- Korea Utara mengutuk serangan AS di Venezuela yang menyebabkan penangkapan Presiden Maduro sebagai pelanggaran hukum internasional.
- Pyongyang menilai tindakan Amerika Serikat merupakan hegemoni, campur tangan langsung, dan ancaman serius bagi stabilitas kawasan.
- Kementerian Luar Negeri Korut mendesak komunitas internasional menolak tegas kebijakan koersif Washington terhadap kedaulatan negara lain.
Suara.com - Korea Utara menyampaikan kecaman keras terhadap serangan militer Amerika Serikat di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro. Pyongyang menilai langkah Washington sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan ancaman nyata bagi stabilitas kawasan.
Dalam laporan kantor berita resmi KCNA pada Minggu (4/1), Kementerian Luar Negeri Korea Utara menyebut tindakan Amerika Serikat sebagai bentuk hegemoni dan campur tangan terang-terangan terhadap kedaulatan negara lain. Pyongyang menilai eskalasi yang terjadi di Venezuela tidak dapat dilepaskan dari tekanan dan paksaan yang dilakukan Washington.
Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Korea Utara menyatakan pihaknya memahami kompleksitas situasi yang tengah dihadapi Venezuela, namun menegaskan bahwa akar persoalan berasal dari kebijakan koersif Amerika Serikat. Pyongyang juga memperingatkan bahwa ketidakstabilan yang terus meningkat berpotensi memperparah kondisi regional yang sudah rapuh.
"Insiden ini menjadi contoh lain dari sifat jahat dan biadab Amerika Serikat, sifat yang telah disaksikan oleh komunitas internasional berkali-kali selama bertahun-tahun," kata kementerian tersebut seperti dikutip dari Antara, Senin (5/1/2026).
Korea Utara menilai serangan AS sebagai bentuk pelanggaran paling serius terhadap kedaulatan negara, sekaligus bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan hukum internasional.
Pyongyang menggambarkan tindakan AS itu sebagai "hegemoni" dan bentuk "pelanggaran" kedaulatan yang paling serius, menyebutnya sebagai "pelanggaran mencolok" terhadap Piagam PBB dan hukum internasional, yang prinsip-prinsip dasarnya meliputi penghormatan terhadap kedaulatan, tidak campur tangan dalam urusan internal, dan integritas wilayah.
Lebih lanjut, Korea Utara mendesak komunitas internasional untuk tidak tinggal diam dan secara terbuka menyuarakan penolakan terhadap tindakan Amerika Serikat. Pyongyang menilai krisis Venezuela telah membawa dampak buruk tidak hanya bagi kawasan Amerika Latin, tetapi juga terhadap hubungan internasional secara luas.
Sebelumnya, pemerintah Venezuela pada Sabtu pagi (3/1) melaporkan bahwa Amerika Serikat menyerang sejumlah instalasi sipil dan militer di beberapa negara bagian. Menyusul serangan tersebut, Caracas menetapkan keadaan darurat nasional.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kemudian mengonfirmasi operasi militer tersebut sebagai serangan “berskala besar”. Ia menyatakan bahwa Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya telah ditangkap dan diterbangkan keluar negeri, sebelum dibawa ke pusat penahanan di New York.
Baca Juga: China soal Serangan AS ke Venezuela: Tak Ada Negara yang Berhak Jadi 'Polisi Dunia'
Serangan tersebut terjadi setelah berbulan-bulan meningkatnya tekanan Amerika Serikat terhadap pemerintahan Maduro. Washington menuduh pemimpin Venezuela itu terlibat dalam perdagangan narkoba, tuduhan yang telah dibantah oleh Maduro, yang sebelumnya juga menyatakan kesiapan untuk membuka jalur dialog.
Berita Terkait
-
China soal Serangan AS ke Venezuela: Tak Ada Negara yang Berhak Jadi 'Polisi Dunia'
-
Trump Bantah Militer AS Serang Kuba: Tidak Ada Rencana dalam Waktu Dekat
-
Trump Kudeta Venezuela, Harga Minyak Dunia Bisa Melejit?
-
Kisah Tragis Timnas Venezuela: Kalah, Dirombak, dan Dipolitisasi
-
Mendunia, Spesifikasi Pesawat 'Buatan Indonesia' yang Dipakai AS dalam Operasi Senyap di Venezuela
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
- 25 Kode Redeem FF Aktif 5 Juli 2026: Kesempatan Dapat Bundle BR Elite dan Item Premium
Pilihan
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
Terkini
-
Marak Pencurian Besi Lagi di Jakarta, Pramono Ancam Cabut KJP hingga Tak Cairkan Bansos Pelaku
-
Terpaksa Harus Naik, Biaya Haji 2027 Diusulkan Jadi Rp107 Juta
-
Siasat Licik Pengedar Sabu di Bekasi: Sembunyikan Barang Haram dalam Bungkus Pakan Burung
-
Pelibatan Taruna di Sekolah Rakyat Tuai Kritik, Dinilai Tak Tepat untuk Bentuk Karakter Siswa
-
Jelang MPLS 2026/2027, Gus Ipul Beri Pembekalan kepada 191 Sekolah Rakyat
-
Prabowo dan Narendra Modi Sambangi Candi Prambanan, PM India Dijadwalkan Beribadah
-
Menteri Imipas Buka Suara soal Usulan Napi Penerima Amnesti Wajib Ikut Komcad
-
Demo Pendukung MBG Digelar Hari Ini, 1.686 Personel Gabungan Turun Mengamankan
-
KPK Jangan Melempem! Usut Tuntas Skandal Amplop Menhut Raja Juli di Kasus Suap Hutan Kuansing
-
DPRD DKI Nilai Tarif Transjakarta Naik Jadi Rp 5.000 Masih Wajar, Ini Alasannya