- Rocky Gerung mengamati evaluasi publik terhadap Presiden Prabowo menuntut kepemimpinan otentik dan jujur.
- Masyarakat mengharapkan iklim politik sehat serta persaingan terbuka dan adil menjelang kontestasi 2029.
- Kritik netizen merupakan alarm agar Prabowo tampil otentik tanpa bayang-bayang manipulasi pemilu.
Suara.com - Pengamat politik Rocky Gerung kembali menyampaikan analisis kritisnya terkait dinamika politik nasional melalui kanal YouTube Rocky Gerung Official. Kali ini, ia menyoroti bagaimana gelombang evaluasi dari publik—mulai dari netizen hingga jurnalis—kian menyatu menjadi tuntutan besar akan kepemimpinan yang jujur dan otentik di bawah Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Rocky, sorotan publik saat ini telah melampaui persoalan individu atau jabatan tertentu. Evaluasi tersebut, kata dia, mencerminkan harapan agar Presiden Prabowo mampu melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalu yang dianggap manipulatif dan menunjukkan kejujuran politik secara utuh.
“Bahwa pada akhirnya wacana evaluasi netizen, evaluasi jurnalis bahkan, itu mulai menyatu di dalam satu paket pikiran, yaitu yang bermasalah bukan sekadar wakil presidennya yang disebut fufufafa, tapi juga presidennya akhirnya kan Pak Prabowo itu kita mesti terima itu sebagai kejujuran evaluasi dari mereka yang menginginkan ada satu sikap yang sungguh-sungguh otentik dari Presiden,” ujar Rocky Gerung, dikutip Selasa (23/12/2025).
Rocky menilai masyarakat mendambakan iklim politik yang sehat, di mana kompetisi kepemimpinan ke depan tidak lagi dikunci oleh kepentingan tertentu. Ia menekankan pentingnya ruang demokrasi yang terbuka dan adil, terutama menjelang kontestasi politik 2029.
“Sikap yang memungkinkan netizen merasa bahwa di 2029 persaingan akan betul-betul terbuka secara demokratis,” lanjutnya.
Lebih jauh, Rocky menegaskan bahwa kualitas demokrasi semestinya diukur dari sejauh mana ruang bagi generasi muda dibuka untuk berkompetisi secara sehat melalui gagasan dan kapasitas.
“Persaingan yang didasarkan pada kapasitas dari masing-masing anak muda untuk duel secara politis secara argumentatif di 2029,” tegas Rocky.
Pesimisme Anak Muda dan Bayang-bayang Manipulasi
Namun demikian, Rocky mengungkapkan kegelisahannya terhadap kondisi politik saat ini yang justru memunculkan pesimisme di kalangan anak muda. Ia melihat adanya kekhawatiran bahwa jalur kepemimpinan nasional telah dimanipulasi sejak awal, sehingga meruntuhkan semangat generasi muda untuk terlibat aktif dalam politik.
Baca Juga: Kebun Sawit di Papua: Janji Swasembada Energi Prabowo yang Penuh Risiko?
“Nah, sekarang itu yang tidak ada tuh anak-anak muda ini pesimis bahwa buat apa mereka belajar politik? Buat apa mereka sungguh-sungguh ingin jadi pemimpin? Kalau dari awal gap-nya sudah terbentuk, bahkan keinginan mereka untuk saling memanfaatkan kemampuan dan menguji dari sekarang, akhirnya patah karena menganggap bahwa toh nanti di 2029 seseorang yang sekarang kedudukannya sebagai wakil presiden akan dieluk-elukkan dengan cara yang manipulatif untuk jadi presiden,” jelasnya.
Kritik Netizen sebagai Alarm Demokrasi
Dalam pandangan Rocky, kritik yang dilayangkan netizen terhadap Presiden Prabowo seharusnya dipahami sebagai masukan yang objektif dan jujur, bukan sebagai bentuk kebencian personal.
“Jadi kita mesti fair mengatakan bahwa kritik dari netizen terhadap Presiden Prabowo juga ada kritik yang jujur,” katanya.
Ia menegaskan, kritik tersebut lahir dari harapan agar Presiden Prabowo mampu tampil sebagai pemimpin yang benar-benar bersih dan tidak terus dibayangi oleh apa yang ia sebut sebagai “karat konstitusi”, akibat proses pemilu yang dinilai bermasalah sejak di Mahkamah Konstitusi.
“Bukan karena mereka membenci Presiden Prabowo, tapi mereka ingin supaya Presiden Prabowo itu terlihat sebagai pemimpin yang otentik, yang tidak dibayang-bayangi oleh semacam bukan sekadar kecelakaan, tapi manipulasi pemilu yang dimulai dari Mahkamah Konstitusi yang mengakibatkan orang akhirnya menganggap bahwa oke yang kita pilih akhirnya tidak mampu untuk membersihkan diri dari bukan sekadar racun dari karat boleh kita sebut karat konstitusi,” papar Rocky.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
PAM Jaya Siapkan Ribuan Toren Gratis, Warga Jakarta Diminta Tak Tunggu Kemarau Datang
-
Kerry Dibebani Rp13,4 Triliun, Pengacara Sebut Hakim Pakai Analisis LSM yang Tak Berwenang
-
Putusan Banding Dianggap Janggal, Kerry Riza Ajukan Kasasi ke MA
-
Kepercayaan Polri Tembus 82,4 Persen, Habiburokhman: Jangan Puas Diri, Terus Berbenah
-
Prabowo Tanya Akademisi: Kenapa 81 Tahun RI Tidak Bisa Bikin Mobil Buatan Sendiri?
-
Sikat Parkir Liar di Cawang, 250 Personel Gabungan Derek Mobil yang Nekat Bandel!
-
Perempuan Didorong Jadi Aktor Utama Ekonomi Restoratif, Tak Lagi Sekadar Penerima Manfaat
-
Terkuak! Ini Pemicu Longsor Petamburan: Dari Abrasi Kali BKB hingga Bangunan di Sempadan
-
Sekjen Partai Buruh Ferri Nuzarli Mundur! 1,3 Juta Anggota ORI Kompak Tinggalkan Partai
-
Prabowo Singgung Kegaduhan Usai Pemilu, Istana Langsung Klarifikasi