News / Metropolitan
Kamis, 27 November 2025 | 22:10 WIB
Petugas Kepolisian melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) korban penculikan dan pembunuhan, Alvaro Kiano Nugroho (6) di lokasi kejadian tepatnya Jembatan Cilalay, Tenjo, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (26/11/2025). ANTARA/HO-Polsek Pesanggrahan.
Baca 10 detik
  • Alvaro Kiano Nugroho (6) meninggal akibat kekerasan oleh penculik Alex Iskandar (49) karena rewel menagih janji mainan.
  • Pelaku menyembunyikan jasad korban di garasi, lalu membuangnya di bawah jembatan Cilalay, Bogor, Jawa Barat setelah tiga hari.
  • Kasus terungkap setelah keponakan pelaku menceritakan kejadian itu kepada teman sekelas, memicu laporan ke kepolisian setempat.

Suara.com - Tabir kelam yang menyelimuti nasib tragis Alvaro Kiano Nugroho (6) akhirnya tersingkap. Kepolisian berhasil mengungkap serangkaian kekerasan brutal yang dialami bocah malang tersebut di tangan penculiknya, Alex Iskandar (49), sebelum jasadnya ditemukan dalam kondisi mengenaskan hanya tinggal kerangka di dalam kantong plastik.

Sebuah tangisan karena rindu pulang dan rengekan menagih janji mainan menjadi pemicu aksi keji yang tak terbayangkan. Alvaro, yang terus-menerus rewel, membuat Alex gelap mata. Kekerasan pun menjadi jawaban atas kepanikan pelaku.

"Karena AKN ini rewel dan nangis ingin pulang dan mainan yang dijanjikan itu tidak kunjung ada, belum dibeli. Dari situ AKN dibekap dengan handuk yang tergantung dan juga dicekik serta ditindih," ungkap Kapolres Metro Jakarta Selatan, Kombes Polisi Nicolas Ary Lilipaly, dalam keterangannya kepada wartawan di Jakarta, Kamis (27/11/2025).

Dalam cengkeraman maut itu, perjuangan hidup Alvaro harus berakhir. Menurut Nicolas, tindakan biadab tersebut berlangsung cepat dan mematikan.

"Dalam waktu kurang lebih tiga menit, korban AKN ini tidak bergerak lagi," katanya.

Kepanikan seketika melanda Alex di kediamannya di Tangerang. Alih-alih menyesali perbuatannya, ia justru sibuk menyusun rencana untuk menghilangkan jejak kejahatannya.

Otaknya bekerja cepat mencari cara menyingkirkan jasad mungil yang sudah tak bernyawa itu.

"Akhirnya dia putuskan untuk keluar untuk mencari kantong plastik sampah hitam yang besar itu, kembali ke rumah, dan diikat supaya bisa dimasukkan dengan baik di dalam kantong plastik hitam itu," jelas Nicolas.

Sandiwara Pelaku dan Upaya Menghilangkan Jejak

Baca Juga: Rencana Kubur Gagal, Ketakutan yang Memuncak: Ini Jejak Gelap Alex Tutupi Kematian Alvaro

Jasad Alvaro yang telah terbungkus rapat dalam plastik hitam kemudian disembunyikan di garasi rumah pelaku.

Untuk mengelabui siapa pun yang mungkin curiga, Alex menutupi bungkusan tersebut dengan mobilnya. Selama tiga hari, jasad itu teronggok di sana, menjadi saksi bisu kekejaman yang telah terjadi.

Merasa tempat itu tidak lagi aman, Alex memindahkan jasad korban. Dengan bantuan beberapa orang suruhan, ia membuang kantong plastik berisi jasad Alvaro di bawah jembatan Cilalay, Tenjo, Bogor, Jawa Barat.

Sebuah alibi licik pun disiapkannya. Ketika ada yang mencium bau busuk dari bungkusan tersebut, Alex dengan enteng menyebutnya sebagai bangkai anjing.

Tidak berhenti di situ, Alex bahkan memainkan sandiwara yang sempurna. Ia berpura-pura prihatin dan turut serta bersama keluarga dalam upaya pencarian Alvaro yang dilaporkan hilang sejak 6 Maret 2025. Selama delapan bulan, ia berhasil mengelabui keluarga dan aparat.

Pihak kepolisian sendiri telah melakukan penyelidikan intensif. Pencarian dilakukan ke berbagai lokasi, mulai dari Batam, Bandung, Sukabumi, hingga Cianjur.

Polisi bahkan sempat memeriksa ayah kandung korban yang berada di LP Cipinang, namun hasilnya nihil.

Terbongkar dari Cerita di Sekolah

Misteri ini mulai menemukan titik terang dari sumber yang tak terduga. Keponakan Alex, yang diduga mengetahui kejadian mengerikan itu, akhirnya tidak sanggup lagi menyimpan rahasia. Ia menceritakan peristiwa tersebut kepada teman sekelasnya, N.

Secara kebetulan, N adalah anak dari seorang asisten rumah tangga (ART) berinisial I, yang bekerja di rumah saksi pelapor, Muhammad Reza (46).

Cerita dari mulut ke mulut itu akhirnya sampai ke telinga Reza. Tanpa menunggu lama, Reza segera melaporkan informasi krusial tersebut ke Polsek Pesanggrahan.

Laporan inilah yang menjadi kunci pembuka kotak pandora. Kolaborasi apik antara Polsek Pesanggrahan, Polres Metro Jakarta Selatan, dan Polda Metro Jaya, yang didukung oleh keterangan saksi-saksi serta pelaksanaan pra-rekonstruksi, akhirnya berhasil mengarahkan semua bukti kepada Alex sebagai pelaku utama. Sandiwaranya selama delapan bulan pun runtuh.

Load More