guna memberikan penjelasan akhir hasil penyelidikan pada Rabu, namun pihak keluarga berhalangan hadir karena kondisi kesehatan.

"Ayahanda almarhum, Pak Suharyono, berhalangan karena kondisi kesehatannya dan istrinya juga mengalami sakit dan juga belum stabil, maka mereka tidak bisa hadir," jelas Nicholay.

Load More