- Densus 88 Polri fokus menangkal paham radikal Neo-Nazi yang kini menjadi tren baru di kalangan pemuda Indonesia.
- Sebanyak 70 anak di Indonesia terpapar paham Neo-Nazi akibat kurangnya filterisasi konten global oleh negara.
- Paham ini, berdasar teori Charles Darwin, memicu dehumanisasi terhadap kelompok yang dianggap tidak superior atau terafiliasi.
Suara.com - Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri belakangan sedang konsen menangkal paham radikal Neo-Nazi.
Meski paham tersebut tergolong sudah cukup lama, namun ideologi tersebut belakangan menjadi tren baru di kalangan anak muda Indonesia.
Salah satu contoh kasus yang sempat menggemparkan akibat terpapar paham radikal yakni ledakan yang terjadi di SMA 72 Jakarta. Kemudian, pihak Densus juga sempat menciduk anak dari Garut yang disinyalir terindikasi terpapar paham tersebut.
Juru Bicara Densus 88, Kombes Mayndra Eka Wardhana, mengatakan maraknya anak-anak di Indonesia terpapar paham tersebut lantaran kurangnya filterisasi negara.
“Karena akses global kemudian terbuka dan memang tidak, apa namanya, tidak ter-cover oleh filter yang ada di negara kita,” kata Mayndra di Mabes Polri, Rabu (7/1/2025).
Akibat lolosnya konten-konten tersebut, tren kekerasan bahkan aksi terorisme yang dilakukan para remaja semakin masif.
Pasalnya, setelah menyebarluaskan tontonan soal paham Neo-Nazi, beberapa video juga mengajak para pemuda untuk ikut dalam paham tersebut.
Berdasarkan data, terdapat 70 anak dari beberapa wilayah di Indonesia yang terpapar paham Neo-Nazi.
“Kalau di YouTube, kemudian ada narasinya di bawah itu, ya itu kan di deskripsinya kemudian mereka bikin link, misalnya,” ujarnya.
Baca Juga: 5 Cara Mengatasi Krisis Etika Remaja di Era Digital
“Jadi setelah nonton itu, ‘ayo bergabung dengan True Crime Community’, dia klik link itu lalu dia masuk, ya salah satunya seperti itu,” imbuhnya.
Paham Neo-Nazi, lanjut Mayndra, memang sudah cukup lama berkembang di Eropa, Amerika, dan Rusia yang berbasis pada identitas ras.
“Tapi memang tidak kita pungkiri ada beberapa orang yang tidak identik dengan ras-ras tersebut juga menganut seperti tadi, di dalam helmnya pelaku dari Rusia ya ada ‘Natural Selection’,” ujarnya.
“Kita kalau lihat senjatanya ABH yang melakukan insiden di SMAN 72 itu juga ada ‘Natural Selection’,” imbuhnya.
Mayndra menyebut, jika ditarik dari teori Charles Darwin, arti dari natural selection yakni orang atau makhluk yang paling mampu beradaptasi adalah yang superior. Sehingga ada anggapan bahwa superioritas itu memicu proses dehumanisasi.
“Orang-orang yang tidak terafiliasi dengan kelompoknya dianggap bukan manusia, makanya dengan serta-merta terjadi kekejian-kekejian itu. Nah, ini yang menjadi driving force dari paham tersebut. Walaupun itu ideologi lama, tapi kita lihat ada metamorfosis dari geolokasi yang berbeda,” tandasnya.
Berita Terkait
-
5 Cara Mengatasi Krisis Etika Remaja di Era Digital
-
Malam Tahun Baru Memanas, Tawuran Remaja Nyaris Meletus di Flyover Klender
-
Lebih dari Sekadar Kebiasaan: Bahaya Kecanduan Scrolling bagi Kesehatan Mental Remaja
-
Densus 88: Ideologi Neo Nazi dan White Supremacy Menyasar Anak Lewat Game Online!
-
Ulasan Drama Always Home: Perjalanan Tumbuh Perlahan
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Bupati Kulon Progo Hapus Logo Geblek Renteng hingga Wajibkan Sekolah Pasang Foto Kepala Daerah
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Desa di Kebumen Ini Ubah Limbah Jadi Rupiah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
Pilihan
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
-
Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
-
Jadwal Buka Puasa Bandar Lampung 21 Februari 2026: Waktu Magrib & Salat Isya Hari Ini
-
Siswa Madrasah Tewas usai Diduga Dipukul Helm Oknum Brimob di Kota Tual Maluku
Terkini
-
Komisi VIII DPR RI Awasi Langsung Penyaluran PKH dan Sembako di Batam
-
Diskon Tiket KA Lebaran 2026 Masih Tersedia, KAI Daop 6 Imbau Warga Segera Pesan
-
Ketua MPR Soroti Kasus Bripda MS Aniaya Anak Hingga Tewas di Tual: Harus Jadi Pelajaran!
-
Pakar UI: Indonesia Wajib Waspada 'Akal Bulus' Israel di Balik Rekonstruksi Gaza dalam BoP
-
Rocky Gerung: Perjanjian Dagang Prabowo-Trump 'Menghina Indonesia'!
-
Anggota Brimob Aniaya Anak hingga Tewas di Tual, Menteri PPPA Turun Tangan: Sedang Koordinasi
-
Bripda MS Aniaya Anak Hingga Tewas, Yusril: Sungguh di Luar Perikemanusiaan
-
Sound Horeg dan Perang Sarung Dilarang Keras Selama Ramadan di Ponorogo, Apa Sanksinya?
-
Berbagi Piring Persaudaraan, Kala Ribuan Orang Menyemut Jadi Keluarga Masjid Jogokariyan
-
Pelajar SMA Aceh Barat Dikeroyok Oknum TNI, Praktisi Hukum Desak Pengadilan Militer