- Kejaksaan Agung mengeksekusi Meirizka Widjaja ke Lapas Pondok Bambu atas suap hakim demi loloskan anaknya.
- Meirizka divonis tiga tahun penjara dan denda Rp500 juta karena terbukti menyuap hakim Pengadilan Negeri Surabaya.
- Zarof Ricar, makelar kasus yang terlibat, akan segera menyusul dieksekusi ke Lapas Salemba dengan vonis 18 tahun.
Suara.com - Upaya seorang ibu untuk membebaskan anaknya dari jerat hukum berakhir di balik jeruji besi. Kejaksaan Agung (Kejagung) telah resmi mengeksekusi Meirizka Widjaja, ibu dari Ronald Tannur, yang menjadi terpidana dalam skandal pemufakatan jahat untuk meloloskan anaknya dari kasus pembunuhan.
Meirizka kini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya menyuap hakim di Pengadilan Negeri Surabaya demi mendapatkan vonis bebas untuk Ronald Tannur.
Perjuangannya yang menempuh jalur ilegal itu kini membawanya ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Pondok Bambu, Jakarta Timur.
Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Anang Supriatna, mengonfirmasi bahwa eksekusi terhadap Meirizka telah dilaksanakan dengan cepat pasca putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap.
“Sudah dieksekusi satu minggu setelah putusan. Meriska sudah dieksekusi oleh Jaksa eksekutor Kejari Jakarta Pusat,” kata Kapuspenkum Kejagung, Anang Supriatna, di Kantornya, Jumat (5/12/2025).
Sementara itu, otak sekaligus makelar dalam kasus suap ini, Zarof Ricar, juga akan segera menyusul Meirizka untuk menjalani hukumannya. Menurut Anang, eksekusi terhadap Zarof telah dijadwalkan dalam waktu dekat.
“Kalau yang Zarof, belum, minggu depan,” katanya.
Kejagung telah menetapkan lokasi penjara untuk kedua terpidana. Meirizka akan menjalani masa hukumannya di fasilitas khusus wanita, sementara Zarof akan ditempatkan di lapas yang berbeda.
“Meirizka di Pondok Bambu, Zarof di Salemba rencananya,” ujar Anang.
Baca Juga: Skandal Suap Vonis Lepas CPO: Panitera Dituntut 12 Tahun, Ungkap Peran Penghubung Rp60 Miliar!
Dalam putusannya, majelis hakim memvonis Meirizka dengan hukuman 3 tahun penjara dan denda sebesar Rp500 juta.
Vonis ini lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang sebelumnya meminta Meirizka dihukum 4 tahun penjara karena terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi dengan memberikan sesuatu kepada hakim.
Nasib lebih berat dialami oleh Zarof Ricar. Hukumannya justru diperberat menjadi 18 tahun penjara setelah mengajukan banding di Pengadilan Tinggi Jakarta.
Sebelumnya, di tingkat pertama Pengadilan Negeri Tipikor Jakarta, makelar kasus kakap ini "hanya" divonis 16 tahun penjara.
Sosok Zarof Ricar disebut-sebut sebagai wajah kelam dalam dunia peradilan di Indonesia. Mantan petinggi Mahkamah Agung ini diketahui telah lama malang melintang sebagai makelar kasus, menghubungkan pihak berperkara dengan oknum aparat penegak hukum.
Skala permainan Zarof terungkap dari barang bukti yang berhasil disita oleh penyidik. Dari brankas di ruang kerjanya, ditemukan uang tunai senilai Rp915 miliar dan emas batangan seberat 51 kilogram, sebuah bukti fantastis yang menunjukkan betapa masifnya praktik mafia peradilan yang ia jalankan.
Berita Terkait
-
Skandal Suap Vonis Lepas CPO: Panitera Dituntut 12 Tahun, Ungkap Peran Penghubung Rp60 Miliar!
-
Hakim CPO Divonis Lepas, Kini Dituntut 12 Tahun Bui! Skandal Suap Terungkap?
-
'Skema Mafia' Terbongkar: Rp 40 Miliar Digelontorkan untuk 'Beli' Vonis Lepas Korupsi CPO
-
Jejak 'Uang Haram' Zarof Ricar Terendus, Aset Baru Rp 35 M Atas Nama Anak Ikut Disita
-
Eks Ketua PN Surabaya Divonis 7 Tahun: Terbukti Jual Perkara Ronald Tannur, Terima Suap Rp 21 Miliar
Terpopuler
- Mulai Tahun Ini Warga RI Mulai Frustasi Hadapi Kondisi Ekonomi, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
- Apakah Habis Pakai Cushion Perlu Pakai Bedak? Ini 5 Rekomendasi Cushion SPF 50
- 34 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 20 Januari: Sikat TOTY 115-117 dan 20.000 Gems
- Deretan Mobil Bekas 80 Jutaan Punya Mesin Awet dan Bandel untuk Pemakaian Lama
- Jadwal M7 Mobile Legends Knockout Terbaru: AE di Upper, ONIC Cuma Punya 1 Nyawa
Pilihan
-
Rumor Panas Eks AC Milan ke Persib, Bobotoh Bersuara: Bojan Lebih Tahu Kebutuhan Tim
-
Ekonomi Tak Jelas, Gaji Rendah, Warga Jogja Berjuang untuk Hidup
-
Rebut Hadiah Berlimpah! Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel Jadi Penggerak Potensi Daerah
-
ASEAN Para Games 2025: Nurfendi Persembahkan Emas Pertama untuk Indonesia
-
Perbedaan Jaring-jaring Kubus dan Balok, Lengkap dengan Gambar
Terkini
-
Jakarta Dikepung Cuaca Ekstrem, Pemprov DKI Imbau Perusahaan Terapkan WFH
-
Prabowonomics Menggema di WEF Davos 2026: Dari Danantara, MBG, hingga Efisiensi Anggaran
-
Tawuran Subuh di Bekasi Tewaskan Mahasiswa, Dua Pembacok Dibekuk Polisi
-
Banjir Masih Menggenang, Daftar Rute Transjakarta yang Setop Operasi dan Dialihkan Pagi Ini
-
Usai Pidato di Davos, Prabowo Lanjut 'Nongkrong' dan Ngopi Bareng Menteri di Paviliun Indonesia
-
Jakarta Terkepung Banjir, Disdik DKI Resmi Berhentikan Sekolah Tatap Muka Sementara
-
Lagi! Pandji Pragiwaksono Dipolisikan ke Polda Metro, Kali Ini Soal Analogi Salat di Materi Mens Rea
-
Longsor Terjang Jagakarsa, Dua Rumah Rusak dan Harta Benda Hanyut ke Kali
-
Jakarta Masih Dikepung Banjir, 125 RT dan 14 Ruas Jalan Tergenang, Ratusan Warga Mengungsi
-
Tantang Pihak-pihak yang Berani Suap Pejabat, Prabowo Wanti-wanti Ada Akibatnya