- MABT Ketapang menolak tegas aksi anarkis dan kekerasan yang terjadi baru-baru ini melibatkan aparat keamanan setempat.
- Ketua MABT, Susilo Aheng, mendesak penegakan hukum yang profesional untuk menyelesaikan persoalan secara adil dan transparan.
- MABT mengimbau masyarakat tidak mengaitkan insiden tersebut secara keliru dengan komunitas Tionghoa lokal secara umum.
Suara.com - Insiden dugaan penyerangan terhadap petugas keamanan dan anggota TNI di kawasan pertambangan emas PT Sultan Rafli Mandiri (SRM), Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, memicu perhatian berbagai pihak, termasuk otoritas keimigrasian dan tokoh masyarakat Tionghoa setempat.
Kepala Kantor Imigrasi Ketapang, Benny Septiyadi, menyatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan aparat keamanan menyusul peristiwa yang melibatkan tenaga kerja asing (TKA) asal China tersebut.
Imigrasi, kata dia, saat ini masih melakukan pendalaman bersama aparat penegak hukum (APH) sambil menunggu hasil penanganan dari TNI dan Polri.
“Kami sudah melakukan komunikasi dengan aparat keamanan. Saat ini masih dilakukan pendalaman bersama APH. Untuk penanganan pidananya, itu menjadi kewenangan Polri karena peristiwa ini menyangkut pelanggaran ketertiban umum,” ujar Benny kepada Suara Ketapang, Senin (15/12/2025).
Berdasarkan data Imigrasi Ketapang, terdapat 30 TKA asal China yang tercatat bekerja di PT SRM. Mayoritas memegang izin tinggal terbatas (ITAS) dengan masa berlaku sekitar satu tahun, meski ada pula yang hanya enam hingga tujuh bulan, menyesuaikan kebutuhan kerja perusahaan.
“Rata-rata izin tinggal terbatasnya satu tahun, tergantung RPTKA. Ada juga yang enam bulan atau tujuh bulan, menyesuaikan kebutuhan kerja,” jelasnya.
Benny menegaskan, secara administratif keberadaan para WNA tersebut sejauh ini sesuai dengan izin keimigrasian yang dimiliki. Namun, Imigrasi masih mendalami pihak-pihak yang terlibat langsung dalam insiden penyerangan.
“Yang melakukan penyerangan itu siapa, yang mana, ini yang masih kami dalami,” katanya.
Peristiwa tersebut terjadi pada Minggu (14/12/2025) sore di Desa Pemuatan Batu, Kecamatan Tumbang Titi. Sebanyak 15 WNA asal China diduga terlibat dalam aksi penyerangan terhadap petugas keamanan PT SRM, yang juga melibatkan lima anggota TNI yang tengah melaksanakan latihan dasar satuan (LDS) di sekitar lokasi tambang.
Baca Juga: Imigrasi Dalami Penyerangan 15 WNA China Bersenjata Tajam hingga Alat Setrum di Tambang Emas Kalbar
Chief Security PT SRM, Imran Kurniawan, membenarkan insiden tersebut. Ia menyebut kejadian bermula saat petugas keamanan mendeteksi aktivitas penerbangan drone di area perusahaan sekitar pukul 15.30 WIB. Upaya pengejaran terhadap operator drone kemudian dilakukan bersama anggota TNI.
Sekitar 300 meter dari pintu masuk kawasan tambang, petugas menemukan empat WNA yang diduga menerbangkan drone. Situasi berubah tegang ketika sebelas WNA lainnya tiba di lokasi dan diduga melakukan penyerangan.
“Mereka membawa senjata tajam, airsoft gun, serta alat setrum. Karena kalah jumlah dan untuk menghindari benturan lebih lanjut, petugas langsung menyelamatkan diri ke dalam area perusahaan,” kata Imran.
Akibat kejadian tersebut, satu unit mobil dan satu sepeda motor milik perusahaan mengalami kerusakan berat. “Dalam kejadian itu, satu unit mobil dan satu sepeda motor milik perusahaan mengalami kerusakan berat akibat aksi penyerangan oleh WN China,” ujar Imran.
Pihak perusahaan juga telah mengamankan satu bilah senjata tajam yang diduga digunakan dalam insiden tersebut sebagai barang bukti. Hingga kini, motif penerbangan drone maupun aksi penyerangan masih belum diketahui.
Kapolsek Tumbang Titi, Iptu Made Adyana, membenarkan adanya insiden tersebut. Meski demikian, ia menyatakan bahwa hingga Minggu malam belum ada laporan resmi yang masuk ke kepolisian.
Berita Terkait
-
Imigrasi Dalami Penyerangan 15 WNA China Bersenjata Tajam hingga Alat Setrum di Tambang Emas Kalbar
-
Bersenjata Tajam hingga Alat Setrum, 15 WNA China Serang TNI di Kawasan Tambang Emas Ketapang
-
Prabowo Bongkar Keterlibatan Oknum TNI-Polri dalam Tambang Ilegal dan Penyelundupan
-
Viral Prajurit TNI Makan Mie Beralaskan Kardus Bekas Disela-sela Penyelamatan Korban Banjir Sumatra
-
Revolusi Digital GM FKPPI: Kaderisasi Kini Berbasis AI, Fokus Cetak Kualitas
Terpopuler
- Daftar Prodi Berpotensi Ditutup Imbas Fokus Industri Strategis Nasional
- Promo Alfamart Hari Ini 30 April 2026, Tebus Suka Suka Diskon 60 Persen
- 5 Rekomendasi HP POCO RAM Besar dan Kamera Bagus, Cek di Sini!
- 7 Cushion Wudhu Friendly dengan Hasil Flawless Seharian, RIngan dan Aman di Kulit
- Heboh Lagi, Ahmad Dhani Klaim Punya Bukti Perselingkuhan Maia Estianty dengan Petinggi Stasiun TV
Pilihan
-
10 Spot Wisata Paling Hits di Solo 2026: Paduan Sempurna Budaya, Estetika, dan Gaya Hidup Modern!
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
-
Mantan Istri Andre Taulany Dilaporkan ke Polisi, Diduga Aniaya Karyawan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
Terkini
-
Kabar Duka dari Tanah Suci: Calon Haji Asal Bengkulu Wafat Usai Beribadah di Masjid Nabawi
-
101 Terduga Perusuh May Day Dipulangkan, Polda Metro Jaya Kini Buru Aktor Intelektual dan Pendana
-
Kedok Pekerja Migran, Imigrasi Gagalkan Keberangkatan 42 Calon Haji Ilegal di Bandara Soetta
-
Irma Suryani Ingatkan DPR Tak Ulangi Kesalahan UU Cipta Kerja dalam Pembahasan RUU Ketenagakerjaan
-
Iran Kirim Proposal Negosiasi Baru, Trump Malah Siapkan Pasukan Darat di Selat Hormuz
-
Biaya Perang Iran Tembus Rp1600 T, Warga AS Bayar Mahal: Rp8 Juta per Bulan per Rumah
-
Pentagon Dituding Bohong! Biaya Perang AS vs Iran Tembus Rp1.600 Triliun
-
Balas Ancaman Trump, Panglima Militer Tegaskan Jari Tentara Iran Sudah di Pelatuk
-
Geger! Hacker 15 Tahun Bobol Basis Data Nasional, Pemerintah Prancis Kelimpungan
-
Sempat Bikin Geger, Kini Amien Rais Hapus Video Fitnah yang Singgung Prabowo dan Seskab Teddy